NASA mempercepat rencana membangun pangkalan manusia di Bulan dengan target hunian permanen mulai 2032. Langkah ini ditopang rangkaian misi bertahap, teknologi baru, dan kontrak besar untuk menyiapkan infrastruktur di dekat kutub selatan Bulan.
Fokus utamanya bukan sekadar mendaratkan astronaut, melainkan membangun sistem operasi jangka panjang di wilayah yang dikenal sangat menantang. NASA menilai kutub selatan Bulan penting secara ilmiah, tetapi suhu ekstrem, malam panjang, debu abrasif, dan medan terjal membuatnya jauh lebih sulit dibanding lokasi pendaratan sebelumnya.
Pendekatan Bertahap Seperti Era Apollo
Administrator NASA Jared Isaacman mengatakan strategi yang dipakai mengikuti pola bertahap seperti program Apollo. NASA memilih mengulang misi dan menguji teknologi lebih dulu sebelum melangkah ke operasi permanen.
Isaacman menegaskan NASA tidak ingin terburu-buru. Menurut dia, perjalanan ke kutub selatan Bulan membutuhkan kesiapan ekstra karena kondisi lingkungannya jauh lebih keras daripada yang selama ini dihadapi misi Bulan.
| Fase | Fokus Utama | Target Misi | Perkiraan Peluncuran dan Pendaratan |
|---|---|---|---|
| Hingga 2029 | Misi robotik dan pembuktian teknologi | Memastikan semua kendaraan dan sistem siap bekerja di Bulan | 25 peluncuran roket, 21 pendaratan |
| Mulai 2029 | Infrastruktur semi permanen dan logistik awal | Tenaga surya dan nuklir, komunikasi lebih luas, rover baru, drone, kargo | 27 peluncuran roket, 24 pendaratan |
| Mulai 2032 | Kehadiran manusia permanen | Modul hunian semi permanen, energi utama nuklir, operasi bergilir | 29 peluncuran roket, 28 pendaratan |
Robot Jadi Kunci Awal
Pada tahap pertama, NASA memprioritaskan misi robotik untuk memastikan kemampuan dasar benar-benar matang. Carlos García-Galán, manajer program pangkalan Bulan NASA, menyebut fase awal memiliki tiga tujuan utama.
Tujuan itu adalah memastikan misi ke Bulan bisa dilakukan secara konsisten, mengumpulkan data ilmiah lebih rinci tentang kutub selatan, dan menyiapkan teknologi pendukung bagi infrastruktur permanen. Untuk itu, NASA akan mengirim robot, kendaraan otonom, drone, dan perangkat pendarat untuk memetakan wilayah serta mengenali potensi bahaya.
Data dari perangkat robotik akan menjadi dasar sebelum astronaut diturunkan ke permukaan. NASA menilai pengetahuan tentang Bulan masih belum cukup untuk mendukung kehidupan manusia dalam jangka panjang.
Pendarat Bulan dan Peran Blue Origin
Salah satu teknologi paling penting adalah pendarat Bulan. Pada awalnya wahana ini akan membawa logistik dan muatan ilmiah, lalu pada tahap berikutnya dipakai untuk mengantar astronaut dari pesawat Orion ke permukaan Bulan.
NASA juga menyoroti pendarat kargo yang dikembangkan Blue Origin. García-Galán mengatakan wahana itu hampir selesai setelah lolos pengujian lingkungan, meski pengirimannya ke Bulan masih bergantung pada roket angkut berat New Glenn.
| Perusahaan | Peran | Status |
|---|---|---|
| Astrobotic | Mengembangkan pendarat Bulan untuk muatan ilmiah | Kontrak baru |
| Firefly Aerospace | Mengembangkan pendarat Bulan untuk muatan ilmiah | Kontrak baru |
| Intuitive Machines | Mengembangkan pendarat Bulan untuk muatan ilmiah | Kontrak baru |
NASA mengumumkan kontrak hampir US$ 600 juta atau Rp 9,72 triliun kepada Astrobotic, Firefly Aerospace, dan Intuitive Machines. Kolaborasi ini memperlihatkan peran sektor swasta yang makin besar dalam strategi eksplorasi Bulan NASA.
Promise Masuk Pertimbangan
NASA juga membuka kemungkinan mengirim rover Promise ke Bulan. Promise adalah singkatan dari Polar Rover for Observation, Mapping, and In-Situ Exploration, dan saat ini berada di Jet Propulsion Laboratory NASA sebagai wahana teknik.
Robot ini dipertimbangkan karena punya kemampuan eksplorasi dan penelitian yang disebut sekelas dengan rover Perseverance dan Curiosity di Mars. Isaacman mengatakan NASA sedang menelaah penggunaan Promise secara serius karena manfaat ilmiahnya dinilai besar.
“Ini akan menjadi kemampuan yang luar biasa,” kata Isaacman, sambil menegaskan bahwa studi kelayakan masih berjalan. Ia menambahkan bahwa proyek luar angkasa memang berada di wilayah yang nyaris mustahil, sehingga peluang seperti itu patut dicoba.
Tiga Fase Menuju Kehadiran Permanen
NASA membagi pembangunan pangkalan Bulan ke dalam tiga fase besar. Tahap pertama berlangsung hingga 2029 dan berfokus pada misi robotik untuk membuktikan teknologi di lingkungan Bulan.
Fase kedua dijadwalkan dimulai pada 2029 dan akan memulai perakitan infrastruktur semi permanen. Tahap ini mencakup sistem tenaga tambahan berbasis surya dan nuklir, jaringan komunikasi yang lebih luas, rover generasi baru, kemungkinan drone, serta pengiriman kargo hingga 60 ton ke permukaan Bulan.
Setelah itu, fase ketiga dijadwalkan mulai pada 2032 sebagai tahap saat manusia ditargetkan hadir secara permanen di Bulan. Pada fase ini, astronaut akan tinggal dan bekerja secara bergantian dengan pola yang mirip operasi Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS.
Pada tahap akhir, NASA menargetkan pembangunan modul hunian semi permanen, reaktor nuklir sebagai sumber energi utama, rover dengan sistem pendukung kehidupan untuk perjalanan jarak jauh, serta pengiriman awak dan logistik secara rutin. Skema ini menunjukkan bahwa kehadiran manusia di Bulan dipandang sebagai sistem operasi berkelanjutan, bukan misi singkat.
Artemis III Jadi Langkah Pengujian
Sebelum fase besar itu, NASA masih menyiapkan Artemis III sebagai langkah lanjutan. Misi yang dijadwalkan berlangsung tahun depan ini akan melibatkan empat astronaut dan menguji satu atau dua pendarat Bulan dari SpaceX dan Blue Origin di orbit rendah Bumi.
Misi itu belum akan menurunkan astronaut ke permukaan Bulan, tetapi akan berlangsung lebih lama dibanding Artemis II. Fokusnya adalah menguji sistem penting pada wahana Orion, termasuk pendukung kehidupan, tenaga, propulsi, dan komponen vital lainnya.
NASA sebelumnya menganggarkan sekitar US$ 20 miliar untuk pembangunan pangkalan Bulan. Sejumlah pakar menilai nilai itu bisa bertambah seiring perkembangan proyek, sementara Isaacman menilai langkah NASA merupakan kelanjutan logis dari eksplorasi luar angkasa.
Menurut NASA, kedekatan Bulan dengan Bumi menjadikannya tempat paling masuk akal untuk membangun kemampuan operasi luar angkasa jangka panjang sebelum melangkah lebih jauh.
Source: www.beritasatu.com






