Rp12,6 Triliun Untuk Memoles Citra, Israel Hadapi Dukungan Global Yang Kian Merosot

Author: Cung Media

Pemerintah Israel dilaporkan menggelontorkan US$730 juta atau sekitar Rp12,67 triliun untuk memperbaiki citranya di ruang publik global. Langkah itu muncul saat dukungan terhadap Israel menurun di sejumlah survei, terutama di Amerika Serikat yang selama ini menjadi sekutu terpentingnya.

Dalam jajak pendapat Pew Research Center yang dirilis awal bulan ini, 60 persen warga Amerika memandang Israel secara negatif. Angka itu naik tujuh poin dalam setahun, sementara hanya 37 persen yang menilai positif.

Anggaran yang melonjak tajam

Knesset pada Maret lalu menyetujui anggaran tersebut untuk tahun 2026, menurut laporan yang dikutip dari The Times of Israel. Besarnya sekitar lima kali lipat dari anggaran tahun sebelumnya yang berada di angka US$150 juta.

Di Israel, kebijakan ini dikenal sebagai “Hasbara”, istilah untuk diplomasi publik yang bertujuan membentuk persepsi internasional. Di media sosial, istilah itu juga sering dipakai secara merendahkan untuk kampanye pro-Israel yang dinilai terlalu agresif.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar menyebut situasi ini sebagai “perang global untuk merebut hati dan pikiran”. Ia menilai investasi di bidang ini harus diperlakukan seperti pengeluaran pertahanan, sejajar dengan pembelian jet tempur, bom, dan pencegat rudal.

Dukungan publik ikut terkikis

Penurunan citra Israel tidak hanya terlihat di kalangan pemilih umum. Jajak pendapat Pew juga menunjukkan 57 persen pemilih Partai Republik di bawah usia 50 tahun kini memandang Israel secara negatif.

Dukungan juga merosot di kalangan warga yang tidak berafiliasi secara agama, Protestan kulit hitam, dan Katolik. Di komunitas Yahudi Amerika sendiri, dukungan terhadap Israel disebut turun di bawah dua pertiga.

Pergeseran itu membuat pemerintah Israel menempatkan reputasi publik sebagai bagian penting dari strategi negara. Bagi para pejabat, citra di luar negeri kini dipandang terkait langsung dengan kepentingan politik dan keamanan.

Belanja untuk iklan, delegasi, dan AI

Sebagian dana diplomasi publik sudah terlihat dari pos belanja yang dilaporkan. Salah satunya adalah pembelian iklan media sosial internasional senilai US$50 juta di platform seperti Google, YouTube, X, dan Outbrain.

Ada pula anggaran US$40 juta untuk menjamu ratusan delegasi asing, termasuk politisi, akademisi, pemimpin agama, dan influencer. Tujuannya memperluas jaringan pendukung sekaligus membentuk narasi yang lebih menguntungkan bagi Israel di luar negeri.

Pemerintah Israel juga membangun “media war room” untuk memantau 250 outlet media dan 10.000 item konten terkait Israel setiap hari. Dengan sistem itu, respons terhadap pemberitaan dan percakapan digital bisa dilakukan lebih cepat dan terarah.

Kontrak bernilai besar di ruang digital

Kementerian Luar Negeri Israel menandatangani sejumlah kontrak tambahan untuk kampanye daring. Salah satunya bernilai US$1,5 juta per bulan dengan perusahaan milik Brad Parscale, mantan ahli strategi kampanye Donald Trump, untuk memakai alat AI dalam melawan antisemitisme daring.

Ada juga kampanye senilai US$4,1 juta yang ditujukan ke gereja-gereja evangelis. Selain itu, “Proyek Esther” disebut sebagai jaringan influencer berbayar yang mencapai US$900.000 melalui perusahaan PR Bridges Partners.

Rangkaian belanja itu menunjukkan fokus Israel tidak hanya pada media arus utama. Pemerintah juga membidik ruang digital, komunitas religius, dan jejaring opini internasional untuk menahan tekanan citra di tengah kritik global yang terus meningkat.

Source: www.viva.co.id
Terbaru