Perang AS-Iran Guncang Rupiah, Ini Mata Uang yang Tertekan Dan Yang Justru Diuntungkan

Perang AS-Iran tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga mengguncang banyak mata uang lain di dunia. Lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan perpindahan investor ke dolar AS membuat tekanan menyebar dari Asia hingga Amerika Latin dan Eropa.

Dampaknya tidak seragam. Ada mata uang yang melemah tajam, ada yang bergerak sangat liar, dan ada pula yang justru mendapat dorongan karena negaranya diuntungkan oleh kenaikan harga energi atau komoditas.

Negara pengimpor energi jadi paling rentan

Negara yang paling terpukul adalah negara pengimpor energi, terutama minyak. India, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Mesir masuk kelompok ini karena sudah menanggung biaya bahan bakar yang tinggi dan kekurangan devisa yang berkepanjangan.

Saat investor beralih ke dolar AS, permintaan terhadap mata uang negara-negara itu turun. Nilai tukar pun melemah, sementara biaya pembayaran utang dalam dolar ikut naik dan menekan kondisi fiskal serta domestik.

Harga minyak mentah dan barang yang terdampak gangguan di Selat Hormuz umumnya juga dihargai dalam dolar AS. Ketika mata uang lokal turun, impor menjadi lebih mahal dan dampaknya merembet ke BBM, plastik, pupuk, makanan, hingga barang kebutuhan harian.

Di India, rupee sudah melemah sekitar 5% terhadap dolar AS sejak awal perang Iran-AS. Mata uang itu juga berulang kali mencatat titik terendah baru saat harga minyak naik.

Rupee sebenarnya sudah tertekan sebelum konflik pecah. Namun, perang memperkuat tren pelemahan itu dan menambah tekanan pada ekonomi domestik.

Sejumlah bank sentral merespons dengan menaikkan suku bunga dan menjual sebagian cadangan dolar AS untuk menopang mata uangnya. Langkah ini memang bisa memberi imbal hasil lebih tinggi bagi tabungan, tetapi juga membuat cicilan KPR dan pinjaman lain menjadi lebih mahal.

Mata uang yang bergerak paling liar

Tidak semua mata uang jatuh sedalam kelompok pengimpor energi. Afrika Selatan, Kolombia, Chile, dan Meksiko justru masuk kelompok yang pergerakannya paling liar karena sangat sensitif terhadap sentimen pasar global.

Mata uang negara-negara ini cenderung melemah saat investor mencari aset aman seperti dolar. Sebaliknya, nilainya bisa pulih cepat ketika harga komoditas naik atau selera risiko kembali membaik.

Brasil dan Malaysia justru mendapat manfaat dari harga minyak yang lebih tinggi. Kenaikan itu mendongkrak pendapatan ekspor dan ikut mendukung minat investor pada aset keduanya.

Goldman Sachs dan Bank of America bahkan menyoroti permintaan kuat terhadap obligasi pemerintah Brasil dan saham perusahaan dalam laporan kepada klien pada April. Goldman Sachs menyebut Brasil sebagai pilihan utama di pasar berkembang.

Namun, kenaikan harga energi juga membawa risiko bagi Brasil. Martín Castellano dari Institute of International Finance menilai harga energi yang lebih tinggi bisa mendorong inflasi, menunda pemotongan suku bunga, dan memengaruhi arus modal.

Brasil juga masih mengimpor produk olahan seperti bensin dan diesel. Kondisi itu ikut mengerek biaya bahan bakar di dalam negeri dan menambah beban harga.

Luiza Pinese dari XP menulis bahwa ketidakpastian politik menjelang pemilu presiden pada Oktober akan menambah premi risiko pada real Brasil. Artinya, tekanan pada mata uang itu datang bukan hanya dari energi, tetapi juga dari politik.

Mata uang yang relatif tahan

China menunjukkan pola yang berbeda. Yuan relatif stabil karena kontrol modal dan intervensi kebijakan membatasi fluktuasi tajam.

Kebijakan itu mencakup pembatasan arus uang masuk dan keluar negara. Bank sentral juga turun tangan langsung untuk mengelola nilai tukar yuan secara ketat.

Rubel Rusia justru menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik terhadap dolar AS sejak perang Iran pecah. Salah satu sebabnya adalah Rusia merupakan produsen minyak besar, sehingga pendapatan energinya terdorong oleh harga yang lebih tinggi.

Selain itu, Rusia menerapkan kontrol modal yang ketat. Eksportir diwajibkan mengonversi pendapatan valas menjadi rubel dan arus keluar uang juga dibatasi.

Ekonomi maju ikut terseret

Mata uang negara maju juga ikut bergejolak, terutama saat investor buru-buru mencari aset aman di awal krisis. Dolar AS dan franc Swiss sempat mencapai puncak sebelum kembali ke tingkat yang sama seperti sebelum perang.

Mata uang yang terkait dengan minyak, seperti krone Norwegia, mendapat dorongan kuat dari kenaikan harga minyak mentah. Dolar Kanada dan dolar Australia juga ikut diuntungkan oleh komoditas yang lebih kuat seperti minyak, gas, logam, bijih besi, dan batu bara.

Namun, penguatan itu tidak selalu bertahan penuh. Kekhawatiran atas pertumbuhan global dan ketegangan perdagangan membatasi ruang kenaikan mata uang-mata uang tersebut.

Yen Jepang justru bergerak berlawanan dan melemah. Sebabnya, Jepang sangat bergantung pada impor energi.

Euro dan pound sterling juga mengalami volatilitas. Kekhawatiran atas biaya energi yang lebih tinggi, inflasi, dan perlambatan pertumbuhan di Eropa ikut menekan keduanya.

Dolar AS tetap pusat permainan

Para ekonom menilai serangan awal ke Iran sempat mendorong investor ke aset aman dan menguatkan dolar AS. Namun, dolar melemah sejak perang berlangsung, dan situasi ini dinilai dapat membantu pasar negara berkembang.

AllianceBernstein menyebut dolar yang lebih lemah biasanya berarti kondisi moneter yang lebih longgar. Ruang pemotongan suku bunga di negara berkembang juga menjadi lebih besar, sementara penghindaran risiko cenderung menurun.

Lembaga itu menambahkan bahwa peran dolar tetap sentral. Banyak utang negara berkembang berbentuk dolar AS, dan komoditas utama juga dihargai dalam dolar, sehingga pelemahan dolar biasanya memperbaiki prospek mereka.

IMF pada April memperingatkan bahwa gangguan yang berkelanjutan akibat perang Iran dapat mendorong ekonomi global ke kondisi yang merugikan. Skenario itu ditandai pertumbuhan yang lemah dan inflasi yang lebih tinggi.

Dalam proyeksi tersebut, pertumbuhan global bisa turun menjadi 2,5% dengan inflasi naik ke 5,4%, dibandingkan perkiraan saat ini 3,1% dan inflasi 4,4%. IMF juga menyiapkan skenario yang lebih parah, dengan pertumbuhan turun menjadi 2,0% dan inflasi melebihi 6%.

Lembaga itu diperkirakan memperbarui proyeksinya lagi pada Juli. Sampai saat itu, arah mata uang dunia masih sangat bergantung pada perkembangan perang, pergerakan harga minyak, dan seberapa lama investor bertahan di mode aman.

Source: www.bbc.com

Baca Juga

Back to top button