Presiden Prabowo Subianto menempatkan proyek pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt sebagai pesan utama Indonesia di forum KTT ASEAN di Cebu, Filipina. Sorotan itu bukan sekadar pamer capaian, tetapi sinyal bahwa transisi energi mulai diposisikan sebagai agenda strategis di tingkat kawasan.
Dalam rangkaian KTT ke-48 ASEAN, Prabowo membawa PLTS 100 GW sebagai contoh konkret upaya pemerintah mempercepat energi baru terbarukan. Ia menautkan proyek itu dengan kebutuhan memperkuat ketahanan energi di tengah tekanan global yang masih tinggi.
PLTS 100 GW Jadi Penanda Arah Baru
Prabowo menyebut pengembangan PLTS 100 GW sebagai bukti komitmen pemerintah dalam mendorong energi bersih. Pemerintah juga disebut terus mengakselerasi proyek tersebut sebagai salah satu penggerak utama transisi energi nasional.
Pada tahap awal, proyek ini ditargetkan mencapai kapasitas 13 GW hingga 17 GW. Prabowo bahkan menyampaikan target agar PLTS 100 GW dapat rampung dalam waktu dua tahun untuk mempercepat peralihan energi.
Pesan ke ASEAN: Jangan Berhenti di Potensi
Pernyataan Prabowo muncul saat ia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Khusus BIMP-EAGA, forum yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ASEAN. Di forum itu, ia menempatkan proyek PLTS sebagai bagian dari agenda besar yang tidak hanya menyentuh Indonesia, tetapi juga kawasan Asia Tenggara.
Prabowo menilai ASEAN memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar. Ia menyebut potensi tenaga air, tenaga surya, tenaga angin, serta lahan subur yang belum dimanfaatkan optimal di Brunei, Malaysia, Filipina, dan wilayah sekitarnya.
Ia mendorong negara-negara anggota untuk bergerak dari sekadar mengakui potensi menuju aksi nyata. Menurutnya, pemanfaatan sumber energi itu tidak hanya penting untuk kebutuhan subregional, tetapi juga untuk mendukung transisi energi ASEAN secara lebih luas.
"Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN," kata Prabowo.
Proyek Nyata yang Disorot di Kawasan
Prabowo juga menyinggung sejumlah peluang proyek yang bisa dipercepat di kawasan. Ia menyebut pengembangan tenaga air di Borneo, perluasan proyek energi surya di Palawan, dan pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir sebagai agenda yang dapat didorong bersama.
Di saat yang sama, ia menekankan pentingnya konektivitas subkawasan agar energi bisa mengalir lebih efisien. Salah satu yang ia soroti adalah peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans Borneo Power Grid.
Butuh Pendanaan, Keahlian, dan Kemitraan
Prabowo menegaskan bahwa seluruh agenda energi bersih itu tidak akan berjalan tanpa dukungan pembiayaan dan keahlian teknis. Ia juga menilai kemitraan dengan para mitra pembangunan regional perlu diperkuat agar proyek-proyek energi bisa berjalan lebih cepat.
"Semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan yang tepat. Kita perlu mengamankan pendanaan, memobilisasi keahlian teknis; dan memperdalam kemitraan dengan penasihat regional dan Mitra Pembangunan kita," ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa transisi energi kini tidak lagi dipandang sebagai urusan domestik semata. Dalam forum BIMP-EAGA, Prabowo menempatkan ketahanan energi sebagai tantangan bersama di tengah tekanan global dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah.
Bagi Indonesia, penyebutan PLTS 100 GW di forum ASEAN memberi sinyal bahwa energi surya mulai mendapat tempat sentral dalam strategi energi nasional. Bagi kawasan, pesan yang dibawa Prabowo menekankan satu hal yang sama: potensi besar tidak akan berarti jika tidak segera diterjemahkan menjadi proyek nyata.
Source: www.beritasatu.com