Proyek baterai kendaraan listrik senilai $3.5 miliar antara Samsung SDI dan General Motors kini berada dalam masa paling tidak pasti. Rencana pembangunan fasilitas bersama di New Carlisle, Indiana, dilaporkan ditangguhkan saat GM meninjau ulang strategi kendaraan listriknya.
Jeda ini menjadi sorotan karena menyentuh dua tekanan besar sekaligus. Di satu sisi, permintaan mobil listrik sedang melambat, dan di sisi lain, produsen mobil global mulai mengubah arah investasi serta skema kerja sama baterai.
Tekanan pasar dan perubahan arah GM
Menurut Korea JoongAng Daily, Samsung SDI dan GM sedang mengeksplorasi beberapa opsi untuk masa depan proyek itu. Salah satu kemungkinan yang muncul adalah perubahan teknologi baterai, dengan GM disebut mungkin menginginkan baterai lithium iron phosphate atau LFP.
Langkah peninjauan ulang ini tidak berdiri sendiri. GM saat ini juga mengevaluasi kapasitas EV dan jejak manufakturnya agar lebih sesuai dengan kondisi pasar.
Penyesuaian tersebut berkaitan dengan permintaan konsumen yang lebih lemah dari perkiraan. Insentif EV yang lebih rendah di Amerika Serikat juga ikut menekan kalkulasi bisnis dan investasi produsen otomotif.
Bagi Samsung SDI, situasinya menambah tekanan pada bisnis baterai. Perusahaan asal Korea Selatan itu sebelumnya sudah menghadapi kerugian di lini baterai, yang terutama dipicu oleh lesunya permintaan kendaraan listrik.
Proyek yang semula disiapkan untuk kapasitas besar
Dalam rencana awal, fasilitas di Indiana itu akan menjadi pabrik baterai bersama Samsung SDI dan GM. Produksi massal semula ditargetkan mulai pada musim gugur 2027.
Samsung SDI diproyeksikan mampu menghasilkan kapasitas baterai tahunan hingga 36 gigawatt-jam. Volume itu disebut cukup untuk memasok sekitar 300.000 kendaraan listrik per tahun.
Kini, ketidakpastian proyek tersebut memunculkan beberapa kemungkinan. Kerja sama bisa berlanjut dalam bentuk awal, didesain ulang mengikuti kebutuhan baru GM, atau berakhir jika GM memilih keluar dari usaha patungan.
Penundaan ini juga menunjukkan risiko yang lebih luas bagi pemasok baterai. Ketika produsen mobil memperlambat ekspansi atau meninjau ulang rencana elektrifikasi, proyek industri bernilai besar ikut terkena dampaknya.
Bayang-bayang langkah GM sebelumnya
Kemungkinan GM keluar dari proyek ini dinilai bukan hal yang mustahil. Tahun lalu, GM mengambil langkah serupa terkait pabrik baterai ketiga di Michigan.
Proyek Michigan itu merupakan usaha patungan 50:50 dengan LG Energy Solution melalui Ultium Cells. Dalam kasus tersebut, GM menjual seluruh kepemilikannya di Ultium Cells kepada LG Energy Solution seharga $2.14 miliar.
Preseden itu membuat pasar memandang proyek Samsung SDI-GM dengan perhatian lebih besar. Jika pola serupa terulang, arah investasi baterai di Amerika Serikat bisa bergeser lagi, dari model joint venture menuju pendekatan yang lebih fleksibel.
Di tengah perubahan itu, produsen mobil global juga berupaya merebut kembali kontrol lebih besar atas perencanaan produksi dan belanja modal. Akibatnya, sebagian perusahaan mulai menjaga jarak dari skema usaha patungan baterai yang sebelumnya dianggap penting untuk mempercepat transisi EV.
Apa yang dipertaruhkan dari penundaan ini
Penundaan proyek di Indiana memperlihatkan bahwa pilihan teknologi kini menjadi faktor yang sangat menentukan. Jika GM mendorong peralihan ke LFP, desain proyek, rantai pasok, dan skema investasinya bisa ikut berubah.
Perubahan semacam itu juga akan memengaruhi peran masing-masing mitra dalam usaha patungan. Pada tahap ini, belum ada kepastian apakah proyek akan dilanjutkan, dirombak, atau dihentikan.
Yang jelas, fasilitas yang semula disiapkan untuk menopang ratusan ribu EV per tahun kini masuk fase evaluasi. Kondisi ini memperlihatkan seberapa cepat strategi elektrifikasi bisa bergeser ketika permintaan pasar, insentif, dan perhitungan biaya tidak lagi sejalan dengan rencana awal.
Source: sammyguru.com






