Robot Biksu Pertama Gabi Tampil Di Kuil, AI Mulai Masuk Ke Ruang Spiritual

Kuil Buddha di Seoul baru saja menjadi panggung bagi percobaan yang jarang terjadi: robot humanoid bernama Gabi tampil sebagai biksu robot pertama di Korea Selatan. Kehadirannya langsung menarik perhatian karena ia tidak hanya dipajang, tetapi ikut masuk ke dalam upacara Buddha menjelang perayaan Hari Waisak.

Gabi muncul di Jogye Temple dalam sebuah seremoni Buddhis pada hari Rabu di Seoul. Robot setinggi sekitar empat kaki itu mengenakan jubah abu-abu dan cokelat, lalu menyatu dengan suasana ritual tradisional di hadapan para biksu.

Robot yang ikut berdoa

Debut Gabi tidak berhenti pada gerakan simbolis. Robot itu ikut melantunkan doa, membungkuk dalam ritual, dan menjawab pertanyaan seorang biksu di tengah prosesi.

Dalam salah satu momen yang paling mencuri perhatian, seorang biksu bertanya apakah Gabi akan mengabdikan diri kepada Buddha dan ajaran Buddhis. Menurut The New York Times, Gabi menjawab, “Yes, I will devote myself.”

Setelah itu, Gabi mengelilingi pagoda, menyatukan kedua tangan seperti sedang berdoa, dan menerima tasbih 108 manik seperti peserta manusia lainnya. Satu ritual tradisional tidak dilakukan untuk robot ini, yaitu pembakaran dupa.

Di balik bentuknya, Gabi dibangun di atas platform humanoid Unitree G1 dari China. Struktur tubuhnya dibuat menyerupai manusia agar bisa berjalan, memberi gestur, dan mengikuti aktivitas seremonial di lingkungan kuil.

Simbol modernisasi Buddhisme

Kehadiran Gabi merupakan bagian dari inisiatif Jogye Order, sekte Buddhis terbesar di Korea Selatan. Tujuannya adalah memodernisasi Buddhisme dan membangun koneksi dengan generasi muda yang hidup dalam budaya digital.

Langkah ini muncul di tengah upaya lembaga Buddhis di Korea Selatan untuk menjaga relevansi budaya mereka. Para pemimpin agama melihat teknologi seperti AI dapat membantu kuil menarik audiens yang lebih muda sekaligus menutup kekurangan akibat minimnya jumlah biksu.

Dalam konteks itu, Gabi diposisikan bukan sebagai pengganti total pemuka agama manusia. Robot ini lebih terlihat sebagai medium baru untuk memperkenalkan ajaran, ritual, dan simbol Buddhis kepada publik yang akrab dengan teknologi.

Jogye Order juga menyiapkan seperangkat sila Buddhis yang dimodifikasi khusus untuk robot. Aturan itu mencakup menghormati kehidupan, tidak merusak robot atau benda lain, menaati manusia, menghindari ucapan menipu, dan tidak mengisi daya baterai secara berlebihan.

Menariknya, pedoman tersebut dilaporkan disusun dengan bantuan chatbot AI seperti Gemini dan ChatGPT. Cara ini memperlihatkan bagaimana teknologi tidak hanya hadir dalam wujud robot, tetapi juga ikut membantu merumuskan kerangka etikanya.

Nama dengan makna spiritual

Nama Gabi sendiri dipilih dengan makna khusus. Laporan media lokal menyebut nama itu menggabungkan rujukan pada Siddhartha, nama lahir Gautama Buddha, dan kata Korea “jabi” yang berarti belas kasih atau welas asih.

Para biksu yang terlibat dalam proyek itu menyebut nama tersebut sengaja dibuat sederhana dan mudah didekati. Pada saat yang sama, nama itu tetap membawa nilai-nilai utama Buddhisme.

Langkah berikutnya di ruang publik

Setelah debutnya di kuil, Gabi diperkirakan akan tampil dalam parade lampion Hari Waisak mendatang. Dalam acara itu, Gabi akan hadir bersama robot bertema Buddhis lainnya yang bernama Seokja, Mohee, dan Nisa.

Rencana tersebut menunjukkan bahwa proyek ini tidak berhenti pada satu seremoni. Gabi tampaknya akan terus dipakai sebagai wajah baru pendekatan Buddhisme yang lebih terbuka terhadap perangkat digital dan interaksi publik.

Fenomena ini juga sejalan dengan perkembangan lain di Asia Timur. Beberapa minggu sebelumnya, peneliti di Kyoto University, Jepang, memperkenalkan robot berbasis AI bernama Buddharoid yang dirancang untuk berinteraksi dengan pengunjung, mempelajari kitab Buddhis, dan menjawab pertanyaan spiritual.

Berbeda dari sistem khotbah tradisional, Buddharoid dibuat agar bisa bercakap-cakap dan menyesuaikan respons terhadap interaksi manusia secara real time. Para peneliti menyebut proyek itu ditujukan untuk menjawab persoalan populasi rohaniwan yang menua di Jepang sekaligus menjajaki cara AI membantu menjaga ajaran Buddhis di masa depan.

Kehadiran Gabi memperlihatkan bahwa ruang spiritual kini juga menjadi arena eksperimen teknologi. Di Seoul, robot itu tidak hanya berdiri di samping para biksu, tetapi mulai mengambil peran yang sebelumnya sepenuhnya dianggap milik manusia dalam ritual keagamaan.

Source: www.indiatoday.in

Terkait