Rupiah Pernah Tembus Rp18.000, Strategi Baru Indonesia Mulai Menahan Guncangan

Author: Cung Media

Gejolak geopolitik di Timur Tengah sempat memberi tekanan nyata pada pasar keuangan Indonesia. Rupiah bahkan pernah menyentuh Rp18.000 per dolar AS, sementara IHSG ikut terkoreksi saat investor memilih keluar dari aset berisiko.

Pergerakan itu kini mulai berbalik. Rupiah kembali menguat ke kisaran Rp17.682 hingga Rp17.708 per dolar AS, sedangkan IHSG bergerak lagi ke level 6.200 hingga 6.300.

Tekanan global menguji pasar domestik

Sentimen risiko yang meningkat membuat aliran modal keluar sempat menguat dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut menekan nilai tukar dan memicu aksi jual di pasar saham domestik.

Gejolak ini menunjukkan bahwa pasar negara berkembang masih sangat sensitif terhadap perkembangan eksternal. Indonesia menjadi salah satu yang ikut merasakan dampaknya ketika ketidakpastian di Timur Tengah meningkat.

Bauran kebijakan jadi penopang utama

Respons cepat lintas otoritas kemudian menjadi faktor penting dalam meredakan tekanan. Kepercayaan investor global mulai pulih karena langkah yang diambil dinilai menunjukkan determinasi kuat menjaga stabilitas nasional.

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50 persen untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1 persen. Di sisi lain, pemerintah menjalankan kebijakan fiskal yang lebih terukur agar stabilitas tetap terjaga tanpa mematikan momentum pertumbuhan.

Kombinasi moneter dan fiskal itu diposisikan sebagai penyangga utama saat tekanan eksternal meningkat. Pemerintah dan Bank Indonesia juga menilai gejolak internasional tidak bisa dihadapi dengan retorika, melainkan dengan sinergi kebijakan yang kredibel, konsisten, dan responsif.

Langkah di pasar valas dan arus dana

Di pasar valuta asing, Bank Indonesia menyesuaikan batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung hingga 50 ribu dolar AS per pelaku pasar per bulan. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasar dan memperkuat ketahanan sektor keuangan.

Bank Indonesia juga menaikkan struktur imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan. Tujuannya adalah menarik kembali dana global agar masuk ke aset rupiah.

Di sisi lain, perjanjian dengan China yang dilakukan pekan lalu menambah fleksibilitas likuiditas di dalam negeri. Langkah itu juga dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap dolar AS.

Pemerintah turut memperketat aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN dan melanjutkan program hilirisasi komoditas strategis. Arah kebijakan ini dipakai untuk memagari cadangan devisa domestik dan mengurangi gangguan dari rantai pasok global.

Minat investor mulai kembali

Efek stabilisasi mulai terlihat di pasar pendanaan. Penerbitan global bond perdana Danantara mencatat permintaan yang melampaui target awal.

Minat investor dari Amerika Serikat dan Eropa juga tinggi, yang menandakan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia masih terjaga meski tekanan global belum hilang.

Bank Indonesia tetap aktif melakukan intervensi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF. Langkah itu didukung kepastian regulasi serta insentif fiskal pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar.

Tantangan belum benar-benar reda

Meski rupiah menguat dan saham pulih, pekerjaan rumah ekonomi nasional belum selesai. Agenda transformasi industri, stabilitas harga pangan, dan target pertumbuhan berkelanjutan masih membutuhkan pengelolaan yang hati-hati.

Koordinasi erat antara pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai otoritas ekonomi tetap menjadi fondasi penting. Di tengah risiko global yang masih dapat berubah cepat, disiplin kebijakan dan penguatan fundamental domestik akan menentukan arah rupiah berikutnya.

Terbaru