Presiden Prabowo Subianto kembali melempar pertanyaan yang menyentuh persoalan lama industri nasional, yakni mengapa Indonesia belum mampu memproduksi mobil buatan sendiri meski sudah berusia 81 tahun. Pertanyaan itu ia sampaikan di hadapan para akademisi dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta International Convention Center, Jakarta.
Di forum itu, Prabowo tidak hanya menyoroti sektor otomotif. Ia juga menyinggung kemandirian pada komoditas strategis lain, mulai dari benih gandum hingga produktivitas kelapa sawit, dan meminta kalangan kampus ikut mencari jawaban atas ketergantungan Indonesia pada impor dan produk luar negeri.
Kampus diminta ikut mencari jawaban
Prabowo menyebut dirinya kerap datang ke kampus untuk berdiskusi dengan para ahli. Ia mengaku terus mengajukan pertanyaan serupa kepada akademisi soal gandum, sawit, dan kebutuhan strategis lain yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi secara mandiri.
Dalam konteks otomotif, pertanyaan itu mengarah pada satu hal sederhana namun besar dampaknya, yaitu mengapa Indonesia belum memiliki kendaraan yang benar-benar lahir dari kapasitas produksi dalam negeri. Di hadapan rektor, dekan, dan dosen yang hadir, ia menegaskan pertanyaan itu secara langsung.
“Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri?” ujarnya.
Maung dipakai sebagai contoh dukungan industri lokal
Di tengah sorotan itu, Prabowo menjelaskan bahwa pemerintah sudah mulai memberi contoh dengan menggunakan kendaraan buatan dalam negeri. Setelah dilantik sebagai Presiden, ia memilih Maung MV3 Garuda Limousine produksi PT Pindad sebagai mobil kepresidenan.
Prabowo mengatakan ada kepuasan tersendiri ketika usai pelantikan di Gedung DPR menuju Istana Merdeka, ia langsung menggunakan mobil karya anak bangsa tersebut. Ia juga menilai desain dan pembuatannya berasal dari Indonesia, meski tidak sepenuhnya dikerjakan di dalam negeri.
“Tidak 100%, dan tidak ada mobil di dunia yang 100% produknya dari satu negara. Tapi kalau 65%, 70%, itu sudah boleh kita klaim buatan Indonesia,” kata Prabowo.
Masih ada pekerjaan teknis yang harus dibereskan
Prabowo juga mengakui bahwa penggunaan Maung sebagai mobil kepresidenan sempat menghadapi kendala teknis. Ia menyebut ada persoalan pada awal penggunaan, termasuk saat hujan deras yang membuat kendaraan itu bocor.
Namun, menurutnya, kendala seperti itu harus diperbaiki, bukan dijadikan alasan untuk berhenti. Ia menilai sikap berani memulai jauh lebih penting agar industri nasional tetap bergerak dan berkembang.
“Enggak apa-apa, minimal kita mulai, kita harus berani mulai,” ucapnya.
Arah pengembangan ke mobil dan motor listrik
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kemudian menjelaskan bahwa pesan Prabowo menekankan perlunya lebih banyak tenaga ahli terampil untuk mengembangkan kendaraan nasional. Menurut dia, arah pengembangan yang dibicarakan pemerintah kemungkinan besar mengarah pada mobil dan motor listrik.
Prasetyo mengatakan pemerintah berharap para ahli dari kampus dan dunia riset bisa bergabung untuk menyempurnakan kualitas kendaraan nasional. Fokusnya tidak hanya pada mobil, tetapi juga pada sepeda motor yang selama ini menjadi kebutuhan besar masyarakat Indonesia.
Prabowo menyinggung bahwa Indonesia membeli sekitar 10 juta motor setiap tahun. Angka itu, menurut dia, memperlihatkan besarnya peluang untuk membangun kapasitas produksi nasional yang lebih kuat, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk luar negeri.
