Piala Dunia 2026 bukan hanya arena perebutan trofi, tetapi juga panggung yang memperlihatkan bagaimana tim nasional bisa merangkul perbedaan. Di tengah polarisasi sosial yang makin tajam di sejumlah negara, turnamen ini menghadirkan contoh bahwa pemain dari latar agama dan budaya berbeda tetap bisa bergerak dalam satu tujuan.
Di banyak skuad Eropa Barat, keberagaman itu tampak jelas. Inggris kini diperkuat pemain muslim untuk pertama kalinya, Prancis memiliki pemain berlatar Protestan, Katolik, dan Islam, sementara Spanyol menonjol lewat Lamine Yamal yang dikenal sebagai muslim taat.
Keberagaman yang Tidak Mengganggu Kekompakan
Perubahan komposisi pemain di tim nasional tidak lepas dari realitas sosial di negara masing-masing. Sejumlah negara juga menghadapi tantangan meningkatnya jumlah imigran muslim dalam beberapa tahun terakhir, tetapi sepak bola justru memperlihatkan ruang perjumpaan yang berbeda.
Eboo Patel, Presiden Interfaith America, menilai simbol-simbol keagamaan yang ditampilkan para pemain mengirim pesan kuat. Ia menyebut pemandangan pemain Kristen membuat tanda salib dan pemain muslim berdoa dengan caranya masing-masing sebagai sesuatu yang “simbolis sekaligus nyata”.
Menurut Patel, perbedaan itu tidak merusak solidaritas tim. “Mereka mencetak gol, berdoa sesuai keyakinan masing-masing, lalu saling berpelukan,” ujarnya.
Tokoh-Tokoh yang Membawa Identitasnya ke Lapangan
Salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan ekspresi keyakinan di sepak bola modern adalah Mohamed Salah. Penyerang Mesir yang lama menjadi bintang Liverpool itu dikenal sebagai Muslim Sunni dan kerap melakukan sujud syukur setiap kali mencetak gol.
Pengaruh Salah tidak berhenti pada performa di lapangan. Sejumlah penelitian menunjukkan unggahan bernada antimuslim dari suporter Liverpool menurun signifikan setelah kehadirannya di klub tersebut.
Dari Kroasia, Luka Modric menunjukkan keterikatan kuat dengan iman Katolik yang dianutnya. Pemain berusia 40 tahun yang tampil pada Piala Dunia kelima itu kerap mengenakan pelindung tulang kering bergambar Yesus Kristus dan Bunda Maria.
Sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti Piala Dunia, Modric bersama sejumlah pemain Kroasia juga menghadiri misa di sebuah kapel di Icici. Di sisi lain, bek Inggris Djed Spence mencatat sejarah sebagai pemain muslim pertama yang tampil untuk tim nasional senior Inggris setelah enam kali memperkuat tim U-21.
“Senang bisa mencetak sejarah dan semoga dapat menginspirasi anak-anak muda di seluruh dunia,” kata Spence kepada BBC.
Lamine Yamal, Marc Guehi, dan Wajah Baru Identitas di Tim Nasional
Lamine Yamal kembali menjadi perhatian publik karena latar keluarganya dan sikapnya yang terbuka terhadap isu kemanusiaan. Pemain muda Spanyol yang memiliki ayah keturunan Maroko itu sempat menuai sorotan internasional setelah mengibarkan bendera Palestina saat perayaan gelar juara Liga Spanyol bersama Barcelona pada Mei lalu.
Aksinya memunculkan beragam reaksi, termasuk kritik dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menilai tindakan itu memicu kebencian. Di Inggris, Marc Guehi juga dikenal terbuka soal iman Kristennya sebagai putra seorang pendeta di London.
Guehi pernah menjadi perhatian saat menuliskan pesan keagamaan pada ban kapten dalam kampanye Liga Inggris yang mendukung inklusi LGBTQ+. Meski melanggar aturan Federasi Sepak Bola Inggris yang melarang pesan keagamaan pada perlengkapan pertandingan, ia tidak mendapat hukuman.
Irak dan Amerika Serikat Menunjukkan Pola Serupa
Keberagaman serupa juga terlihat di timnas Irak yang dihuni pemain dari berbagai kelompok, termasuk Kurdi, Muslim Sunni, Muslim Syiah, dan umat Kristen. Komposisi itu menjadi perhatian khusus karena populasi umat Kristen di Irak menurun drastis dalam dua dekade terakhir.
Salah satu pemainnya, Aimar Sher, menunjukkan keyakinannya secara terbuka di media sosial dengan mengunggah foto mengenakan kaus bertuliskan “I Belong to Jesus”. Dari Amerika Serikat, kapten Christian Pulisic juga tidak menutupi identitas Kristennya dan kerap mengenakan kalung salib pemberian ibunya.
Pulisic bahkan beberapa kali memimpin kegiatan pembacaan Alkitab bersama rekan-rekan setimnya. Beberapa pemain lain seperti Weston McKennie dan penjaga gawang Matt Freese juga terbuka soal iman mereka, menambah gambaran bahwa ruang kepercayaan pribadi tetap hidup di tengah tuntutan performa tim nasional.
Piala Dunia 2026 pada akhirnya memperlihatkan bahwa keberagaman agama dan budaya tidak harus menjadi garis pemisah. Di lapangan, perbedaan justru bisa menjadi modal sosial untuk memperkuat solidaritas, membangun rasa saling hormat, dan menghadirkan pesan persatuan yang melampaui batas negara, keyakinan, dan latar belakang.
Source: www.beritasatu.com






