Kenaikan harga Pertamax ke level Rp17 ribu membuat pertimbangan membeli mobil baru ikut bergeser. Biaya operasional kini menjadi faktor yang lebih diperhatikan, dan situasi ini membuka ruang lebih besar bagi mobil elektrifikasi yang lebih hemat bahan bakar.
Di tengah perubahan itu, BYD disebut sedang menyiapkan lini PHEV untuk pasar Indonesia. Teknologi hybrid plug-in ini menawarkan fleksibilitas yang masih mengandalkan mesin bensin, tetapi dengan penggunaan bahan bakar yang jauh lebih efisien.
DM-i Jadi Andalan BYD
Pabrikan asal China itu mengandalkan sistem Dual Mode atau DM-i untuk model-model yang disiapkan. Sistem ini menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, dengan motor listrik menjadi sumber tenaga utama dalam banyak kondisi berkendara.
Mesin bensin akan bekerja saat dibutuhkan untuk menjaga efisiensi sekaligus memperpanjang jarak tempuh. Pendekatan ini membedakan PHEV dari hybrid konvensional karena fokus utamanya ada pada penekanan konsumsi bahan bakar secara signifikan.
Salah satu model yang paling menarik perhatian adalah BYD M6 DM-i. MPV keluarga tiga baris ini disebut akan memakai teknologi Super Hybrid DM-i yang telah diperbarui.
Dalam mode listrik murni, baterai hybrid pada model tersebut memungkinkan jarak tempuh sekitar 105 kilometer. Saat mesin bensin ikut bekerja, total jarak tempuhnya diklaim bisa mencapai sekitar 1.100 kilometer.
Angka itu terasa relevan saat harga bahan bakar naik. Bagi pengguna keluarga, kombinasi kabin tiga baris dan efisiensi tinggi bisa menjadi paket yang sulit diabaikan.
SUV Baru Menyusul
BYD juga menyiapkan SUV baru bernama Sealion 08 PHEV. Model ini dijadwalkan meluncur menjelang penyelenggaraan GIIAS 2026 dan membawa kemampuan jelajah gabungan hingga sekitar 900 kilometer.
Daya tempuh sepanjang itu memberi nilai jual kuat bagi pengguna yang kerap bepergian jauh. Mobil seperti ini menawarkan fleksibilitas tanpa membuat pengemudi terlalu sering berhenti mengisi bahan bakar.
Langkah agresif BYD juga terlihat lewat sub-brand premium Denza. Merek tersebut sebelumnya telah memperkenalkan Denza B5 dengan teknologi Dual Mode Offroad atau DMO.
Denza B8 juga dipersiapkan sebagai SUV tujuh penumpang dengan sistem Super Hybrid terbaru. Kehadiran model-model itu diperkirakan menambah tekanan pada SUV premium bermesin bensin murni.
Kenapa PHEV Jadi Semakin Relevan
Di tengah kenaikan harga bahan bakar, konsumen tidak lagi hanya melihat harga beli mobil. Mereka juga menghitung biaya kepemilikan jangka panjang, termasuk konsumsi bensin dan beban pajak tahunan.
Kendaraan listrik maupun elektrifikasi umumnya mendapat dukungan insentif yang membantu efisiensi biaya. Mobil listrik bahkan disebut memiliki pajak tahunan yang jauh lebih rendah dibanding kendaraan bermesin bensin pada kelas yang sama.
Karena itu, PHEV menjadi pilihan menarik bagi pembeli yang belum siap beralih penuh ke mobil listrik murni. Opsi ini tetap memberi fleksibilitas mesin bensin, tetapi dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat.
Bagi pasar Indonesia, pilihan seperti ini cocok untuk kebutuhan mobilitas yang beragam. Ada pengguna yang lebih sering melaju di dalam kota, tetapi tetap membutuhkan kendaraan yang nyaman dipakai untuk perjalanan jauh.
Menjelang GIIAS 2026
GIIAS 2026 diperkirakan menjadi panggung penting bagi BYD untuk menunjukkan kekuatan lini hybrid generasi terbarunya. Kombinasi efisiensi bahan bakar, jarak tempuh panjang, dan teknologi modern berpeluang menarik minat konsumen dalam jumlah besar.
Jika model-model yang disiapkan itu meluncur sesuai rencana, persaingan pasar elektrifikasi nasional akan makin ketat. Dalam kondisi harga Pertamax yang tinggi, mobil hybrid super irit seperti BYD M6 DM-i dan Sealion 08 PHEV bisa menjadi pertimbangan baru bagi pembeli mobil di Indonesia.







