Pusat data di luar angkasa yang dulu terdengar seperti ide futuristis kini mulai masuk hitungan bisnis. SemiAnalysis menilai biaya peluncuran saat ini memang masih membuat komputasi orbital sekitar empat kali lebih mahal dibandingkan fasilitas di Bumi.
Namun selisih itu diperkirakan menyempit cepat, dan arah perhitungannya mulai mengganggu pemain pusat data darat. Jika biaya turun, pasokan chip meningkat, dan tekanan publik terhadap pembangunan infrastruktur di Bumi makin kuat, ruang angkasa bisa berubah dari eksperimen mahal menjadi alternatif yang sulit diabaikan.
Tekanan di darat membuat opsi orbit terlihat masuk akal
Argumen utama di balik minat ini datang dari kombinasi biaya, lahan, dan regulasi. Pusat data di Bumi terus menghadapi keterbatasan energi, koneksi ke jaringan listrik, dan proses perizinan yang memakan waktu.
Elon Musk juga memandang hambatan itu sebagai faktor yang bisa mendorong model bisnis ke orbit. Di saat yang sama, produksi chip diperkirakan terus meningkat, sehingga ruang bagi komputasi orbital ikut terbuka lebih lebar.
Masalah perawatan masih jadi ujian terbesar
Keberatan paling besar terhadap pusat data di luar angkasa tetap sama, yakni bagaimana mengganti chip dan memperbaiki perangkat keras yang rusak. Tantangan itu belum hilang, tetapi ada upaya untuk menguranginya lewat robot yang bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Startup New York, Icarus Robotics, sedang mengembangkan robot untuk membantu misi luar angkasa. Robot itu dijadwalkan mulai diuji di International Space Station tahun depan.
Dari bongkar pasokan ke pemeliharaan digital
Untuk misi awal, robot tersebut akan membongkar kantong berisi pasokan seperti makanan dan perlengkapan laboratorium. CEO Ethan Barajas mengatakan kepada Semafor bulan lalu bahwa timnya juga bisa mengembangkan alur kerja untuk pemeliharaan pusat data jika pasar memang membutuhkannya.
Pendekatan seperti ini penting karena operasional jarak jauh sering menjadi alasan utama skeptisisme terhadap komputasi orbital. Jika pemeliharaan bisa dilakukan dengan andal, salah satu hambatan teknis terbesar akan mulai berkurang.
Awal 2030-an bisa jadi titik balik
SemiAnalysis menilai pusat data di luar angkasa berpotensi menjadi lebih layak secara ekonomi pada awal 2030-an. Perhitungan itu sangat bergantung pada arah biaya peluncuran dan pada seberapa kuat tekanan terhadap pembangunan infrastruktur darat terus bertambah.
Artinya, perdebatan kini tidak lagi berhenti pada pertanyaan apakah komputer bisa bekerja di orbit. Yang mulai diuji justru apakah model bisnisnya bisa mengalahkan pusat data darat saat kebutuhan komputasi terus naik.
Tabel Ringkas Perbandingan Isu Utama
| Isu | Keterangan |
|---|---|
| Biaya saat ini | Komputasi orbital sekitar 4 kali lebih mahal dibanding fasilitas di Bumi |
| Proyeksi biaya | Selisih diperkirakan menyempit menjadi sekitar 30% dalam lima tahun |
| Hambatan utama di darat | Energi, koneksi jaringan listrik, dan perizinan |
| Tantangan utama di orbit | Penggantian chip dan perbaikan perangkat keras |
| Uji teknologi | Robot Icarus Robotics akan diuji di International Space Station tahun depan |
Dengan kombinasi biaya yang berpotensi turun, chip yang makin tersedia, dan tekanan pembangunan di darat yang terus naik, pusat data luar angkasa mulai dipandang sebagai skenario yang lebih serius. Jika semua faktor itu bergerak sesuai proyeksi, orbit bisa menjadi arena baru yang langsung menantang pusat data di Bumi.
