Purbaya Kembali Guyur Himbara, Dana Bank Pelat Merah Akan Naik ke Rp400 Triliun

Tekanan likuiditas di bank-bank pelat merah mendorong pemerintah menyiapkan penambahan dana penempatan di Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara hingga total Rp400 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut langkah itu diambil setelah para direktur utama Himbara menyampaikan bahwa kondisi likuiditas perbankan mulai menipis.

Keputusan tersebut muncul setelah pertemuan Purbaya dengan jajaran direksi bank Himbara pada Jumat pagi. Pemerintah menilai penambahan dana dibutuhkan agar sistem perbankan kembali longgar dan penyaluran kredit tidak tertahan.

Likuiditas yang mengering jadi persoalan utama

Purbaya mengatakan pemerintah sebelumnya sempat menarik sekitar Rp100 triliun dana simpanan di Himbara beberapa pekan lalu atas permintaan “sejumlah pihak”. Namun, langkah itu justru membuat likuiditas di perbankan semakin seret.

“Rupanya jadi kering dan tidak ada sumber uang lagi [di perbankan]. Jadi saya kembalikan lagi,” ujarnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta.

Saat ini sisa dana pemerintah di bank-bank Himbara berada di kisaran Rp170 triliun. Dari posisi itu, Kementerian Keuangan akan menambah Rp30 triliun pada tahap awal.

Penempatan dilakukan bertahap

Setelah penambahan awal, pemerintah menyiapkan penempatan dana lagi sebesar Rp100 triliun dengan tenor 3—4 bulan. Ada pula tambahan Rp70 triliun hingga Rp100 triliun dengan tenor fleksibel yang bisa ditarik atau dimasukkan kapan pun.

Purbaya menegaskan total penempatan dana akan mencapai Rp400 triliun. Komposisinya terdiri dari Rp200 triliun jangka panjang, Rp100 triliun jangka menengah, dan Rp100 triliun fleksibel hingga akhir tahun.

Kas negara dinilai masih longgar

Pemerintah menilai ruang untuk menambah likuiditas masih aman karena kas negara yang mengendap di Bank Indonesia mencapai Rp590 triliun. Dengan kondisi itu, Kementerian Keuangan merasa memiliki keleluasaan untuk kembali mengalirkan dana ke sistem perbankan.

Purbaya menempatkan kebijakan ini sebagai instrumen penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Ia juga menyinggung tekanan nilai tukar yang bisa muncul saat likuiditas perbankan dan pelaku usaha ikut mengering.

Efek ke kredit, ekonomi, dan rupiah

Menurut Purbaya, likuiditas yang ketat dapat memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi. Jika prospek ekonomi melemah, risiko capital outflow ikut meningkat dan rupiah bisa tertekan.

Sebaliknya, ketika perbankan kembali dibanjiri likuiditas, suku bunga pasar diharapkan turun dan kredit bisa mengalir lebih cepat. Pemerintah juga berharap prospek ekonomi kembali terlihat menarik di mata investor.

“Kalau kita balik, kan prospek ekonomi balik lagi. Orang cenderung investasi di negara yang ekonominya akan lari. Akibatnya rupiah akan menguat lagi,” kata Purbaya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden agar ekonomi bergerak dan berbagai hambatan dihilangkan.

Respons bank Himbara dan pembagian dana

Rencana penambahan dana itu disebut disambut positif oleh jajaran direksi lima bank Himbara, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Purbaya belum merinci porsi masing-masing bank penerima dana. Namun, ia menyebut Mandiri, BRI, dan BNI akan menerima jumlah yang sama, sementara BSI dan BTN akan mendapat porsi lebih kecil.

Penambahan dana ini menempatkan pemerintah pada strategi yang cukup agresif untuk meredakan ketatnya likuiditas perbankan. Dengan dana yang akan kembali dialirkan ke Himbara, pemerintah berharap kredit lebih lancar dan tekanan terhadap ekonomi serta rupiah bisa berkurang.

Source: finansial.bisnis.com

Terkait