Jumlah komunitas Muslim di Jepang terus bertambah dan diperkirakan sudah mencapai 420 ribu jiwa. Lebih dari separuhnya adalah warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Negeri Sakura.
Di tengah pertumbuhan itu, kebutuhan akan masjid dan pusat pembinaan Islam ikut menguat. Salah satu yang mencuat adalah rencana pembangunan Masjid Al-Muttaqin yang akan difungsikan sebagai Islamic Center di Matsudo, Chiba.
Masjid Bukan Hanya Tempat Salat
Dalam pertemuan perwakilan Chiba Islamic Culture Center dan Dompet Dhuafa di Jakarta, Kamis (25/6/2026), pembahasan difokuskan pada pentingnya dukungan fasilitas bagi Muslim di Jepang. Pertemuan itu menyoroti bahwa masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat ibadah.
Sensei Kyoichiro Sugimoto dari Chiba Islamic Culture Center menegaskan bahwa keberadaan masjid atau Islamic Center memberi dampak besar bagi Muslim yang hidup sebagai minoritas di Jepang. Menurut dia, tempat seperti itu dibutuhkan untuk dakwah, pembinaan generasi muda Muslim, dan dukungan bagi para mualaf.
“Di Jepang, 99,9 persen penduduknya nonmuslim. Memiliki masjid atau Islamic Center tentu akan memiliki dampak yang sangat signifikan. Bukan hanya untuk salat, tetapi untuk dakwah, mendukung generasi muda Muslim dan para mualaf, karena mereka adalah pemimpin masa depan yang harus menjaga dan mengembangkan komunitas Muslim di Jepang untuk waktu yang lama,” ujarnya.
Sugimoto juga mengaitkan peran masjid dengan konsep awal terbentuknya masyarakat Muslim di Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut masjid sebagai fondasi komunitas yang menjadi pusat tumbuhnya kehidupan umat.
Pendidikan Agama Jadi Kebutuhan Mendesak
Selain tempat ibadah, komunitas Muslim di Jepang juga membutuhkan sarana pendidikan agama yang berkelanjutan. Purwati Kasmaja, istri Sugimoto, mengatakan banyak keluarga ingin anak-anak mereka belajar agama tanpa harus dikirim ke luar negeri.
“Kami sangat membutuhkan tempat edukasi. Kalau tidak ada, terpaksa kami mengirimkan anak-anak ini ke negara-negara Muslim. Mengapa tidak kita hadirkan kompetensi ke Jepang? Harapan kami ke depannya, ada ustaz-ustaz yang dikirim ke sana untuk merintis model pendidikan yang permanen,” ujarnya.
Kebutuhan itu menunjukkan bahwa komunitas Muslim di Jepang memerlukan lebih dari sekadar ruang salat. Yang dibutuhkan juga mencakup pendidikan, pembinaan komunitas, dan dukungan bagi keluarga Muslim yang menetap di sana.
Kolaborasi untuk Menjawab Tantangan
Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini menilai pembangunan Islamic Center tidak bisa dilakukan sendiri. Menurut dia, fasilitas semacam itu harus didukung kolaborasi banyak pihak karena fungsinya tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga untuk pendidikan, kegiatan sosial, dan kampanye budaya Islam di Jepang.
“Kegiatan ini tentu merupakan suatu kegiatan yang sangat menantang, butuh kolaborasi, butuh sinergi banyak pihak, termasuk individu-individu yang peduli untuk mendukung penyediaan sarana pendidikan Islam, kegiatan keagamaan, sarana ibadah, termasuk mengkampanyekan budaya-budaya Islam kepada masyarakat di Jepang,” katanya.
Ahmad menambahkan, kerja sama seperti ini diharapkan mampu memperkuat layanan bagi komunitas Muslim yang terus tumbuh di Jepang. Dengan populasi yang semakin besar, kebutuhan atas ruang ibadah dan pendidikan juga diperkirakan terus meningkat.
Di sisi lain, Sugimoto mengakui masih ada tantangan dalam mengembangkan komunitas Muslim di Jepang. Ia menyebut adanya sentimen Islamofobia dan gerakan anti-Muslim di media sosial, namun menilai tantangan itu masih bisa dihadapi lewat kerja sama dan keberadaan pusat komunitas yang kuat.
Source: www.suara.com






