Maskapai besar China tengah menyiapkan tambahan 95 pesawat Airbus dengan nilai katalog gabungan sekitar US$17,8 miliar atau Rp318,62 triliun. Pesanan besar ini menjadi sinyal bahwa ekspansi kapasitas penerbangan di pasar China terus bergerak agresif.
Armada tersebut tidak semata-mata dipakai untuk menambah kursi penerbangan, melainkan juga menggantikan pesawat lama yang kurang efisien. Pengadaan pesawat baru diharapkan membantu maskapai menekan biaya operasi sekaligus memperbaiki efisiensi bahan bakar.
Pesanan Terbagi untuk Tiga Maskapai
Dua kesepakatan pembelian melibatkan Air China, Shenzhen Airlines, dan Hainan Airlines. Jadwal pengiriman pesawat akan berlangsung bertahap dari 2028 hingga 2032, sehingga dampaknya terhadap kapasitas armada akan muncul dalam beberapa tahun ke depan.
| Maskapai | Model Pesawat | Jumlah | Jadwal Pengiriman |
|---|---|---|---|
| Air China | Airbus A350-900 | 15 unit | 2030–2032 |
| Shenzhen Airlines | Airbus A320neo | 40 unit | 2029–2032 |
| Hainan Airlines | Airbus A320neo | 40 unit | 2028–2032 |
Air China bersama anak usahanya, Shenzhen Airlines, menyetujui pembelian 55 pesawat Airbus dengan nilai katalog sekitar US$12,44 miliar atau Rp222,68 triliun. Porsi pesanan itu terdiri atas 15 Airbus A350-900 untuk Air China dan 40 Airbus A320neo untuk Shenzhen Airlines.
Di sisi lain, Hainan Airlines memesan 40 Airbus A320neo dengan nilai katalog US$5,36 miliar atau sekitar Rp95,94 triliun. Nilai transaksi aktual dari pesanan-pesanan tersebut berpotensi lebih rendah karena pembelian pesawat biasanya melibatkan diskon komersial.
Kapasitas Naik, Armada Lama Mulai Digantikan
Air China Group menyatakan tambahan pesawat akan mendukung pembaruan armada dan perluasan jaringan penerbangan. Strategi ini menempatkan pesawat baru sebagai alat untuk mengejar pertumbuhan sekaligus memperbaiki struktur biaya operasional.
Tambahan armada Airbus A350 diproyeksikan menaikkan kapasitas Air China sekitar 7,1%. Sementara pesawat baru yang akan dioperasikan Shenzhen Airlines diperkirakan meningkatkan kapasitas maskapai sekitar 4,3%.
Penggantian armada lama menjadi bagian penting dari keputusan ini karena pesawat generasi baru menawarkan penggunaan bahan bakar yang lebih efisien. Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya menurunkan emisi karbon dari kegiatan penerbangan.
A320neo untuk Rute Padat, A350 untuk Jarak Jauh
Airbus A320neo akan menjadi tulang punggung tambahan kapasitas pada rute domestik dan regional yang memiliki frekuensi tinggi. Model lorong tunggal ini dipilih karena menawarkan efisiensi bahan bakar yang lebih baik serta emisi karbon yang lebih rendah.
Sebaliknya, Airbus A350-900 dirancang untuk penerbangan jarak jauh dan akan memperkuat pilihan Air China di segmen tersebut. Pesawat berbadan lebar ini diposisikan untuk memberi efisiensi operasional dan kenyamanan penumpang yang lebih tinggi.
Kombinasi A320neo dan A350-900 memberi maskapai keleluasaan dalam memperluas jaringan pada berbagai jenis rute. Maskapai dapat menambah penerbangan domestik dan regional melalui pesawat lorong tunggal, sambil membuka ruang penguatan layanan jarak jauh dengan pesawat berbadan lebar.
Masih Menunggu Persetujuan Akhir
Kesepakatan pembelian tersebut diumumkan pada 17 Juli 2026 dan masih menunggu persetujuan regulator serta pemegang saham. Beritasatu.com melaporkan pendanaan pembelian Hainan Airlines akan mengandalkan kas internal, pinjaman bank, sewa pembiayaan, dan sumber pendanaan lain.
Jika semua persetujuan diperoleh, pesanan ini akan memperkuat posisi Airbus di China, salah satu pasar pesawat komersial terbesar dan paling strategis di dunia. Investasi armada baru juga membuka peluang peningkatan kapasitas angkut serta penambahan rute bagi tiga maskapai tersebut.
Source: www.beritasatu.com






