PT RANS Entertainment Indonesia Tbk menegaskan bahwa rumor yang mengaitkan perseroan dengan pencucian uang setelah IPO tidak memiliki dasar fakta. Komisaris Utama RANS, Darwin Cyril Noerhadi, menyebut kabar itu lebih berupa rumor daripada temuan yang bisa dibuktikan.
Di tengah sorotan publik terhadap emiten-emiten baru, RANS memilih menjawab isu itu dengan menonjolkan proses penawaran umum perdana saham yang sudah ditempuh sesuai aturan. Perusahaan menilai IPO justru menjadi momen untuk membuka informasi secara lebih terang kepada publik.
Proses IPO Sudah Lewat Pemeriksaan Ketat
Cyril menjelaskan bahwa seluruh tahapan initial public offering RANS dijalankan mengikuti ketentuan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Menurut dia, emiten yang ingin melantai di bursa harus melewati due diligence yang ketat dengan rangkaian dokumen dan jawaban atas ratusan pertanyaan dari regulator.
Ia menyebut pemeriksaan itu mencakup tiga sisi utama, yaitu hukum, akuntansi, dan keterbukaan informasi. Dari sisi hukum, seluruh transaksi harus ditopang dokumen sah seperti akta notaris, sedangkan dari sisi akuntansi pembukuan dan sumber pencatatan keuangan wajib dibuka.
Kepercayaan Investor Sudah Terbangun Sejak 2021
Cyril juga menyoroti masuknya PT Indonesia Entertainmen Grup, bagian dari Grup Emtek, pada 2021 sebagai sinyal kepercayaan investor terhadap RANS. Saat itu, investasi sekitar Rp 248 miliar dilakukan untuk mengakuisisi sekitar 17% hingga 18% saham perseroan.
Ia menambahkan bahwa valuasi RANS kala itu berada di kisaran Rp 1,3 triliun dan kini disebut telah naik menjadi lebih dari Rp 2 triliun. Bagi manajemen, perkembangan itu menunjukkan bahwa nilai bisnis perusahaan terus bergerak seiring pertumbuhan usaha.
Free Float dan Keterbukaan Jadi Fokus
RANS juga menegaskan komitmennya pada ketentuan pasar modal, termasuk free float minimum 15% dan pengungkapan kepemilikan saham di atas 1%. Cyril menyebut jumlah saham RANS yang diperdagangkan di bursa sudah lebih dari 20%.
Menurut dia, kondisi itu menegaskan bahwa keterbukaan informasi perusahaan memang mengikuti ketentuan yang berlaku. Ia menilai transparansi menjadi bagian penting agar publik bisa melihat fakta yang ada, bukan sekadar rumor yang beredar.
| Fakta Utama | Rincian |
|---|---|
| Isu yang dibantah | Dugaan keterkaitan RANS dengan pencucian uang |
| Acuan proses IPO | Ketentuan OJK dan BEI, termasuk due diligence |
| Investasi awal dari Grup Emtek | Rp 248 miliar untuk sekitar 17%–18% saham pada 2021 |
| Valuasi yang disebutkan | Naik dari sekitar Rp 1,3 triliun menjadi lebih dari Rp 2 triliun |
| Free float | Minimum 15% |
| Saham yang diperdagangkan | Lebih dari 20% |
Valuasi RANS Dinilai Tidak Cukup Diukur dengan Angka Konvensional
Di sisi lain, Direktur Trimegah Sekuritas Indonesia David Agus menilai valuasi RANS tidak bisa dibaca hanya lewat indikator keuangan konvensional. Menurut dia, model bisnis perseroan bertumpu pada kreativitas sebagai aset utama yang kemudian menghasilkan pengaruh, membangun basis pengikut, dan membuka peluang monetisasi.
Karena itu, pendekatan seperti price to earnings ratio dan price to book value dinilai belum sepenuhnya mampu menangkap nilai ekonomi perusahaan berbasis kreativitas. David menilai pertanyaan soal valuasi RANS tidak bisa dijawab hanya dengan angka kapitalisasi pasar Rp 2,5 triliun.
Dengan penjelasan tersebut, RANS berupaya menegaskan bahwa IPO bukan sekadar langkah korporasi, melainkan sarana untuk menunjukkan data perusahaan secara lebih terbuka. Bagi perseroan, kepatuhan pada OJK dan BEI tetap menjadi dasar utama setelah resmi tercatat di bursa.
Source: www.beritasatu.com






