Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampak terharu saat menghadiri open house Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta. Di tengah penampilan para siswa, ingatannya soal pentingnya beasiswa dan pendidikan kembali mengemuka.
Kehadiran Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Pramono disambut meriah oleh para siswa yang menampilkan yel-yel, baris variasi, tari, hingga berbagai bakat lain. Suasana hangat itu juga dihadiri para orang tua siswa yang menyaksikan langsung penampilan anak-anak mereka.
Sambutan meriah dari para siswa
Para siswa yang mengenakan seragam PDL hijau army meneriakkan yel-yel kebanggaan sekolah saat dua tokoh itu tiba di lokasi. Seruan “Aku anak hebat Sekolah Rakyat, setiap hari rajin ibadah, maju berprestasi, semangat belajar, jadi juara. SRMA 10 Jakarta, satu hati satu jiwa!” menggema di area sekolah.
Setelah itu, pertunjukan berlanjut dengan baris variasi memakai seragam pesiar merah marun, lalu disusul tarian dan penampilan lain yang memperlihatkan percaya diri para peserta didik. Gus Ipul dan Pramono terlihat tersenyum menyaksikan antusiasme mereka.
Percakapan singkat yang menyentuh
Sebelum masuk ke aula, Pramono sempat berbincang singkat dengan Muhammad Sesa, salah satu siswa yang ikut dalam atraksi. Saat ditanya tentang latar belakang sekolahnya, Sesa menjawab bahwa dirinya sempat putus sekolah.
Pramono merespons dengan hangat saat Sesa mengaku senang bisa kembali bersekolah. Ia mengingatkan agar siswa itu tetap rajin belajar dan menjaga semangatnya.
Panggung bagi bakat dan keberanian
Open house kemudian menjadi panggung bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka di depan tamu undangan. Dua siswa SRMA 10 Jakarta, Jasmia Kusuma Dewi dan Naira Intan Safitri, memandu acara dengan percaya diri.
Beragam penampilan mengisi agenda, mulai dari tari Gadis Bersolek Betawi, karate, pidato dalam bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin, paduan suara, hingga pembacaan puisi. Susunan itu menunjukkan bahwa sekolah memberi ruang bagi disiplin, bakat, dan keberanian tampil.
| Penampilan | Keterangan | Pelaksana |
|---|---|---|
| Baris variasi | Dengan seragam pesiar merah marun | Siswa SRMA 10 Jakarta |
| Tari Gadis Bersolek Betawi | Menampilkan unsur budaya Betawi | Siswa SRMA 10 Jakarta |
| Pidato | Dalam bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin | Siswa SRMA 10 Jakarta |
| Pertunjukan lain | Karate, paduan suara, dan pembacaan puisi | Siswa SRMA 10 Jakarta |
Sekolah Rakyat sebagai jalan memutus kemiskinan
Dalam sambutannya, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi besar Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan. Menurut dia, program ini tidak hanya menjaga anak-anak tetap sekolah, tetapi juga mendorong pemberdayaan keluarga mereka.
Ia menjelaskan bahwa orang tua siswa juga akan didukung melalui program strategis pemerintah, termasuk perbaikan rumah agar lebih layak huni. Tujuannya adalah membuat anak lulus sekolah dan orang tua menjadi lebih mandiri tanpa terus bergantung pada bantuan sosial.
Gus Ipul juga menyebut lulusan Sekolah Rakyat punya dua jalur masa depan, yaitu melanjutkan kuliah atau masuk dunia kerja sebagai tenaga terampil sesuai bakat. Ia bahkan menyinggung kemungkinan lahirnya calon pemimpin nasional dari sekolah ini pada masa mendatang.
Jumlah siswa terus bertambah
Sekolah Rakyat saat ini disebut telah menjangkau lebih dari 15 ribu siswa di 166 titik di seluruh Indonesia. Pada tahun ajaran 2026/2027, jumlah itu akan bertambah lebih dari 32 ribu siswa sehingga totalnya diperkirakan mencapai sekitar 45 ribu siswa.
Khusus SRMA 10 Jakarta, penjangkauan calon siswa untuk tahun ajaran 2026/2027 sudah mencapai 90 siswa jenjang SMA, 90 siswa jenjang SMP, dan 27 siswa jenjang SD. Penjangkauan untuk jenjang SD masih berlangsung sampai kuota terpenuhi.
Gus Ipul juga menegaskan tiga larangan utama di lingkungan Sekolah Rakyat. Tidak boleh ada bullying, tidak boleh ada kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, dan tidak boleh ada intoleransi.
Pramono melihat harapan pada wajah para siswa
Pramono Anung mengatakan pendidikan adalah investasi jangka panjang yang dapat mengubah kehidupan keluarga. Ia menyebut pengalaman pribadinya membuat ia memahami arti bantuan pendidikan, termasuk beasiswa yang pernah membuka jalan baginya.
Ia menilai wajah para siswa Sekolah Rakyat kini menunjukkan harapan dan semangat untuk menatap masa depan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga disebut siap mendukung pengembangan sekolah itu, termasuk membahas penambahan kapasitas sekitar seribu siswa di Jakarta.
Perubahan siswa yang menguatkan pesan sekolah
Kepala SRMA 10 Jakarta, Ratu Mulyanengsih, mengatakan dirinya mendampingi para siswa hampir satu tahun. Ia mengaku sempat menangis saat melihat kondisi awal mereka, namun kini terharu karena perubahan besar yang ditunjukkan para peserta didik.
Perubahan itu juga terlihat dari Naira Intan Safitri, pembawa acara dalam open house. Gus Ipul mengetahui bahwa Naira kehilangan ibu, sementara ayahnya yang bekerja sebagai tukang pijat kini berjuang melawan stroke, tetapi ia tetap tampil percaya diri di depan publik.
Gus Ipul menilai kisah Naira menjadi bukti bahwa negara tidak meninggalkan anak-anak dari keluarga rentan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Kehadiran Sekolah Rakyat, menurut dia, adalah bentuk keberpihakan kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Acara ditutup dengan yel-yel khas Sekolah Rakyat yang diteriakkan bersama oleh Gus Ipul, Pramono, dan para siswa. Seruan “Cerdas bersama, Tumbuh setara!” serta “Sayangi orang tua, hormati guru!” menjadi penanda akhir suasana penuh harapan di SRMA 10 Jakarta.
Source: www.suara.com






