Pemuda Muhammadiyah Bandung Lawan Hoaks dengan Literasi Digital, Ini Bekal yang Dibawa Pulang

Author: Cung Media

Di tengah banjir informasi di media sosial, Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung memilih jalur yang berbeda untuk melawan hoaks. Mereka menguatkan literasi digital lewat kajian bersama agar pemuda tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mampu memilahnya dengan kritis.

Kajian bertajuk “Kajian Mahabbah Spesial Tanwir Youth” itu digelar pada Selasa malam di Masjid Manhajuth Thullab, Jln Manisi, Pasirbiru, Cibiru. Puluhan pemuda hadir dalam kegiatan yang mempertemukan unsur organisasi dan komunitas anak muda di Bandung.

Kolaborasi lintas komunitas di Bandung

PDPM Kota Bandung menginisiasi kegiatan ini bersama komunitas “Gerakan Bagi Peran” dan “Majelis Mahabbah”. Kolaborasi tersebut menjadi ruang belajar sekaligus ruang berjejaring bagi anak muda yang ingin memperkuat kerja sama dalam kebaikan.

Ketua PDPM Kota Bandung, Faris Rasyadan, menyampaikan apresiasi atas kerja bersama itu. Ia menilai kegiatan seperti ini bukan hanya memberi ilmu, tetapi juga membuka peluang untuk saling mengenal dan membangun hubungan yang lebih baik.

Arif Budiman dari komunitas Gerakan Bagi Peran juga menyambut positif kajian tersebut. Ia berharap kegiatan itu menjadi aktivitas yang memberi manfaat dan mendorong peserta memperoleh banyak ilmu.

Media sosial perlu dipakai dengan lebih produktif

Ust Anwar Jailani, S.Hum., M.Pd., hadir sebagai pengisi kajian dengan tema “Literasi di Era Banjir Informasi: Membedakan Ilmu dari Kebisingan Digital.” Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pemuda memahami cara terhindar dari berita palsu.

Ia menyebut media sosial sebagai pisau bermata dua. Karena itu, media sosial perlu dijadikan sarana yang produktif, bukan sekadar konsumtif.

Menurutnya, langkah paling utama untuk memilah informasi adalah memperbanyak ilmu. Dengan bekal keilmuan yang luas, seseorang bisa berpikir lebih kritis saat membedakan berita benar dan berita salah.

Cara menyaring informasi agar tidak terseret hoaks

Ust Anwar juga mengingatkan pentingnya melihat siapa yang berbicara saat menerima informasi. Ia menilai kebenaran pesan perlu dicermati dari latar belakang keilmuan pembicara serta rekam jejaknya.

Pendekatan itu, menurutnya, dapat membantu pemuda menghindari berita palsu yang berseliweran di ruang digital. Di tengah arus informasi yang cepat, kemampuan menyaring sumber menjadi bagian penting dari literasi yang sehat.

Bagi para peserta, kajian ini bukan hanya soal memahami bahaya hoaks, tetapi juga soal membangun kebiasaan baru dalam menghadapi informasi sehari-hari. Pesan utamanya sederhana, pemuda perlu membedakan ilmu dari kebisingan digital sebelum mengambil kesimpulan dari apa pun yang muncul di layar.

Source: muhammadiyah-jabar.id
Terbaru