Masuk Kerja Lewat Orang Dalam Tak Selalu Untung, Ini 5 Beban yang Mengikat

Masuk kerja lewat orang dalam sering dianggap sebagai jalan mulus untuk cepat mendapat posisi. Namun, kemudahan di awal itu bisa berubah menjadi beban yang menempel lama setelah nama tercantum di daftar karyawan.

Di balik rasa aman karena dibantu kenalan, ada tekanan moral, rasa sungkan, sampai relasi kerja yang jadi rumit. Situasi ini membuat keuntungan awal tidak selalu sebanding dengan konsekuensi yang mengikuti setelahnya.

Utang budi yang membuat resign terasa berat

Banyak orang yang diterima lewat bantuan kenalan merasa punya utang budi. Rasa itu sering membuat keputusan untuk pindah kerja terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.

Kalau tempat kerja ternyata tidak cocok atau tidak sehat, keinginan untuk keluar pun sering tertahan oleh rasa takut dianggap tidak tahu terima kasih. Beban moral ini bisa bertahan lama dan ikut memengaruhi keputusan karier.

Kepercayaan diri ikut goyah karena proses seleksi terasa formalitas

Meski tetap melewati tes, hasil akhir sering sudah terasa hampir pasti bagi orang yang masuk lewat koneksi. Kondisi seperti ini bisa memunculkan perasaan bahwa posisi tersebut bukan sepenuhnya hasil kemampuan sendiri.

Dalam jangka panjang, hal itu dapat mengganggu rasa percaya diri saat menghadapi tugas baru yang lebih menantang. Muncul kecemasan bahwa pencapaian selama ini hanya terjadi karena bantuan orang lain.

Batas antara kerja dan urusan pribadi jadi kabur

Satu kantor dengan orang yang membawa masuk sering menciptakan situasi serba salah. Permintaan kecil pun bisa terasa sulit ditolak, meski sebenarnya berada di luar tanggung jawab kerja.

Masalahnya bisa semakin besar ketika rasa sungkan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Akibatnya, fokus kerja utama terganggu karena waktu dan tenaga habis untuk urusan yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan.

Prestasi mudah dianggap lahir karena koneksi

Kerja keras yang nyata tidak selalu langsung dilihat secara objektif. Saat target tercapai atau kontribusi besar diberikan, rekan kerja maupun atasan bisa saja tetap mengaitkannya dengan hubungan personal yang dimiliki.

Situasi itu membuat pencapaian yang seharusnya membanggakan terasa hambar. Pada titik tertentu, seseorang bisa merasa harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk membuktikan bahwa hasil kerjanya memang layak dihargai.

Kesalahan kecil bisa menyeret nama baik orang lain

Masuk lewat bantuan kenalan juga membuat setiap langkah kerja ikut melekat pada nama orang yang memberi rekomendasi. Jika terjadi kesalahan atau target tidak tercapai, keputusan orang yang membawanya masuk ikut ikut dipertanyakan.

Dampaknya tidak berhenti di kantor. Hubungan personal bisa ikut retak, sementara orang yang membantu juga berisiko kehilangan kepercayaan untuk memberi rekomendasi lagi di kemudian hari.

Karena itu, jalur masuk yang tampak mudah tidak selalu berarti bebas masalah. Di banyak kasus, yang terlihat seperti keuntungan awal justru berubah menjadi rangkaian beban yang ikut dibawa sepanjang masa kerja.

Source: www.idntimes.com

Terkait