Port USB di monitor sering terlihat seperti solusi paling praktis untuk meja kerja yang rapi. Namun, fungsi itu bukan pengganti hub berkecepatan tinggi atau stasiun daya penuh.
Kenyamanan memang jadi alasan utama orang memakainya. Perangkat seperti flash drive, controller, atau light bar jadi lebih mudah dicolok dan dicabut karena port berada dekat layar.
Bandwidth tetap berbagi lewat satu jalur
Masalahnya, port USB monitor harus berbagi bandwidth melalui satu kabel upstream ke PC. Kecepatan total tetap dibatasi oleh port komputer, kabel, dan port monitor itu sendiri.
Artinya, dua perangkat USB 3.0 yang dipakai bersamaan tidak bisa sama-sama mendapat kecepatan maksimum. Pada LG 27GR83Q-B, dua port USB 3.0 Type-A di bagian belakang berbagi satu kabel USB 3.0 upstream, sehingga bandwidth tidak bisa dipakai penuh oleh masing-masing perangkat.
Untuk kebutuhan kecepatan, perangkat terbaik tetap dipasang langsung ke PC. Prinsip ini juga berlaku pada Thunderbolt, karena bandwidth tetap terbagi seperti banyak USB hub lain.
Daya monitor juga bukan untuk semua perangkat
Port USB monitor juga tidak dirancang sebagai sumber daya utama. USB 3.2, 3.1, dan 3.0 hanya mendukung daya maksimum 4,5W atau 900mA, sedangkan USB 2.0 hanya 2,5W atau 500mA.
Karena itu, perangkat yang butuh daya lebih besar bisa menjadi tidak stabil saat dipasang ke monitor. Sebuah humidifier yang membutuhkan 5W/1A sempat gagal menyala setengah waktu, lalu baru berjalan setelah LED bawaannya dimatikan untuk mengurangi konsumsi daya.
Di monitor tanpa port USB bertenaga, daya juga terbagi antarput. Menyalakan light bar lalu menambah perangkat lain seperti humidifier bisa membuat suplai daya bermasalah.
Powered hub dan dock masih lebih aman
Berbeda dengan itu, powered USB hub memakai sumber daya terpisah. Perangkat seperti TP-Link UH720 bisa dipakai untuk mengisi daya dan menyalakan berbagai perangkat meja, termasuk lampu, monitor light, USB fan, humidifier, dan penghangat mug.
Tidak semua monitor punya kemampuan daya yang sama. Dell UltraSharp U2723QE, misalnya, mendukung power delivery 90W sehingga laptop bisa menerima sinyal dan pengisian daya lewat satu kabel.
Namun, USB-C yang benar-benar mendukung 240W Power Delivery belum tersedia pada monitor yang diketahui sejauh ini. USB-C upstream juga umumnya muncul di monitor yang lebih mahal, meski masih berguna karena bisa memberi daya 15W atau 3A.
Ada pula USB Battery Charging atau BC pada monitor tertentu. Standar ini bisa mencapai 7,5W atau 1,5A, dan cocok untuk pengisian perlahan maupun perangkat yang butuh 5W atau 1A.
Risiko saat monitor mati atau standby
Karena sinyal melewati rangkaian internal monitor, perilaku port bisa berubah saat layar dimatikan. Pada Philips 346E2CUAE, port USB bisa ikut mati saat monitor masuk mode standby.
Pada beberapa monitor OLED seperti Alienware AW3423DW, port juga bisa terputus setelah pixel refresh. Gangguan seperti putus sinyal acak memang tidak terlalu masalah untuk lampu monitor, tetapi bisa berisiko saat transfer file karena data dapat rusak atau hilang.
Sebagian monitor juga membutuhkan driver atau software bawaan agar fungsi USB aktif sepenuhnya. Meski begitu, banyak hub monitor modern sudah bersifat plug-and-play, sehingga tetap praktis untuk perangkat ringan di meja kerja.
Bagi yang ingin setup lebih andal, dock Thunderbolt atau powered USB hub tetap menjadi pilihan yang lebih aman. Keduanya tidak dibatasi cara kerja port monitor yang biasanya lebih terbatas dalam daya dan bandwidth.







