Naturalisasi Dibilang Delusi, Mitchell Baker Tetap Disambut Jadi WNI

Author: Cung Media

Kritik Akmal Marhali terhadap kebijakan naturalisasi kembali mengemuka tepat saat Mitchell Baker resmi menyandang status Warga Negara Indonesia. Pengamat sepak bola itu tetap memberi selamat, tetapi menegaskan bahwa langkah cepat seperti naturalisasi belum menyentuh masalah paling dasar di sepak bola Indonesia.

Kepada Medcom.id, Akmal menyebut naturalisasi sebagai jalan instan yang tidak sejalan dengan pembenahan prestasi. Ia juga menyoroti bahwa hampir 50 pemain sudah dinaturalisasi, namun hasil di lapangan belum menunjukkan perubahan yang sepadan.

Naturalisasi Tidak Menyentuh Akar Masalah

Akmal menilai kebijakan tersebut lebih sering dipakai sebagai solusi cepat ketimbang pembangunan jangka panjang. Menurut dia, persoalan utama justru ada pada pembinaan pemain usia muda, kompetisi, dan ekosistem sepak bola yang sehat.

Ia menegaskan bahwa status warga negara baru untuk Mitchell Baker tidak otomatis menyelesaikan tantangan fundamental Timnas Indonesia. Dalam pandangannya, tim nasional kuat harus lahir dari fondasi yang dibenahi sejak hulu, bukan dari jalan pintas.

Isu yang Disorot Pandangan Akmal Marhali
Naturalisasi pemain Disebut sebagai delusi dan jalan instan
Jumlah pemain dinaturalisasi Hampir 50 pemain
Akar masalah Pembinaan, kompetisi, dan ekosistem sepak bola

Mitchell Baker dan Perbedaan Sistem

Akmal juga menolak anggapan bahwa naturalisasi Indonesia bisa disamakan dengan Maroko. Ia menilai perbedaan aturan kewarganegaraan dan sistem pembinaan membuat dua negara itu tidak bisa dijadikan perbandingan langsung.

Indonesia menganut sistem kewarganegaraan tunggal berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006. Dalam aturan itu, naturalisasi umum mensyaratkan seseorang menetap di Indonesia selama lima tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut.

Sementara itu, naturalisasi di sektor olahraga umumnya berjalan lewat mekanisme khusus. Karena itulah, menurut Akmal, keberhasilan negara lain tidak serta-merta bisa dipindahkan ke konteks sepak bola Indonesia.

Ia bahkan menegaskan bahwa dinaturalisasinya Michael Becker tidak otomatis menyelesaikan masalah mendasar yang selama ini membebani sepak bola nasional. Nama yang disebut Akmal merujuk pada persoalan yang sama, yakni ketergantungan pada solusi cepat tanpa perbaikan struktural.

Selamat untuk Mitchell Baker, tetapi Pembinaan Tetap Jadi Kunci

Di tengah kritiknya, Akmal tetap menyampaikan selamat kepada Mitchell Baker atas status barunya sebagai WNI. Ia berharap pemain muda berusia 19 tahun itu bisa memberi kontribusi terbaik untuk Timnas Indonesia.

Akmal juga meminta PSSI lebih serius membenahi kompetisi dan pembinaan usia muda. Menurut dia, dua hal itu adalah fondasi utama untuk membangun tim nasional yang kuat dan tahan lama.

Baginya, naturalisasi tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pembenahan sistem sepak bola nasional. Timnas yang kompetitif hanya bisa lahir jika pembinaan berjalan baik dan kompetisi ikut sehat.

Source: www.medcom.id
Terbaru