Pertamina Siapkan SAF dan B50 dari Jawa Timur, Jalur Energi Hijau Mulai Bergerak

Pertamina mulai menempatkan Jawa Timur sebagai titik penting untuk mendorong transisi energi yang lebih bersih. Dari AFT Juanda hingga Integrated Terminal Surabaya, kesiapan pasokan avtur, bahan bakar berkelanjutan, dan biosolar B50 kini ikut diuji sebagai bagian dari penguatan operasi energi nasional.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menegaskan, pasokan energi di fasilitas strategis tidak boleh terganggu. Ia meminta kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia dijaga, karena kelancaran layanan avtur dan distribusi energi menjadi bagian vital dari operasi Pertamina.

SAF diposisikan sebagai langkah cepat menuju target energi bersih

Dalam kunjungan kerja ke wilayah Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Iriawan memulai peninjauan lewat Management Walkthrough ke Aviation Fuel Terminal Juanda dan Integrated Terminal Surabaya. Kunjungan ini dipakai untuk melihat langsung kesiapan fasilitas energi yang disebut strategis bagi operasional Pertamina di lapangan.

Di AFT Juanda, dorongan pada Sustainable Aviation Fuel atau SAF mendapat penekanan khusus. Iriawan menilai pengembangan SAF sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai penguatan kemandirian energi nasional dan pengurangan ketergantungan pada energi fosil impor.

Ia juga menilai SAF bukan sekadar tuntutan global, tetapi peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya domestik secara lebih optimal dan berkelanjutan. Karena itu, Juanda dipandang perlu menunjukkan kesiapan yang kuat agar transisi energi bisa berjalan lebih cepat.

IT Surabaya disiapkan untuk mendukung B50

Setelah dari Juanda, perhatian bergeser ke IT Surabaya yang disebut sebagai salah satu terminal energi terintegrasi terbesar di Indonesia. Fasilitas ini memegang peran penting dalam distribusi energi di kawasan timur Indonesia.

Manager IT Surabaya, Indriati Purba Lestari, melaporkan bahwa seluruh fasilitas dan infrastruktur terminal siap mendukung penyediaan serta distribusi biosolar B50. Kesiapan itu disampaikan menjelang rencana peluncuran program tersebut oleh Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat.

Iriawan meminta IT Surabaya menjadi pelopor pengembangan energi hijau di lingkungan Pertamina. Ia juga mendorong terminal itu menjadi contoh bagi terminal lain dalam penerapan program energi berkelanjutan.

Digitalisasi, aset vital, dan keselamatan tetap dijaga

Selain SAF dan B50, Iriawan menyoroti pentingnya penguatan digitalisasi untuk menjaga efisiensi dan mencegah kebocoran distribusi energi. Pemanfaatan Pertamina Integrated Command Center dan Terminal Automation System diminta terus dioptimalkan agar akuntabilitas distribusi semakin terjaga.

Ia juga menekankan keandalan aset vital di IT Surabaya, mulai dari tangki timbun, dermaga, hingga jaringan pipa. Di tengah dinamika geopolitik global yang bisa memengaruhi rantai pasok energi, cadangan operasional dinilai perlu diperkuat agar terminal domestik lebih tahan menghadapi gejolak pasar dunia.

Di atas semua itu, keselamatan kerja tetap ditempatkan sebagai prioritas utama. Budaya Corporate Life Saving Rules diminta melekat dalam perilaku harian agar aset negara terlindungi dan para pekerja bisa pulang dengan selamat.

FokusLokasiLangkah UtamaTujuan
SAFAFT JuandaMenjaga kesiapan infrastruktur dan SDMMenjamin pasokan avtur dan percepatan transisi energi
B50IT SurabayaMendukung penyediaan dan distribusi biosolar B50Menguatkan energi hijau dan distribusi di kawasan timur Indonesia

Dengan dua titik strategis di Jawa Timur itu, Pertamina memperlihatkan bahwa agenda energi hijau tidak hanya berhenti pada wacana. Kesiapan operasional, digitalisasi distribusi, dan pengamanan aset kini berjalan beriringan untuk menjaga pasokan energi tetap aman di tengah perubahan kebijakan dan kondisi pasar global.

Source: www.ogindonesia.com

Terkait