Royal Enfield Bear 650 Tiba Di IIMS, Torsi Lebih Galak Dengan Harga Rp241 Juta

Royal Enfield resmi membawa Bear 650 ke Indonesia lewat ajang IIMS, dan model ini langsung diposisikan sebagai scrambler bermesin besar dengan harga mulai Rp241.000.000 OTR Jakarta. Kehadirannya menyasar pengendara yang mencari motor bergaya klasik, tetapi tetap ingin mendapat karakter berkendara yang lebih serbabisa.

Motor ini tidak hanya mengandalkan tampilan retro, karena Royal Enfield juga menyematkan sejumlah elemen modern untuk mendukung penggunaan harian. Di sisi lain, Bear 650 membawa inspirasi dari ajang balap gurun Big Bear Run era 1960-an, sehingga identitasnya terasa lebih kuat dibanding sekadar motor bergaya klasik biasa.

Harga dan pilihan warna

Di pasar Indonesia, Bear 650 hadir dalam lima pilihan warna. Varian paling terjangkau adalah Boardwalk White yang dibanderol Rp241.000.000 OTR Jakarta.

Royal Enfield juga menyiapkan varian yang lebih premium, termasuk Two Four Nine. Opsi ini dipasarkan dengan harga Rp247.700.000 OTR Jakarta, sehingga rentang harganya masih berada di level motor 650 cc kelas premium.

Posisi harga tersebut menegaskan bahwa Bear 650 ditujukan untuk konsumen yang mencari karakter khas scrambler, bukan hanya motor dengan mesin besar. Fokusnya ada pada kombinasi tampilan, ergonomi, dan kemampuan penggunaan yang lebih fleksibel.

Mesin 648 cc dengan torsi lebih besar

Bear 650 memakai basis mesin yang sama dengan Interceptor 650. Jantung pacunya adalah mesin paralel-twin 648 cc berpendingin oli yang dipadukan dengan transmisi 6-percepatan.

Tenaga puncaknya tetap berada di 47 bhp, namun karakter mesin dibuat berbeda lewat torsi. Bear 650 mencatat torsi 56,5 Nm pada 5.150 rpm, lebih tinggi dari Interceptor 650 yang berada di 52,3 Nm.

Perbedaan itu membuat respon bawah mesin terasa lebih kuat. Karakter seperti ini cocok untuk scrambler, terutama saat motor dipakai di jalan yang tidak selalu mulus atau di permukaan semi off-road.

Royal Enfield juga memakai knalpot 2-into-1 untuk model ini. Konfigurasi tersebut ikut membentuk identitas suara sekaligus membedakan Bear 650 dari model satu platform lainnya.

Kaki-kaki dibuat lebih siap menjelajah

Sektor kaki-kaki menjadi salah satu pembeda paling jelas dari Bear 650. Di bagian depan, motor ini menggunakan suspensi upside down dari Showa Big Piston.

Bagian belakang mengandalkan dual shock yang sudah dikalibrasi ulang. Setelan ini diarahkan agar redaman terasa lebih sesuai saat motor melewati permukaan jalan yang bervariasi.

Karakter scrambler juga didukung oleh penggunaan ban radial tubeless berpola belang. Ukuran roda yang dipakai adalah 19 inci di depan dan 17 inci di belakang.

Kombinasi tersebut membuat tampilannya terasa lebih jangkung dan siap untuk melibas jalur yang tidak sepenuhnya mulus. Pada saat yang sama, setelan itu tetap menjaga fungsinya untuk pemakaian harian.

Fitur modern di balutan desain klasik

Walau berdesain retro, Bear 650 tidak meninggalkan teknologi modern. Panel instrumennya sudah memakai layar TFT bulat penuh.

Layar itu terintegrasi dengan Google Maps, sehingga memberi kemudahan navigasi bagi pengendara. Sistem ini disebut mirip dengan yang digunakan pada Himalayan 450.

Pendekatan tersebut menunjukkan arah pengembangan Royal Enfield yang makin menonjolkan keseimbangan antara gaya klasik dan kebutuhan berkendara modern. Fitur digital menjadi pelengkap tanpa menghilangkan karakter visual khas Royal Enfield.

Dibuat untuk fungsi, bukan sekadar tampilan

Bear 650 hadir sebagai scrambler yang mengutamakan fungsi sekaligus gaya. Posisi duduk tegak menjadi salah satu poin penting karena membuat motor lebih rileks dipakai di dalam kota maupun saat melewati jalan rusak ringan.

Mesin 650 cc yang digunakan juga memberi kesan bertenaga tanpa kehilangan karakter dua silinder khas Royal Enfield. Dengan tambahan torsi, motor ini menawarkan respons yang lebih sesuai untuk kebutuhan scrambler dibanding sekadar motor bergaya klasik.

Peluncuran Bear 650 di IIMS menambah pilihan di segmen motor premium bergaya klasik di Indonesia. Dengan harga mulai Rp241 juta, suspensi Showa, layar TFT bulat dengan Google Maps, dan torsi yang lebih besar dari Interceptor 650, model ini diposisikan sebagai scrambler tangguh untuk pengendara yang menginginkan perpaduan gaya retro dan kemampuan jelajah yang lebih luas.

Terkait