Rivian R2 mencuri perhatian di ACT Expo bukan hanya karena dimensinya yang lebih kecil, tetapi karena satu detail kecil di setir yang terasa sangat berbeda. Scroll wheel haptic di mobil ini bisa mengubah resistensi dan rasa detent sesuai fungsi yang sedang dipakai pengemudi.
Di tengah pasar SUV listrik yang makin padat, pendekatan itu memberi R2 identitas yang kuat. Rivian tampak ingin membuat mobil yang lebih sederhana dan lebih mudah dijangkau, tanpa kehilangan kesan premium yang selama ini melekat pada mereknya.
Ukuran lebih pas, desain tetap khas Rivian
R2 tetap membawa bahasa desain yang mudah dikenali lewat halo lighting dan profil kotak yang tegak. Namun, SUV ini juga dibuat dengan arah yang lebih efisien, termasuk port pengisian di bagian belakang, frunk besar dengan komponen lebih sederhana, dan dashboard yang lebih rendah untuk membantu visibilitas.
| Detail R2 | Keterangan |
|---|---|
| Jarak tempuh edisi peluncuran | Sekitar 330 mil |
| Paket baterai usable | 87 hingga 89 kilowatt-jam |
| Akselerasi 0-60 mph | Sekitar 3,5 detik |
| Output tenaga | Sedikit di atas 650 horsepower |
Dalam walkaround yang dibahas Munro Live, Rivian juga menegaskan bahwa motor baru R2 dibuat lebih kecil, lebih bertenaga, dan lebih efisien. Sam Anderson, fleet sales customer success manager Rivian, menyebutnya sebagai evolusi di setiap aspek.
Scroll wheel yang bisa mengubah rasa kontrol
Bagian yang paling ramai dibicarakan justru bukan tenaga atau jarak tempuh, melainkan kontrol di setir yang bisa berubah karakter. Rivian menyebutnya sebagai roda haptic, dan sistem ini dapat menyesuaikan resistensi serta rasa scrolling berdasarkan tugas yang sedang dijalankan.
Respons terhadap fitur itu cukup kuat karena pengemudi mendapat akses di kedua sisi dengan variasi detent yang terasa berbeda. Bagi sebagian calon pembeli, detail antarmuka seperti ini bisa sama pentingnya dengan angka performa di atas kertas.
Rivian tampaknya juga mencoba menjawab keluhan umum terhadap mobil modern yang terlalu bergantung pada layar. Dengan scroll wheel yang responsif, fungsi harian bisa diakses lebih cepat tanpa harus masuk terlalu dalam ke menu digital.
Efisiensi tanpa terlihat dipangkas berlebihan
Strategi penghematan R2 terlihat dari keputusan teknis seperti penggunaan gas struts alih-alih mekanisme frunk bertenaga. Rivian juga mengurangi jumlah fastener dan menyederhanakan center console untuk menekan biaya produksi.
Meski begitu, kabin R2 tetap diproyeksikan membawa kesan lengkap. Material jahitan, kursi berpemanas dan berventilasi, ruang penyimpanan fleksibel, serta roda haptic dengan respons yang bisa berubah masih dipertahankan dalam paketnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Rivian ingin memangkas kompleksitas tanpa membuat mobil terasa murah. Targetnya jelas, yaitu menjaga karakter premium sambil membuat R2 lebih masuk akal untuk pasar yang lebih luas.
Lebih cocok untuk keluarga yang butuh ukuran pas
R2 diposisikan sebagai SUV yang lebih sesuai untuk keluarga yang merasa R1 terlalu besar. Salah satu komentar yang muncul bahkan menyebut mobil ini sangat menarik setelah test drive R1, meski model yang lebih besar itu dinilai terlalu besar untuk kebutuhan sehari-hari.
Daya tarik itu juga ditopang oleh keuntungan khas mobil listrik yang biaya pakainya lebih rendah. EV umumnya lebih hemat dibanding mobil bensin untuk kebutuhan harian, dan perawatannya juga lebih ringan karena tidak memerlukan ganti oli serta memiliki lebih sedikit komponen bergerak.
Jika Rivian berhasil memadukan ukuran yang lebih pas, efisiensi, dan pengalaman memakai yang terasa premium, R2 punya peluang kuat di ceruk yang lebih luas. Di titik itu, mobil ini tidak lagi sekadar versi kecil dari R1, melainkan SUV listrik yang dibangun untuk kebutuhan yang lebih nyata.







