PHEV Makin Terjangkau, Mobil Cina Mulai Ubah Peta Elektrifikasi Indonesia

Author: Cung Media

Peta elektrifikasi Indonesia mulai bergeser ketika PHEV dari merek mobil Cina masuk dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Jika sebelumnya teknologi ini identik dengan banderol Rp 1 miliar ke atas, kini sejumlah model sudah turun ke area yang lebih realistis bagi kelas menengah.

Perubahan ini penting karena PHEV muncul sebagai jembatan di masa transisi elektrifikasi. Teknologi tersebut tetap menawarkan efisiensi BBM tanpa menuntut infrastruktur charging khusus, sementara adopsi EV murni masih tertahan oleh harga beli yang tinggi dan jaringan pengisian yang belum merata.

Harga yang turun, pilihan yang ikut meluas

Chery menjadi salah satu merek yang paling dulu mendorong pergeseran itu lewat Tiggo 8 CSH yang dipasarkan di kisaran Rp 400 jutaan ke atas. Setelah itu, Chery menambah lini PHEV lain dengan Tiggo 9 CSH yang ditempatkan di kelas di atasnya.

Dari grup yang sama, submerek Jaecoo juga ikut masuk dengan J7 SHS dan J8 SHS. Keduanya bermain di segmen Sport Utility Vehicle dan memperlihatkan bahwa pasar PHEV tidak lagi berhenti pada satu nama saja.

BYD kemudian memperluas persaingan lewat M6 DM-i yang dibanderol Rp 298 jutaan sampai Rp 390 jutaan. Dengan rentang harga itu, PHEV dari merek Cina mulai terlihat sebagai opsi yang lebih dekat dengan daya beli konsumen dibandingkan model elektrifikasi yang sebelumnya jauh lebih mahal.

Posisi penting di masa transisi

Meski belum mendominasi segmen elektrifikasi, kehadiran PHEV dari merek Cina menjadi momentum penting bagi industri otomotif nasional. Tren kendaraan ramah lingkungan juga disebut menunjukkan pertumbuhan signifikan pada 2026.

Yannes Martinus Pasaribu, Akademisi dan Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung, menilai hybrid berperan sebagai jembatan paling aman. Menurut dia, teknologi ini membantu konsumen menghemat BBM tanpa harus bergantung pada fasilitas pengisian daya khusus.

Yannes juga melihat strategi PHEV dan Range Extender Electric Vehicle atau REEV dari merek Cina sangat cocok dengan kondisi Indonesia. Ia menilai pendekatan itu tidak memaksa konsumen langsung beralih ke full EV seperti yang terjadi di Eropa atau Cina, melainkan menawarkan solusi transisi yang lebih realistis.

Pasar middle income masih jadi arena utama

Kenaikan harga BBM berpotensi ikut mendorong minat masyarakat terhadap kendaraan yang lebih efisien. Dalam kondisi itu, PHEV menjadi pilihan yang dianggap masuk akal karena menawarkan efisiensi tanpa meninggalkan rasa aman bagi pengguna yang belum siap sepenuhnya ke mobil listrik murni.

Yannes juga menegaskan bahwa pasar otomotif terbesar di Indonesia masih berada di segmen middle income class. Di kelompok ini, adopsi EV murni masih terkendala harga beli yang lebih mahal dibanding mobil ICE sekelasnya serta infrastruktur charging yang belum merata.

Karena itu, PHEV yang dipasarkan di bawah Rp 1 miliar punya peluang lebih besar menarik perhatian konsumen. Dengan deretan produk Chery, Jaecoo, dan BYD yang terus bertambah, persaingan di segmen ini diperkirakan makin ramai dan memperkuat posisi merek mobil Cina dalam peta elektrifikasi nasional.

Source: otomotif.katadata.co.id
Terbaru