Satya Nadella mendorong perusahaan untuk memikirkan ulang aset paling berharga mereka di era AI. Selain human capital, ia menyebut kini ada “token capital” yang harus dibangun agar nilai tidak lari ke model-model dominan.
Pernyataan itu langsung memantik respons dari Samson Mow, yang melihat Bitcoin sebagai lapisan transaksi paling masuk akal untuk ekonomi AI. Menurut CEO JAN3 itu, gelombang agen digital akan butuh sistem pembayaran yang lebih lincah daripada infrastruktur keuangan tradisional.
Dua bentuk kapital yang dinilai sama penting
Nadella menggambarkan human capital sebagai pengetahuan, penilaian, hubungan, kreativitas, dan keahlian karyawan. Sementara itu, token capital merujuk pada kemampuan AI yang dikembangkan dan dimiliki perusahaan.
Ia menilai perusahaan masa depan harus membangun keduanya secara bersamaan. Nadella juga menolak anggapan bahwa AI akan mengurangi peran manusia, karena human capital justru akan makin bernilai saat token capital bertumbuh.
Dalam pandangannya, agency manusia akan menjadi penggerak pertumbuhan token capital. Ia juga mengingatkan perusahaan untuk menjaga kepemilikan atas pengetahuan institusional mereka ketika AI semakin maju.
Risiko nilai terkonsentrasi di model besar
Nadella memperingatkan skenario ketika nilai ekonomi justru mengalir ke segelintir model AI yang sangat dominan. Ia tidak ingin perusahaan menyerahkan nilai ke “a few models that eat everything they see”.
Karena itu, ia mendorong bisnis membangun sistem AI milik sendiri yang bisa belajar terus-menerus dari alur kerja, pengetahuan internal, dan penilaian yang terkumpul. Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem frontier, bukan hanya frontier model, agar nilai menyebar ke banyak perusahaan, industri, dan negara.
Bitcoin masuk ke percakapan ekonomi AI
Di sisi lain, Samson Mow melihat arah yang sama dari sudut berbeda. Ia menilai ekonomi AI membutuhkan lapisan transaksi terdesentralisasi untuk mendukung agen digital otonom yang bertransaksi atas nama pengguna dan bisnis.
Dalam respons singkat di X, Mow menulis, “Buy Bitcoin.” Ia berpendapat agen AI akan makin banyak bekerja secara mandiri tanpa bergantung pada sistem perbankan tradisional.
Mow menyoroti hambatan praktis di keuangan lama, termasuk sulitnya agen memiliki rekening bank atau kartu pembayaran. Sebagai gantinya, ia menilai dompet aset digital lebih cocok untuk kebutuhan itu.
Ia menyebut agen bisa menggunakan Aqua wallet, menerima Bitcoin, menerima pembayaran Lightning, lalu segera menukar ke stablecoin untuk menjalankan transaksi sendiri. Dalam skenario itu, Bitcoin berperan sebagai jalur awal yang membuka arus pembayaran mesin-ke-mesin.
Jumlah transaksi bisa melampaui aktivitas manusia
Mow juga memperkirakan sistem AI otonom akan menghasilkan volume transaksi yang sangat besar. Ia menyebut kemungkinan hadirnya “billions if not trillions” agen AI yang saling bertransaksi.
Menurut dia, frekuensi dan jumlah transaksi dari pekerja otonom itu bisa melampaui transaksi yang dilakukan manusia. Pandangan ini menjadi salah satu alasan mengapa ia melihat Bitcoin punya posisi penting di ekonomi AI.
Arus likuiditas AI diprediksi mencari BTC
Mow bahkan menilai kekayaan yang tercipta dari sektor AI pada akhirnya bisa menguntungkan Bitcoin. Ia memprediksi likuiditas dari IPO besar perusahaan AI dan unlock saham karyawan akan mencari eksposur ke BTC, bukan kembali ke pasar ekuitas tradisional.
Dalam unggahannya di X, Mow menulis bahwa likuiditas pasca-IPO dari AI tidak akan kembali ke S&P 500, melainkan mengalir ke BTC. Ia juga menilai indeks saham besar sudah sangat terkonsentrasi pada perusahaan terkait AI.
Karena itu, investor yang keluar dari posisi tersebut dinilai akan mencari diversifikasi ke aset lain. Mow bahkan menyebut indeks itu sudah 40-50% AI, sementara lebih dari $200 miliar dari IPO AI besar dan likuiditas tambahan pasca-lockup bisa mencari aset alternatif.
Di tengah “infinite dilution”, ia melihat Bitcoin menawarkan pasokan tetap 21 juta koin. Kombinasi itu membuat BTC dipandang sebagai salah satu tujuan paling logis bagi arus modal baru dari ekonomi AI.







