Porsche sedang menghadapi tekanan yang sangat berat di China, pasar yang kini justru berubah menjadi sumber masalah bagi merek premium asal Jerman itu. Laba operasi sepanjang 2025 anjlok 92,7 persen menjadi 3,198 miliar yuan, menandai betapa kerasnya hantaman dari dominasi kendaraan listrik lokal.
Di saat penjualan global ikut melemah, selera konsumen China bergeser cepat ke kendaraan listrik dengan teknologi digital yang lebih maju. Pergeseran itu membuat posisi Porsche makin sulit dipertahankan, terutama di segmen premium yang selama ini menjadi kekuatannya.
Laba dan pendapatan ikut terkikis
CarNewsChina melaporkan pendapatan Porsche pada 2025 turun menjadi 280,887 miliar yuan. Pada periode yang sama, return on sales menyusut hingga 1,1 persen, jauh dari level yang menunjukkan bisnis sehat di pasar premium.
Tekanan keuangan itu sejalan dengan turunnya volume pengiriman kendaraan. Secara global, Porsche hanya mengirim 279.449 unit sepanjang 2025, turun 10 persen dari periode sebelumnya.
| Indikator | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|
| Laba operasi | 3,198 miliar yuan | Anjlok 92,7 persen |
| Pendapatan | 280,887 miliar yuan | Turun |
| Return on sales | 1,1 persen | Menurun |
| Pengiriman global | 279.449 unit | Turun 10 persen |
| Penjualan di China | 41.938 unit | Turun 26 persen |
China menjadi titik paling berat bagi Porsche. Penjualan di negara itu merosot 26 persen menjadi 41.938 unit, mempertegas bahwa salah satu pasar penting perusahaan kini justru memberi tekanan terbesar.
Awal 2026 belum memberi napas lega
Tren pelemahan itu berlanjut pada kuartal I 2026. Porsche mencatat pengiriman global turun 15 persen menjadi 60.991 unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di China, penjualan kembali terkoreksi 21 persen. Laporan tersebut menyebut meningkatnya daya saing battery electric vehicle atau BEV buatan produsen domestik sebagai salah satu penyebab utama terkikisnya pangsa pasar Porsche.
Arsitektur produk Porsche juga dinilai makin sulit bersaing di pasar premium China. Konsumen di negara itu disebut makin memilih kendaraan listrik dengan paket teknologi dan fitur digital yang lebih maju.
Efisiensi jadi pilihan di jaringan China
Untuk merespons tekanan tersebut, Porsche mulai menyesuaikan strategi bisnis di China. Perusahaan mengakhiri otorisasi penjualan kendaraan untuk empat dealer regional mulai 30 Juni, setelah sebelumnya menutup sejumlah showroom di kawasan metropolitan.
Langkah itu menjadi bagian dari konsolidasi jaringan distribusi. Porsche berencana memangkas jumlah dealer di China dari sekitar 150 menjadi sekitar 80 pusat penjualan demi meningkatkan efisiensi operasional.
Penyesuaian juga terjadi di sisi produksi. Porsche menghentikan produksi beberapa varian kendaraan listrik, termasuk Taycan Sport Turismo, sambil menjalankan program pengurangan sekitar 3.900 karyawan secara global untuk menekan biaya operasional.
Dealer ikut merasakan dampaknya
Tekanan di pasar premium China tidak hanya memukul produsen, tetapi juga jaringan penjualannya. Data Asosiasi Dealer Otomotif China menunjukkan 81,9 persen dealer otomotif premium di negara itu menjual kendaraan di bawah harga grosir demi memenuhi target penjualan dari produsen.
Kondisi tersebut membuat margin laba kotor mobil baru turun hingga minus 25,5 persen. Jaringan dealer bahkan dilaporkan menanggung kerugian sekitar 20.000 yuan hingga 30.000 yuan untuk setiap unit kendaraan yang berhasil dijual.
Situasi ini menggambarkan betapa ketatnya persaingan di pasar otomotif premium China, di saat produsen kendaraan listrik domestik makin kuat dengan tawaran teknologi, perangkat lunak, dan fitur digital yang semakin kompetitif.







