Jawa Tengah diperkirakan memasuki fase paling rawan dari musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026. BMKG mengingatkan, di sejumlah wilayah, masa kering bahkan bisa berlangsung lebih panjang dan membuat kebutuhan air bersih serta risiko kebakaran lahan menjadi perhatian utama.
Peringatan ini muncul saat sebagian besar wilayah di provinsi itu sebenarnya sudah lebih dulu masuk musim kemarau sejak Mei. Namun, curah hujan yang masih sesekali turun di beberapa daerah membuat dampak kekeringan belum terasa merata.
Puncak kemarau datang lebih awal di sebagian wilayah
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menyebut puncak kemarau di wilayah ini datang lebih awal atau sesuai pola normal, tetapi curah hujannya berada pada kategori bawah normal. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta lebih waspada, terutama di daerah yang lebih cepat mencapai periode terkering.
Menurut BMKG Jawa Tengah, ada wilayah yang diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli 2026, sementara secara umum puncaknya jatuh pada Agustus 2026. Perbedaan waktu ini menunjukkan bahwa tingkat risiko tidak sama di seluruh daerah.
Durasi kemarau tidak seragam
BMKG mencatat durasi musim kemarau tahun ini umumnya berada di kisaran 16–18 dasarian atau sekitar 5–6 bulan. Namun, ada wilayah tertentu yang diperkirakan mengalami kemarau ekstrem dengan durasi 25–27 dasarian, setara 8–9 bulan.
Artinya, sebagian daerah akan lebih lama menghadapi kondisi kering dibanding wilayah lain. Bagi warga, perbedaan ini penting karena menentukan kapan pasokan air mulai menipis dan kapan kewaspadaan terhadap kebakaran perlu ditingkatkan.
| Periode puncak | Wilayah yang diperkirakan terdampak |
|---|---|
| Juli 2026 | Kota Surakarta, sebagian besar Kabupaten Kudus dan Blora, sebagian Demak, Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo |
| Juli 2026 | Sejumlah area kecil di Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati, Rembang, Grobogan, Boyolali, dan Wonogiri |
| Agustus 2026 | Kota Tegal, Pekalongan, Semarang, Salatiga, dan Magelang |
| Agustus 2026 | Kabupaten Brebes, Tegal, Kendal, Semarang, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap |
| Agustus 2026 | Sebagian besar Pemalang, Pekalongan, Batang, Pati, Rembang, Grobogan, Boyolali, Sukoharjo, dan Wonogiri |
| September 2026 | Kepulauan Karimunjawa |
Karimunjawa paling akhir mencapai puncak
Di antara seluruh wilayah yang dipetakan, Kepulauan Karimunjawa diprediksi menjadi daerah yang paling akhir mencapai puncak musim kemarau. Wilayah kepulauan itu baru diperkirakan masuk fase puncak pada September 2026.
BMKG Jawa Tengah mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih dan mewaspadai potensi kebakaran lahan. Peringatan ini penting karena intensitas hujan di banyak wilayah berada di bawah normal saat puncak kemarau berlangsung.
