Mengapa 90 Persen Manusia Bertangan Kanan, Oxford Ungkap Jejak Evolusinya

Sekitar 90 persen manusia di dunia lebih dominan menggunakan tangan kanan, dan penelitian terbaru dari University of Oxford memberi penjelasan yang lebih kuat tentang mengapa pola itu begitu umum. Temuan ini mengaitkan dominasi tangan kanan dengan dua lompatan besar dalam evolusi manusia: berjalan tegak dengan dua kaki dan membesarnya ukuran otak.

Selama bertahun-tahun, dominasi tangan kanan dianggap sebagai ciri khas manusia yang tidak sekuat itu pada primata lain seperti simpanse, gorila, dan monyet. Karena itu, para peneliti lama memandangnya sebagai anomali sampai analisis baru membandingkan data dari lebih dari 2.000 primata dalam 41 spesies berbeda.

Jejak evolusi di balik tangan dominan

Studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology ini dipimpin oleh Dr. Thomas A. Püschel dari Oxford bersama Rachel M. Hurwitz dan Professor Chris Venditti dari University of Reading. Mereka memakai metode Bayesian phylogenetic modelling untuk menguji teori lama tentang dominasi tangan dan hubungan evolusi antarspesies primata.

Hasilnya menunjukkan bahwa manusia tidak lagi terlihat sebagai pengecualian evolusi setelah dua faktor utama dimasukkan, yaitu ukuran otak dan intermembral index. Intermembral index adalah rasio panjang lengan terhadap kaki yang membantu menilai apakah suatu spesies lebih banyak berjalan tegak atau masih bergantung pada aktivitas memanjat.

Pada manusia, rasio itu sekitar 72. Angka tersebut menandakan kaki jauh lebih panjang daripada lengan, sebuah ciri yang cocok dengan evolusi bipedalisme atau berjalan dengan dua kaki.

Dua tahap yang membentuk dominasi tangan

Penelitian ini menjelaskan bahwa dominasi tangan berkembang bertahap selama jutaan tahun. Tahap pertama muncul ketika nenek moyang manusia mulai berjalan tegak, sehingga tangan tidak lagi dipakai untuk menopang tubuh dan menjadi lebih bebas untuk aktivitas manipulatif seperti menggunakan alat.

Pada fase ini, preferensi terhadap satu tangan tertentu mulai menguat dibanding primata lain. Tahap kedua terjadi ketika ukuran otak pada genus Homo berkembang semakin besar.

Perubahan itu membuat dominasi tangan kanan makin kuat pada tingkat populasi. Artinya, kecenderungan memakai satu tangan tertentu sudah ada sejak lama, tetapi pola massal yang condong ke tangan kanan baru menjadi sangat dominan setelah otak manusia berkembang lebih besar.

Mengapa primata lain berbeda

Perbedaan anatomi turut menjelaskan mengapa primata lain tidak menunjukkan pola yang sama kuatnya. Gorila dan orangutan, misalnya, memiliki lengan lebih panjang yang mendukung kebiasaan memanjat pohon.

Sebaliknya, manusia memiliki proporsi tubuh yang lebih cocok untuk berjalan tegak. Kondisi ini membuat tangan lebih leluasa digunakan untuk memegang, mengolah, dan memakai alat, sehingga preferensi motorik bisa berkembang lebih jelas.

Petunjuk tentang manusia purba

Model penelitian itu juga memberi gambaran tentang spesies manusia purba yang telah punah. Homo floresiensis atau manusia “hobbit” dari Flores, Indonesia, diprediksi memiliki dominasi tangan kanan yang jauh lebih lemah dibanding manusia modern.

Prediksi itu sejalan dengan ciri mereka yang masih memiliki adaptasi untuk memanjat pohon dan belum memiliki ukuran otak sebesar manusia modern. Sementara itu, Homo erectus dan Neanderthal diperkirakan sudah menunjukkan kecenderungan tangan kanan yang lebih kuat.

Masih ada bagian yang belum terjawab

Meski studi ini memberi penjelasan yang lebih meyakinkan tentang mayoritas manusia bertangan kanan, satu pertanyaan tetap belum terpecahkan. Sekitar 10 persen populasi dunia masih dominan tangan kiri, dan alasan pasti keberadaan pola itu belum diketahui.

Para peneliti juga belum bisa memastikan mekanisme biologis yang membuat evolusi lebih condong menghasilkan dominasi tangan kanan. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana manusia ternyata menyimpan riwayat panjang yang berkaitan dengan cara berjalan, ukuran otak, dan perubahan tubuh selama jutaan tahun.

Dampak untuk teknologi modern

Pemahaman tentang lateralitas otak dan dominasi tangan tidak hanya penting bagi studi antropologi. Temuan semacam ini juga berguna untuk pengembangan teknologi seperti brain-computer interface dan prostetik pintar.

Data tentang preferensi tangan membantu peneliti merancang sistem sensor gerak yang lebih akurat untuk pengguna bertangan kanan maupun kiri. Dengan begitu, studi tentang tangan dominan tidak berhenti pada sejarah evolusi, tetapi juga membuka jalan untuk teknologi yang lebih presisi di masa depan.

Source: id.mashable.com

Baca Juga

Back to top button