Pentagon Bungkam Saat 39 Pesawat AS Disebut Hilang Dalam Perang Melawan Iran

Sebuah klaim keras mengguncang perdebatan di Kongres Amerika Serikat: militer AS disebut kehilangan 39 pesawat dalam perang melawan Iran. Angka itu muncul saat anggota Kongres Partai Demokrat, Ed Case, menekan Pentagon untuk menjelaskan seberapa besar kerusakan yang terjadi dan berapa mahal biaya pemulihannya.

Masalahnya, jawaban tegas belum muncul. Kepala Keuangan Pentagon, Jay Hurst, tidak menyebut angka pasti dan hanya berjanji akan mengirim rincian tertulis karena pencocokan data pesawat masih berlangsung.

Klaim yang memicu pertanyaan besar

Case mengangkat laporan The War Zone yang sudah beredar hampir sebulan. Ia menilai isi laporan itu menunjukkan skala kerusakan yang tidak kecil di tengah operasi militer yang berlangsung cepat.

Dalam laporan yang ia kutip, Angkatan Udara AS disebut telah melakukan hampir 13.000 penerbangan selama konflik dengan Iran. Dari jumlah itu, 39 pesawat dilaporkan hancur dan 10 pesawat lain mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda.

Laporan itu juga menyebut dua aset penting ikut terdampak, yaitu jet tempur F-35A Lightning II dan pesawat Boeing E-3 Sentry. Namun, klaim tersebut belum bisa diverifikasi secara independen, sehingga status kerusakannya masih menunggu konfirmasi resmi.

Pentagon belum buka angka kerugian

Di hadapan komite Senat, Case bertanya langsung apakah biaya pemulihan untuk seluruh pesawat sudah dihitung. Hurst menjawab bahwa angka rinci belum bisa disampaikan di forum sidang karena Pentagon ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu.

Sikap itu membuat pembahasan di Senat belum menghasilkan jawaban pasti soal nilai kerugian sebenarnya. Hingga sidang berlangsung, Pentagon juga belum memberi pengakuan terbuka atas dugaan kehilangan pesawat yang disebut dalam laporan media pertahanan tersebut.

Kondisi ini menambah tekanan politik di Washington. Publik dan anggota legislatif kini menunggu penjelasan resmi tentang seberapa besar dampak militer yang benar-benar terjadi dan bagaimana beban pemulihannya akan dihitung.

Dampak perang yang melebar ke kawasan

Ketegangan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata lalu berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi perundingan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata itu tanpa batas waktu yang ditentukan.

Rangkaian peristiwa itu membuat sorotan tak hanya tertuju pada dinamika perang, tetapi juga pada biaya yang harus ditanggung Washington. Di tengah klaim yang belum terverifikasi, Pentagon masih didesak menjelaskan kerusakan yang terjadi dan berapa besar ongkos untuk memulihkannya.

Source: www.viva.co.id
Terkait