Paus Leo Menantang AI, Serangan Moral yang Menghubungkan Teknologi Dengan Krisis Planet

Paus Leo menempatkan kecerdasan buatan sebagai ancaman yang jauh melampaui soal teknologi dalam ensiklik pertamanya, Magnifca Humanitas. Dalam lebih dari 40 halaman, ia menghubungkan AI dengan kerusakan lingkungan, penindasan tenaga kerja, dan ancaman terhadap martabat manusia.

Langkah ini menandai sikap yang lebih tajam dari sekadar peringatan moral biasa. Leo memposisikan AI sebagai bagian dari pola panjang eksploitasi yang harus dijawab dengan kerangka keadilan sosial.

AI dan biaya tersembunyi bagi planet

Dalam ensiklik itu, Leo menyoroti hubungan AI dengan degradasi sumber daya bersama seperti tanah dan air untuk kebutuhan teknologi. Ia juga mengangkat isu limbah, polusi dari pengembangan teknologi, dan dampak negatif penambangan mineral tanah jarang.

Ia menilai kecepatan industri mengejar AI tidak diimbangi oleh komitmen lingkungan yang memadai. Bagi Leo, ketimpangan itu menunjukkan dorongan profit masih sering mengalahkan tanggung jawab atas ciptaan.

Nada ini sejalan dengan garis besar yang pernah ditegaskan Paus Fransiskus lewat Laudato Si. Pada 2015, ensiklik itu sudah mengkritik budaya ekstraksi, eksploitasi manusia, dan keyakinan buta pada teknologi serta keuangan yang merusak ciptaan.

Martabat manusia di tengah teknologi

Leo juga menegaskan bahwa krisis ekologis tidak bisa dipisahkan dari martabat manusia. Ia memandang manusia sebagai makhluk yang hidup dalam jaringan relasi dengan sesama makhluk hidup dan seluruh ciptaan.

Cara pandang itu membuat AI tidak hanya dibaca sebagai alat, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk cara manusia diperlakukan. Ia menyebut potensi AI untuk menindas, memunculkan kolonialisme baru, dan mengubah manusia menjadi sekadar data.

Paus Leo turut menyoroti ancaman AI terhadap pekerjaan dan kreativitas. Dalam kerangka itu, teknologi tidak netral karena dapat memperkuat struktur yang sudah timpang di pasar dan kapitalisme.

Ia bahkan mengaitkan AI dengan warisan perbudakan. Leo juga menyampaikan permintaan maaf atas peran historis Gereja dalam melegalkan perdagangan budak, sambil menegaskan bahwa Paus Leo XIII menjadi paus pertama yang mengecam perbudakan pada 1888.

Reparasi, komunitas, dan hak untuk tinggal

Bagi Leo, inti pesan ensiklik ini bukan hanya pengakuan atas kerusakan. Ia menegaskan bahwa keadilan di Gereja menuntut pengakuan atas kerugian, reparasi yang layak, dan langkah pencegahan agar luka serupa tidak terulang.

Kerangka itu juga dipakai untuk membahas reparasi iklim. Komunitas ditempatkan sebagai pusat pengelolaan sumber daya, penentuan masa depan mereka, dan upaya membangun solusi iklim.

Pendekatan tersebut menuntut kedaulatan komunitas, tata kelola kolektif, dan pembebasan. Dalam pandangan yang sama, reparasi iklim juga harus memperhatikan perpindahan manusia, termasuk hak untuk tetap tinggal dan hak untuk bermigrasi.

Leo menyatakan bahwa hak-hak itu sudah lama didukung Gereja. Ia menegaskan bahwa kemanusiaan tumbuh bukan meski dibatasi, melainkan sering justru melalui keterbatasan itu.

Bagi banyak pengamat, sikap ini membuat Leo tampil lebih jauh dari sekadar pemimpin rohani. Dengan menantang AI, ia memperluas warisan moral Vatikan dari isu lingkungan menuju pertanyaan besar tentang keadilan, kerja, migrasi, dan masa depan planet.

Terkait