Sal Priadi Ubah Keresahan Kerja Jadi Lagu, Ditulis Langsung Di Lokasi Syuting

Sal Priadi mengubah keresahan soal kerja berulang menjadi lagu yang kini menyedot perhatian publik lewat “Kepala, Pundak, Kerja Lagi”. Video liriknya sudah ditonton lebih dari 2,5 juta kali, sementara lagu ini juga dipilih menjadi original soundtrack film Monster Pabrik Rambut.

Yang membuat lagu ini menonjol bukan hanya karena terhubung dengan film, tetapi juga karena Sal keluar dari pola musikal yang selama ini akrab dengan nuansa romantis dan melankolis. Ia justru mengangkat tema overwork, lembur, dan penat kerja yang terasa dekat dengan keseharian banyak orang.

Dari keresahan sehari-hari ke lirik lagu

Sal menjelaskan bahwa ide awal lagu itu lahir dari pengamatan terhadap rutinitas harian. Ia menangkap tema kerja berlebihan sebagai sesuatu yang sangat dekat, lalu menerjemahkannya ke dalam lirik dengan pendekatan khas dirinya.

“Liriknya sesuatu yang aku tangkap dari keseharian. Tema di film Monster Pabrik Rambut itu kan juga membahas soal overwork, lembur, sesuatu yang sangat dekat sekali,” kata Sal dalam keterangan tertulisnya. Dari sana, lagu ini tumbuh sebagai cerminan pengalaman orang-orang yang terus berputar dalam siklus kerja.

Penggalan lirik yang mengingatkan pada masa kanak-kanak juga memberi lapisan emosi yang berbeda. Alih-alih terasa ringan, lagu ini justru membawa nuansa lebih suram dan reflektif saat berbicara tentang dunia kerja.

Bentuk musikal yang dibuat berbeda

Selama ini, banyak karya Sal lahir dari tuts piano atau petikan gitar. Untuk “Kepala, Pundak, Kerja Lagi”, ia memilih jalur lain dengan berkolaborasi bersama Attila Syah dalam membangun soundscape bernuansa elektronik.

Perubahan pendekatan itu membuat warna lagu terasa lebih luas secara tekstur musik. Nuansa tersebut mendukung tema kelelahan, tekanan, dan siklus kerja yang terus berulang dalam cerita yang ingin dibangun.

Ditulis langsung di lokasi syuting

Salah satu hal yang paling menandai proses kreatif lagu ini adalah tempat penulisannya. Untuk pertama kalinya, Sal menulis lagu langsung di lokasi syuting film Monster Pabrik Rambut.

Ia menyebut pengalaman itu berbeda dari proyek tema film lain yang pernah ia kerjakan. Menurut Sal, proses tersebut terasa “dahsyat” karena ia menulis sambil mendalami karakter di tengah jalannya produksi.

Keterlibatan langsung di lokasi syuting membuat lagu ini menyatu dengan atmosfer film. Hasilnya, karya tersebut tidak hanya berdiri sebagai lagu tema, tetapi juga sebagai bagian dari cara film membangun suasana.

Menjadi anthem untuk para pekerja

Lahir dari proses yang menyatu dengan syuting dan tema film, lagu ini membawa kesan seperti marching song yang merepresentasikan solidaritas para pekerja. Lirik dan suasananya merekam tekanan pekerjaan, budaya overwork, dan rutinitas yang terasa tak putus.

Sal berharap lagu ini bisa menjadi semacam “anthem lembur” yang mudah diterima pendengar. Dengan tema yang dekat dengan kehidupan banyak orang, lagu tersebut juga diposisikan sebagai cermin pengalaman kerja sehari-hari.

Di saat yang sama, sambutan awal publik terlihat cukup kuat. Video lirik “Kepala, Pundak, Kerja Lagi” sudah menembus lebih dari 2,5 juta views, memperlihatkan bahwa tema yang diangkatnya menemukan resonansi luas.

Bagian penting dalam Monster Pabrik Rambut

Lagu ini disiapkan bukan sekadar sebagai pelengkap promosi film. Kehadirannya dirancang untuk memperkuat suasana cerita dan memberi lapisan emosi pada adegan-adegan tertentu saat muncul di layar.

Sal juga tampil sebagai pemain dalam film tersebut dan beradu akting dengan Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, dan Kev. Film garapan sutradara Edwin dan produksi Palari Films itu dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.

Cerita Monster Pabrik Rambut berpusat pada Putri yang harus bekerja di pabrik rambut setelah sang ibu meninggal mendadak. Di tengah duka itu, adiknya, Ida, percaya kematian sang ibu terkait hal-hal mistis, lalu keyakinan itu menyeret keduanya ke rangkaian peristiwa ganjil.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait