GREAT Institute mendorong Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah diplomatik yang tidak biasa, yakni menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, atau melakukan kunjungan kenegaraan ke Iran. Usulan itu dipandang sebagai sinyal bahwa Indonesia ingin tampil lebih aktif dalam percaturan Timur Tengah.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion bertajuk Peran Indonesia Pasca Perang Amerika–Iran di Jakarta, Selasa (7/7). Forum itu menilai momentum pascakonflik Amerika Serikat dan Iran perlu dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat arah kebijakan luar negeri yang lebih terukur.
Hubungan Indonesia-Iran yang Ingin Diperkuat Lagi
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, menilai dinamika geopolitik yang berkembang membuka ruang bagi Indonesia untuk menata ulang prioritas diplomasi. Menurut dia, kehadiran Prabowo pada momentum penting di Iran dapat menjadi tanda keseriusan Indonesia mempererat hubungan bilateral.
Forum itu juga melihat perlunya menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika dalam relasi Indonesia dan Iran. Dalam pandangan GREAT Institute, hubungan strategis dengan Iran dan Turki dapat menjadi bagian dari upaya membangun poros kerja sama baru di dunia Islam.
Indonesia Dinilai Punya Modal Untuk Jadi Jembatan
Rekomendasi itu lahir dari diskusi yang melibatkan akademisi, diplomat, ekonom, peneliti, dan pakar geopolitik. Mereka membahas dampak konflik Amerika Serikat dan Iran terhadap kepentingan nasional Indonesia.
Para peserta juga menyoroti bahwa persaingan global kini tidak hanya terjadi di medan militer. Perang informasi, siber, ekonomi, teknologi, dan diplomasi ikut menentukan arah kekuatan antarnegara.
Karena itu, Indonesia dinilai perlu memiliki strategi nasional yang lebih matang agar tidak sekadar bereaksi terhadap krisis internasional. Tanpa kejelasan arah kepentingan nasional, diplomasi Indonesia disebut berisiko menjadi reaktif.
| Modal Diplomatik Indonesia | Keterangan |
|---|---|
| Negara berpenduduk Muslim terbesar | Memberi bobot moral dan politik dalam isu dunia Islam |
| Keanggotaan G20 | Membuka ruang lebih luas dalam percakapan ekonomi global |
| Keanggotaan ASEAN, BRICS, dan OKI | Memperkuat posisi Indonesia sebagai bridge builder |
Peserta diskusi menilai modal itu membuat Indonesia berpeluang mengambil peran penghubung di tengah rivalitas global yang makin tajam. Dalam konteks itu, langkah ke Iran dipandang bukan sekadar simbolik, tetapi bagian dari penataan posisi strategis Indonesia.
Pelajaran dari Ketahanan Iran
Forum juga menyoroti pengalaman Iran menghadapi embargo internasional selama puluhan tahun. Kondisi tersebut dinilai memberi pelajaran tentang pentingnya ketahanan nasional di tengah tekanan eksternal.
Kemandirian ekonomi, energi, teknologi, industri pertahanan, dan kohesi sosial disebut sebagai unsur yang menentukan daya tahan negara. GREAT Institute kemudian mendorong pemerintah memperkuat ketahanan nasional di sektor pertahanan, energi, pangan, fiskal, informasi, maritim, dan penguasaan teknologi strategis.
Forum menilai penguatan itu penting agar Indonesia bisa menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan lebih berwibawa. Dalam FGD tersebut, narasumber yang hadir antara lain Nasir Tamara, Dian Wirengjurit, Teguh Santosa, Anton Permana, Dina Sulaeman, Bursah Zarnubi, Fitra Faisal, Rizal Darma Putra, Zaman Syah, dan Abdullah Rasyid.
Source: mediaindonesia.com






