Dubai kembali menaruh harapan besar pada mesin bor terowongan raksasa bernama Al Wugeisha untuk membuka fase penting Metro Blue Line. Setelah menembus dinding di International City 1 Station, mesin ini mulai menggali bagian bawah tanah proyek yang menjadi salah satu pekerjaan infrastruktur paling ambisius di kota itu.
Yang membuatnya menonjol bukan hanya ukurannya, tetapi juga kemampuannya bekerja terus-menerus di bawah kota padat. Dengan panjang 163 meter dan bobot lebih dari 2.000 ton, Al Wugeisha mampu menggali rata-rata 13 hingga 17 meter per hari tanpa henti sepanjang waktu.
Mesin besar untuk medan yang sulit
Al Wugeisha memang dirancang untuk menghadapi kondisi geologi yang tidak mudah. Mesin ini dibangun untuk menembus batuan keras, pasir, dan medan gurun campuran yang menantang, yang membuat penggalian bawah tanah di Dubai memerlukan teknologi khusus.
Diameter mesinnya mencapai 9,56 meter. Di dalam sistemnya ada cutterhead bertorsi tinggi, dongkrak hidrolik untuk mendorong laju maju, serta sistem pembuangan material galian dan slurry yang bekerja beriringan.
Mesin ini juga memakai pelindung logam dengan bagian ekor mekanis untuk menjaga stabilitas selama proses penggalian. Panduan digital berpresisi tinggi dan teknologi pemantauan canggih membantu menjaga arah pengeboran tetap akurat di bawah kawasan urban yang berkembang cepat.
Bekerja di jalur yang sangat padat
Dari International City 1 Station, pekerjaan akan bergerak ke tiga arah sekaligus. TBM terpisah akan menuju Mirdif, Auto Market, dan Al Warsan atau International City 2.
Skema ini menunjukkan rumitnya jaringan bawah tanah Metro Blue Line. Jalur tersebut membentang sepanjang 30 kilometer dengan total biaya proyek Dh20.5 miliar.
Di pusat jaringan itu berdiri International City 1 interchange station. Stasiun yang ditinjau Sheikh Mohammed saat peluncuran itu akan memiliki luas lebih dari 44.000 meter persegi dan dirancang melayani hingga 350.000 penumpang per hari.
Mengapa TBM dipilih di Dubai
Di kota padat, penggalian tradisional seperti drill-and-blast bisa memicu gangguan tanah, getaran permukaan, dan kebisingan besar. TBM seperti Al Wugeisha mengurangi gangguan itu karena memotong tanah dan batu secara terus-menerus tanpa ledakan.
Mesin ini juga langsung memasang segmen lining beton pracetak di belakangnya saat menggali. Hasilnya, dinding terowongan menjadi lebih halus dan seragam, sehingga pekerjaan lanjutan lebih mudah dilakukan.
Metode ini juga menekan risiko di area yang dipenuhi bangunan. Dalam kondisi seperti Dubai, di mana pembangunan di permukaan berada tepat di atas jalur terowongan, TBM menjadi pilihan utama untuk proyek metro berskala besar.
Bukan nama asing di terowongan Dubai
Al Wugeisha bukan pendatang baru di bawah tanah Dubai. Mesin yang sama pernah dipakai untuk pekerjaan terowongan Red Line dan Green Line, dua tulang punggung jaringan Metro Dubai saat ini.
Riwayat operasi itu memberi keuntungan saat mesin ini masuk ke proyek baru. Data kalibrasi dan pengalaman kru dari kondisi geologi yang sudah dikenal dapat membantu menurunkan risiko pada tahap awal penggalian.
Nama Al Wugeisha sendiri diambil dari salah satu makhluk terkecil di ekosistem gurun UEA, yaitu hewan pengerat penggali yang dihargai karena naluri menggali. Nama itu terasa sesuai untuk mesin yang kini menjadi salah satu alat paling penting dalam pembangunan bawah tanah Dubai.







