IHSG menutup perdagangan dengan pelemahan dan berakhir di level 7.106,520 setelah turun 22,969 poin atau 0,32 persen. Sempat bergerak di zona hijau pada awal sesi, indeks akhirnya berbalik arah ketika tekanan jual muncul menjelang penutupan.
Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG sempat menyentuh 7.230,032 sebelum turun lagi ke titik terendah harian. Aktivitas pasar juga terpantau ramai, dengan volume transaksi 33,17 miliar saham, nilai transaksi Rp 16,57 triliun, dan kapitalisasi pasar Rp 12.715 triliun.
Rebalancing jadi pemicu utama
Pelemahan indeks terutama dikaitkan dengan proses rebalancing di bursa. Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai perubahan komposisi indeks membuat pasar bergerak lebih liar karena pelaku pasar harus menyesuaikan posisi lebih dulu.
Ia menjelaskan bahwa penyesuaian ini terkait rebalancing IDX30, LQ45, dan IDX80 setelah penerapan metode terbaru. Perubahan metode pemilihan konstituen dengan tambahan kriteria high shareholding concentration atau HSC membuat perhatian investor tertuju pada saham-saham yang berpotensi masuk atau keluar dari daftar indeks tersebut.
Tekanan di saham berbobot besar
Dampak rebalancing terasa kuat pada saham berkapitalisasi besar. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi dua nama yang ikut terseret karena pasar memperkirakan keduanya berpotensi keluar dari LQ45.
Faris menyebut investor institusi yang menjadikan indeks sebagai acuan harus mengatur ulang portofolio sebelum perubahan berlaku efektif. “Hal tersebut membuat market volatil hingga hari efektif karena akan mendepak BREN dan DSSA dari LQ45 dengan kondisi market cap kedua emiten tersebut yang sangat besar,” ujarnya.
Tekanan pada saham berbobot besar inilah yang kemudian menarik IHSG ke area merah. Padahal, secara keseluruhan jumlah saham yang naik masih lebih banyak dibandingkan yang turun, sehingga pergerakan indeks tidak sepenuhnya mencerminkan luasnya penguatan di lantai bursa.
Data perdagangan menunjukkan 408 saham menguat, 264 saham melemah, dan 147 saham stagnan. Kondisi ini menegaskan bahwa indeks masih bisa tertekan ketika saham berkapitalisasi besar mengalami aksi jual, meski mayoritas saham bergerak naik.
Reshuffle kabinet tidak dianggap sebagai sentimen utama
Pada hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan Kabinet Merah Putih. Namun, pasar dinilai tidak merespons langkah itu sebagai pemicu utama pelemahan IHSG.
Faris menilai reaksi pasar relatif tenang karena reshuffle tersebut tidak menyentuh sektor otoritas keuangan yang biasanya lebih sensitif terhadap sentimen pasar. Ia menambahkan bahwa pasar cenderung bereaksi lebih kuat bila perombakan menyangkut Menteri Keuangan.
“Namun dari pejabat yang dilantik tidak ada pejabat yang memiliki sangkut paut dengan sektor keuangan, pelemahan tipis ini kami nilai murni karena masa rebalancing,” kata Faris.
Sejumlah pejabat dilantik pada pukul 15.00 WIB, antara lain Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Muhammad Qodari sebagai Kepala Bakom, Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia, serta Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden.
Pergerakan IHSG pada sesi tersebut memperlihatkan bahwa bobot saham besar dan penyesuaian indeks masih punya pengaruh yang jauh lebih kuat terhadap arah pasar ketimbang jumlah saham yang menguat. Selama proses rebalancing berlangsung, volatilitas di saham-saham berkapitalisasi besar berpeluang tetap menjadi penentu utama sentimen bursa.
