Mitsubishi XFORCE Hybrid mencatat konsumsi bahan bakar sekitar 27,9 km/liter dalam perjalanan luar kota. SUV hybrid ini mampu menempuh lebih dari 1.172 kilometer dengan tangki bensin berkapasitas 42 liter.
Angka tersebut menonjol karena mesin bensin tidak selalu menjadi penggerak utama roda. Motor listrik justru memegang porsi besar untuk menggerakkan kendaraan dalam kondisi tertentu.
Pengujian internal Mitsubishi dilakukan bersama pereli nasional Rifat Sungkar melalui rute antarkota yang didominasi jalan tol. Perjalanan dimulai dari kawasan TMII, Jakarta Timur, lalu melewati Cirebon, Semarang, Madiun, Surabaya, Banyuwangi, hingga berakhir di Pulau Bali.
Menurut oto.detik.com, mobil dalam pengujian itu dikendarai secara normal tanpa teknik khusus untuk mengejar konsumsi bahan bakar. Pendekatan tersebut dimaksudkan agar hasil perjalanan lebih mendekati pola penggunaan saat melakukan perjalanan jauh.
Catatan Perjalanan Mitsubishi XFORCE Hybrid
| Data Pengujian | Hasil |
|---|---|
| Jarak tempuh | Lebih dari 1.172 km |
| Kapasitas tangki bensin | 42 liter |
| Konsumsi bahan bakar | Sekitar 27,9 km/liter |
| Karakter rute | Didominasi jalan tol |
Efisiensi tersebut didukung sistem hybrid generasi kedua yang diterapkan Mitsubishi. Berbeda dari sistem hybrid yang lazim menempatkan mesin bensin sebagai penggerak dominan, sistem ini memberi peran lebih besar kepada motor listrik.
Mesin bensin dapat bekerja sebagai pembangkit listrik untuk mengisi baterai. Mesin juga bisa membantu ketika kendaraan membutuhkan tambahan tenaga.
Pembagian kerja itu membuat mesin tidak harus terus-menerus menjadi sumber tenaga utama. Mitsubishi menyebut pengaturan tersebut mendukung kerja mesin yang lebih efisien sekaligus menjaga akselerasi tetap halus dan responsif.
Motor Listrik Tetap Bekerja pada Kecepatan Tinggi
Peran motor listrik terlihat dari kemampuan XFORCE Hybrid melaju hingga 121 km/jam hanya dengan tenaga listrik. Kondisi itu dapat terjadi saat pengemudi melakukan akselerasi bertahap dan tidak menghentak pedal gas.
Kemampuan melaju dengan motor listrik pada kecepatan tersebut menjadi pembeda penting dari karakter hybrid konvensional. Pada banyak sistem hybrid, mesin bensin umumnya lebih cepat aktif ketika mobil melaju pada kecepatan tinggi.
Namun, penggunaan tenaga listrik penuh tetap bergantung pada kondisi berkendara dan input pengemudi. Saat tenaga lebih besar diperlukan, mesin bensin dapat kembali ikut bekerja untuk membantu sistem penggerak.
Baterai 1,1 kWh dan Sistem Dua Rasio Gigi
Mitsubishi XFORCE Hybrid memakai baterai lithium-ion berkapasitas 1,1 kWh serta sistem Dual Transaxle. Sistem transmisi ini menyediakan low gear dan high gear untuk menyesuaikan kebutuhan tenaga maupun efisiensi saat kendaraan melaju.
| Komponen | Peran dalam Sistem |
|---|---|
| Baterai lithium-ion 1,1 kWh | Menyimpan energi untuk sistem hybrid |
| Low gear | Menghasilkan torsi lebih besar pada kecepatan rendah atau tanjakan |
| High gear | Menjaga kerja motor listrik tetap efisien saat kecepatan meningkat |
Rasio rendah digunakan ketika mobil membutuhkan torsi lebih besar, termasuk pada kecepatan rendah dan saat menghadapi tanjakan. Setelah kecepatan meningkat, rasio tinggi bekerja untuk menjaga putaran motor listrik tetap efisien tanpa mengorbankan performa.
Kombinasi motor listrik, mesin bensin, baterai, dan dua rasio transmisi menjadi dasar karakter XFORCE Hybrid dalam perjalanan antarkota tersebut. Mitsubishi memasarkan model ini sebagai kendaraan hybrid pertama Mitsubishi Motors di Indonesia.
Bagi pengguna yang kerap melakukan perjalanan jauh, hasil pengujian itu menunjukkan potensi jarak tempuh yang panjang dari tangki 42 liter. Efisiensi rute luar kota kini menjadi salah satu sorotan utama dari sistem elektrifikasi yang dibawa SUV ini.







