ASUS ROG Raikiri II hadir sebagai controller premium yang memang ditujukan untuk pemain yang mengejar presisi dan respons cepat. Dengan harga RRP $189.99, pertanyaan yang paling relevan justru bukan soal fitur, melainkan apakah peningkatan yang dibawa benar-benar layak untuk dibayar.
Di satu sisi, Raikiri II menawarkan sejumlah keunggulan yang sulit diabaikan. Controller ini membawa TMR sticks anti-drift, micro switches yang memberi sensasi klik lebih tegas, polling rate hingga 1000Hz di PC, serta dukungan konektivitas 2.4 GHz RF, Bluetooth, dan kabel.
Input jadi nilai jual utama
Kekuatan terbesar Raikiri II ada pada pengalaman kontrol yang terasa tajam dan meyakinkan. TMR joysticks membuat pergerakan stik terasa lebih stabil, sementara tombol berbasis micro-switch memberi umpan balik yang lebih mirip klik mouse dibandingkan tombol controller biasa.
Bagi pemain yang sensitif terhadap presisi, karakter input seperti ini terasa penting. Raikiri II juga menambahkan trigger lock dua tahap, yang membantu saat game membutuhkan respons tembakan yang lebih cepat.
Empat tombol belakang yang dapat diprogram ikut memperkuat fleksibilitasnya. Fitur ini memudahkan pemain menjaga ibu jari tetap berada di stik analog sambil tetap menjalankan perintah penting di bagian belakang controller.
Desain dan kenyamanan terasa matang
Secara bentuk, Raikiri II tetap membawa bahasa desain yang akrab bagi pengguna Xbox. Tata letak offset joystick dan bentuk bodinya terasa familier, sehingga transisi ke controller ini tidak butuh penyesuaian besar.
Bobotnya juga lebih ringan dibanding Xbox Elite, dan itu memberi keuntungan saat sesi bermain panjang. Pegangan bertekstur dan lekukan bodi membuat genggaman terasa mantap, sementara tombol belakang dinilai lebih tegas dan mudah dibedakan.
Daya tahan baterai dan konektivitas jadi poin positif
Untuk penggunaan harian, Raikiri II menawarkan paket yang cukup lengkap. Baterainya diklaim mampu mencapai hingga 50 jam saat RGB dan getaran dimatikan, sedangkan pemakaian normal berada di sekitar 30 jam.
Dalam beberapa pengujian, daya tahannya disebut berada di kisaran 30–40 jam saat mode wireless dengan RGB aktif. Angka ini memperlihatkan bahwa controller ini masih layak untuk dipakai lintas sesi bermain tanpa terlalu sering mencari заряд ulang.
Konektivitasnya juga fleksibel karena menyediakan sakelar fisik untuk Bluetooth, wireless, USB, serta mode Xbox dan PC. Dalam penggunaan di PC, Xbox, dan Bluetooth, koneksi dilaporkan stabil tanpa gangguan berarti.
Dock justru menghambat kesan premium
Masalah muncul ketika masuk ke aksesori pengisian daya. Charge dock bawaan terasa jauh dari kesan premium karena bobotnya ringan dan materialnya dinilai murah.
Bagian kaki dock juga disebut sangat rapuh karena hanya bertumpu pada peg kecil. Kondisi ini membuat dock mudah terlepas jika tersenggol, sehingga nilai praktisnya tidak sejalan dengan harga controller yang tinggi.
Software konfigurasi menjadi titik lemah lain
Selain dock, software konfigurasi juga membuat pengalaman penggunaan kurang mulus. ASUS memakai Gear Link berbasis web, sehingga pengaturan controller membutuhkan internet.
Model ini menyulitkan saat bepergian atau ketika koneksi bermasalah. Pengujian juga menunjukkan software mengikuti bahasa lokal perangkat, bukan selalu bahasa yang diinginkan pengguna, sehingga kenyamanan pengaturan terasa kurang konsisten.
Layak untuk siapa?
Di kelas harga yang sama, Raikiri II berhadapan langsung dengan Xbox Elite Controller Series 2. Elite memang masih unggul pada dock yang lebih matang dan pengalaman penggunaan yang lebih mapan, meski tetap punya masalah sendiri seperti stick drift dan keausan bumper.
Raikiri II punya argumen kuat lewat TMR sticks yang berpotensi lebih tahan drift dalam jangka panjang. Namun pada harga $189.99, keunggulan teknis itu masih harus berhadapan dengan dock yang mengecewakan dan software berbasis web yang belum terasa sekelas produk premiumnya.
