Modal Rp25 Ribu, Kalung Makrame Anabul Ini Terlihat Mewah dan Unik

Di tengah kebiasaan yang makin sulit lepas dari gawai, kerajinan makrame menawarkan jeda yang sederhana sekaligus produktif. Dari aktivitas yang tampak santai itu, lahir aksesori anabul yang terlihat mahal dan unik, padahal modalnya disebut hanya sekitar Rp25.000.

Daya tariknya bukan hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses membuatnya. Saat masa magang di Pematangsiantar, seorang staf laboratorium yang punya usaha kerajinan tangan berbasis makrame mengajak peserta magang mencoba membuat karya sendiri sebagai selingan dari rutinitas di Marihat yang jauh dari pusat kota.

Makrame yang terlihat sederhana, tapi menuntut ketelitian

Makrame adalah teknik merangkai benang dengan simpul-simpul tertentu tanpa jarum. Benang dipasang pada penyangga seperti kayu atau besi, lalu disusun mengikuti pola yang sekilas mirip mengepang rambut.

Di balik tampilannya yang sederhana, makrame tetap menuntut ketelitian dan konsistensi. Dalam kegiatan itu, pilihan karya yang dibuat cukup beragam, mulai dari gelang, gantungan kunci, hingga kalung anjing untuk anabul.

Kalung anabul dipilih karena lebih personal

Pilihan kalung untuk anabul dipakai karena ingin membuat sesuatu yang lebih personal dan bisa langsung digunakan di rumah. Pembuatan dimulai dengan memasang beberapa helai benang pada batang penyangga menggunakan simpul dasar.

Setelah itu, benang disusun dan disimpul berulang dengan pola seperti square knot sampai panjangnya sesuai ukuran leher hewan. Sebelum kalung selesai, ukuran leher anjing juga sudah dipastikan agar hasil akhirnya pas saat dipakaikan.

Proses panjang yang tidak selalu mulus

Tahap akhir dilakukan dengan memasang ring besi sebagai pengait dan merapikan sisa benang agar kalung kuat serta tidak mudah lepas. Tantangan terbesar ada pada pola, karena satu simpul yang keliru bisa mengubah bentuk hasil akhir dan sulit diperbaiki tanpa mengulang.

Bagi pemula, model yang lebih kompleks tentu memakan waktu lebih lama. Dalam pengalaman itu, pengerjaan dimulai sekitar pukul 10 pagi dan baru selesai pukul 5 sore, meski banyak langkah yang sempat salah dan hasilnya tidak selalu rapi.

Modal kecil, hasil terlihat mewah

Dari sisi biaya, kalung makrame untuk anabul ini tergolong sangat terjangkau. Benang wol disebut hanya Rp20.000, lalu pengait besi sekitar Rp5.000, sehingga totalnya masih berada di kisaran Rp25.000.

Dengan modal itu, hasil yang didapat bukan sekadar aksesori handmade. Barang ini juga punya nilai personal karena dibuat langsung dengan ukuran yang disesuaikan untuk hewan peliharaan yang akan memakainya.

Warna pink jadi pilihan yang memancing tawa

Pemilihan warna juga menjadi bagian yang menyenangkan dalam proses pembuatan. Saat benang pink dipilih untuk kalung anjing jantan, reaksi teman-teman dan Pak Rivel penuh tawa, tetapi pilihan itu tetap dipertahankan.

Alasannya sederhana, kalung sebelumnya juga berwarna pink. Pada akhirnya, warna yang tidak biasa justru membuat hasilnya terasa lebih unik dan mudah menarik perhatian.

Aktivitas yang memberi jeda dari layar

Kerajinan tangan ini juga memberi efek lain di luar hasil fisik. Studi dalam British Journal of Occupational Therapy menyebut aktivitas kerajinan tangan dengan gerakan berulang dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati karena membuat orang lebih fokus pada momen saat ini.

Hal itu terasa selama proses berlangsung, karena peserta bisa menghabiskan seharian tanpa menyentuh ponsel. Fokus pada simpul, pola, dan detail kecil membuat waktu terasa berjalan cepat meski tenaga terkuras.

Bantuan dari Pak Rivel dan istrinya juga membuat pengalaman itu lebih mudah dijalani, terutama karena prosesnya diajarkan secara gratis. Saat kalung akhirnya dipakaikan ke anabul dan ternyata pas, kepuasan muncul bukan hanya dari hasil yang jadi, tetapi juga dari proses yang berhasil diselesaikan dari awal sampai akhir.

Source: yoursay.suara.com
Terkait