Rupiah Menguat ke Rp18.065, Cadangan Devisa Juni Jadi Tameng Saat Pasar Menahan Napas

Rupiah ditutup menguat ke level Rp18.065 per dolar AS pada perdagangan Jumat (10/7), setelah sempat berada di bawah tekanan sentimen global yang berubah cepat. Kenaikan 63 poin atau 0,35% itu memberi ruang napas baru, tetapi arah berikutnya masih sangat bergantung pada data inflasi inti Amerika Serikat.

Di balik penguatan tersebut, pasar melihat cadangan devisa Indonesia yang masih memadai sebagai penyangga utama. Komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar juga ikut menjaga kepercayaan pelaku pasar di tengah risiko eksternal yang belum mereda.

Cadangan Devisa Masih Menjadi Penopang

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyebut cadangan devisa menjadi faktor penting yang meredam tekanan pasar. Berdasarkan data terbaru, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 naik menjadi 145,6 miliar dolar AS dari 144,9 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.

“Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat,” ujar Amru kepada Antara, Jumat (10/7).

Kenaikan cadangan devisa itu memberi ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga pasar tetap tenang ketika risiko eksternal meningkat. Dalam situasi seperti ini, kapasitas penyangga ekonomi dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan jangka pendek.

Pasar Menunggu Inflasi Inti AS

Meski rupiah menutup perdagangan dengan penguatan, perhatian pelaku pasar kini bergeser ke rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama inflasi inti atau Core CPI. Data ini dipandang sebagai petunjuk utama arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.

Jika inflasi inti AS lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed berpotensi kembali menguat. Kondisi itu bisa menekan rupiah karena dolar AS cenderung mendapat dukungan lebih besar.

Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, dolar AS berpeluang melemah dan memberi ruang bagi penguatan rupiah. Karena itu, pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada hasil data tersebut.

Risiko Global Belum Hilang

Selain inflasi AS, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan itu dapat memengaruhi harga minyak dunia dan meningkatkan minat terhadap aset safe haven.

Arus modal asing dan langkah stabilisasi Bank Indonesia juga tetap menjadi faktor kunci dalam jangka pendek. Di sisi lain, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini turut menguat ke Rp18.069 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.090 per dolar AS.

IndikatorNilaiKeterangan
Kurs rupiah penutupanRp18.065 per dolar ASMenguat 63 poin atau 0,35%
Cadangan devisa akhir Juni 2026145,6 miliar dolar ASNaik dari 144,9 miliar dolar AS
JISDOR BIRp18.069 per dolar ASNaik dari Rp18.090 per dolar AS
Perkiraan pergerakan sepekanRp18.000-Rp18.128Masih dibatasi sentimen eksternal

Untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp18.000 hingga Rp18.128 per dolar AS. Arah pergerakan berikutnya akan ditentukan oleh data ekonomi AS, respons pasar global, dan langkah stabilisasi Bank Indonesia.

Source: mediaindonesia.com
Terkait