Massa Mahasiswa Semarang Kembali Turun ke Jalan, Kantor Gubernur Jateng Jadi Sasaran

Gelombang aksi mahasiswa di Semarang belum mereda. Pada Rabu sore, ratusan mahasiswa bergerak menuju kompleks kantor Gubernur Jawa Tengah dan DPRD Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, lalu memenuhi kawasan itu dengan poster protes dan teriakan revolusi.

Aksi terbaru ini menambah panjang rangkaian unjuk rasa yang sudah berlangsung berulang kali di kota itu. Sebelumnya, demonstrasi mahasiswa juga digelar pada Jumat 5 Juni 2026 di depan kantor BI Jawa Tengah, lalu berlanjut pada Jumat 12 Juni 2025, Senin 15 Juni 2026, dan kembali turun ke jalan pada Rabu 17 Juni 2026.

Di lokasi, massa mulai memadati Jalan Pahlawan sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka kemudian menggeruduk kompleks kantor gubernur dan kantor DPRD Jateng sambil menyuarakan tuntutan yang sama seperti pada aksi-aksi sebelumnya.

Fokus Tuntutan Masih MBG dan Keterlibatan Aparat

Perwakilan Komisariat PMII UIN Walisongo, Alfani, menyebut sorotan utama dalam aksi kali ini tetap tertuju pada program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Ia juga menegaskan bahwa massa mengecam aparat yang dinilai masuk ke ruang sipil, baik TNI maupun polisi.

Menurut Alfani, kritik itu tidak hanya diarahkan pada program-program populis pemerintah seperti MBG dan proyek strategis lainnya. Ia juga menyoroti semakin luasnya keterlibatan aparat militer dalam ranah sipil yang disebutnya sudah berlangsung cukup lama.

Dalam penjelasannya di sela aksi, Alfani mengaitkan isu tersebut dengan revisi UU TNI dan berbagai kebijakan yang memperluas peran militer. Ia menegaskan aksi akan terus berlanjut sampai pemerintah mendengarkan keresahan rakyat dan mengevaluasi kebijakan yang dianggap merugikan.

Situasi Memanas Saat Sore Berganti Malam

Hingga pukul 17.50 WIB, suasana aksi makin tegang setelah polisi mengumandangkan azan. Massa kemudian membakar ban dan poster, lalu mahasiswa berselawat sambil mencoba merubuhkan gerbang kompleks kantor pemerintahan.

Polisi merespons dengan menyemprotkan apar untuk memadamkan api. Di tengah ketegangan itu, orator aksi juga berteriak, “Api adalah simbol kemarahan kita.”

Rangkaian unjuk rasa ini sebelumnya mengusung tajuk Panca Tuntutan Rakyat atau PANTURA pada Senin 15 Juni 2026. Dengan agenda yang terus berulang, Semarang kembali menjadi pusat tekanan mahasiswa terhadap pemerintah daerah dan aparat di jalan utama pusat kota.

Source: regional.kompas.com

Terkait