OJK Makin Waspada Serangan Siber dan AI, Tata Kelola Jadi Tameng Utama

Otoritas Jasa Keuangan menempatkan tata kelola sebagai tameng utama untuk menghadapi ancaman siber, penyalahgunaan AI, dan ketidakpastian global yang kian kompleks. Isu itu mengemuka dalam Risk and Governance Summit (RGS) OJK 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta.

Di tengah digitalisasi yang makin cepat, OJK menilai ancaman terhadap sektor jasa keuangan tidak lagi datang dari satu arah. Serangan siber, penyalahgunaan teknologi AI, perubahan regulasi, ketidakpastian geopolitik, hingga dampak perubahan iklim kini sama-sama masuk radar risiko yang perlu dihadapi dengan pengawasan yang lebih terintegrasi.

Risiko yang Makin Menonjol di Industri

Ketua Dewan Audit sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Issabella Watimena, mengatakan keberhasilan pembangunan tidak cukup ditopang kebijakan yang baik. Menurut dia, kebijakan harus diterjemahkan lewat tata kelola yang mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Sophia menyebut hasil survei OJK terhadap praktisi Governance, Risk, and Compliance menunjukkan beberapa risiko yang paling menyita perhatian industri. Daftarnya mencakup serangan siber, penyalahgunaan teknologi AI, perubahan regulasi, ketidakpastian geopolitik, dan dampak perubahan iklim.

Temuan itu sejalan dengan survei sejumlah lembaga global. Sophia juga mengutip data Badan Siber dan Sandi Negara yang menunjukkan anomali transaksi cukup signifikan di sektor jasa keuangan, sehingga pengawasan terintegrasi dan kolaboratif dinilai makin mendesak.

Fokus RisikoUraianImplikasi
Serangan siberMenjadi perhatian utama industri jasa keuanganButuh tata kelola dan pengawasan yang kuat
Penyalahgunaan AIMasuk daftar risiko yang menonjol menurut survei OJKPerlu kontrol dan akuntabilitas yang lebih ketat
Geopolitik dan regulasiKetidakpastian global dan perubahan aturan ikut menekan industriMendorong penguatan manajemen risiko

“Kami melihat dari data BSSN bahwa anomali transaksi cukup signifikan. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama secara terintegrasi dan kolaboratif, serta didukung oleh tata kelola dan akuntabilitas yang kuat,” kata Sophia dalam acara tersebut.

Antusiasme RGS 2026 Naik Tajam

RGS OJK 2026 juga mencatat antusiasme peserta yang tinggi. Kehadiran langsung disebut mencapai 700–800 orang, sementara peserta daring menembus lebih dari 20.000 orang, atau meningkat lebih dari 25% dibandingkan tahun lalu.

Forum itu tidak hanya diikuti pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri jasa keuangan, dan akademisi. OJK juga melibatkan pelaku UMKM termasuk komunitas difabel, sehingga ruang diskusinya menjadi lebih luas dan inklusif.

Di sisi lain, OJK menggelar Innovation Paper Competition bertema “Building Digital Trust and Ethical Governance for Indonesia’s Future”. Ajang ilmiah tersebut berhasil menghimpun lebih dari 1.000 karya ilmiah, naik 80% dibanding tahun sebelumnya.

Lonjakan peserta dan karya ilmiah itu menunjukkan bahwa isu tata kelola, kepercayaan digital, dan etika penggunaan teknologi makin mendapat perhatian serius. Bagi OJK, penguatan tata kelola bukan lagi sekadar agenda administratif, melainkan kebutuhan untuk menjaga sektor jasa keuangan tetap tangguh di tengah perubahan yang cepat.

Source: www.liputan6.com
Terkait