Netanyahu Disoraki di Bahad 1, Tekanan Mundur Makin Kencang dari Jalanan

Benjamin Netanyahu kembali menghadapi sinyal politik yang tidak nyaman saat berpidato di pangkalan militer Bahad 1, Israel selatan. Di tengah upacara kelulusan perwira tempur itu, ia disoraki keras dan didesak mundur dari kursi perdana menteri.

Insiden tersebut menambah gambaran bahwa posisi Netanyahu sedang terjepit dari banyak arah. Protes yang meluas di berbagai kota, kritik atas penanganan perang, dan hasil jajak pendapat yang tidak menguntungkan ikut memperkuat tekanan terhadap pemerintahannya.

Sorakan di acara militer

Menurut laporan Yedioth Ahronoth yang dikutip Anadolu Agency, teriakan itu terdengar saat Netanyahu berbicara di upacara kelulusan perwira tempur di Bahad 1. Sekolah pelatihan perwira tentara Israel itu menjadi panggung yang semestinya formal, tetapi justru berubah menjadi ruang yang memperlihatkan penolakan publik.

Dalam pidatonya, Netanyahu menegaskan bahwa Israel sedang berada di puncak perang regional yang berkelanjutan. Ia juga mengatakan Israel telah mengubah aturan main di kawasan, menghancurkan penghalang rasa takut, dan menunjukkan kekuatan cengkeraman besinya.

Tekanan dari jalanan dan politik dalam negeri

Di luar acara, demonstrasi terus berlangsung di sejumlah kota dengan tuntutan pemilihan umum dini. Para pengunjuk rasa menyalahkan pemerintah Netanyahu atas kegagalan terkait serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 serta dampak perang di Jalur Gaza dan wilayah yang lebih luas.

Situasi itu membuat Netanyahu bukan hanya menghadapi kritik soal perang, tetapi juga soal arah kepemimpinannya. Gelombang protes yang terus meluas memperlihatkan bahwa dukungan publik terhadap kabinetnya masih jauh dari stabil.

Isyarat dari luar negeri dan survei terbaru

Tekanan terhadap Netanyahu juga datang dari luar negeri. Awal pekan ini, beredar kabar bahwa pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump berupaya mengganti pemerintahan Netanyahu setelah berulang kali bersitegang soal Iran.

Channel 12 pada Minggu (21/6) melaporkan bahwa para pejabat di pemerintahan Trump menilai kabinet Netanyahu perlu diganti karena unsur-unsurnya dianggap terlalu garis keras. Laporan itu juga menyebut pemerintah AS prihatin atas kelompok garis keras di dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan populer baru sebelum pemilihan umum Israel.

Oposisi berpeluang unggul

Di tengah semua tekanan itu, jajak pendapat yang dirilis surat kabar Israel Maariv pada Jumat (19/6) menunjukkan oposisi dapat membentuk pemerintahan jika pemilu digelar saat itu. Dalam survei tersebut, oposisi disebut unggul 61 kursi dibandingkan 49 kursi untuk blok Netanyahu.

Survei yang sama juga memperkirakan partai-partai Arab akan meraih 10 kursi dalam pemilu yang dijadwalkan Oktober mendatang. Hasil itu menambah kesan bahwa Netanyahu kini harus bertahan bukan hanya dari protes jalanan, tetapi juga dari peta politik yang semakin sulit di parlemen dan di tingkat internasional.

Source: www.cnnindonesia.com

Terkait