Kenaikan harga Pertamax langsung mengubah beban pengeluaran bagi pemilik mobil yang rutin memakai BBM non-subsidi. Selisih harga yang kini melebar jauh dengan Pertalite membuat dampaknya terasa paling besar di kelompok rumah tangga mampu.
Harga Pertamax kini berada di Rp16.250 per liter, naik dari sebelumnya Rp12.300. Di saat yang sama, Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sehingga jarak harga keduanya menjadi Rp6.250 per liter dan menjadi selisih terlebar sepanjang sejarah.
Beban paling besar ada di kelompok terkaya
Pakar energi Universitas Padjajaran, Yayan Satyakti, menilai dampak kenaikan ini tidak merata di semua lapisan masyarakat. Kelompok desil 1 atau masyarakat termiskin dinilai tidak terlalu terdampak karena memang tidak menggunakan Pertamax.
Untuk desil 5-7, atau kelas menengah, sebagian konsumen diperkirakan menyesuaikan pola konsumsi agar pengeluaran bulanan tetap terkendali. Salah satu kemungkinan yang paling masuk akal adalah berpindah dari Pertamax ke Pertalite.
Dampak paling berat justru diperkirakan dirasakan desil 8-9 dan desil 10, yang banyak berisi pengguna mobil reguler hingga rumah tangga terkaya. Pada kelompok ini, kenaikan harga Pertamax langsung menambah biaya rutin, bukan sekadar biaya isi tangki sesaat.
Tambahan biaya bisa terasa setiap bulan
Yayan menyebut pemilik mobil yang biasa mengisi 100 liter Pertamax per bulan harus menanggung tambahan biaya sekitar Rp395 ribu per bulan. Untuk pengendara motor dengan konsumsi 30 liter sebulan, tambahan biayanya diperkirakan sekitar Rp119 ribu.
Ia menilai sebagian konsumen tidak akan mengurangi mobilitas, melainkan mencari BBM yang lebih murah. Dalam skenario itu, peralihan ke Pertalite menjadi pilihan yang paling mungkin bagi sebagian pengguna.
Yayan juga mengingat kembali pengalaman April 2022, ketika harga Pertamax naik 39 persen. Saat itu sekitar satu dari delapan pembeli beralih ke Pertalite, dan penjualan Pertamax diperkirakan turun sekitar 10 persen.
Pertalite masih dinilai sanggup menampung perpindahan
Meski ada potensi perpindahan konsumen dari Pertamax, Yayan memprediksi kuota Pertalite masih cukup. Ia menyebut hanya sepertiga dari sisa kuota yang kemungkinan bakal terpakai, sehingga ruang serap dinilai masih tersedia.
Pertamina Patra Niaga juga memastikan Pertalite tidak akan langka. Perusahaan menyatakan distribusi ke seluruh jaringan SPBU akan berjalan normal sesuai penugasan pemerintah.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan sesuai peruntukannya. Di tengah selisih harga yang makin lebar, konsumen juga diminta menyesuaikan jenis BBM dengan kendaraan yang digunakan.
