Michael Phelps mengubah sejarah renang Olimpiade lewat dominasi yang jarang terlihat dalam olahraga apa pun. Puncaknya terjadi di Beijing, ketika perenang asal Amerika Serikat itu merebut emas kedelapan dalam satu edisi Olimpiade dan mematahkan rekor yang bertahan selama 36 tahun.
Momen itu membuat Phelps bukan hanya dikenal sebagai juara, tetapi sebagai simbol era baru di kolam renang. Ia melampaui pencapaian Mark Spitz yang mengumpulkan tujuh emas di Munich 1972, lalu mengokohkan diri sebagai standar baru untuk atlet Olimpiade.
Beijing menjadi panggung terbesar
Olimpiade Beijing 2008 menjadi titik paling terkenal dalam karier Phelps. Di sana, ia tampil konsisten dan menutup rangkaian penampilannya dengan emas pada nomor estafet 4×100 meter gaya ganti putra bersama tim Amerika Serikat.
Kemenangan itu diraih dengan relatif nyaman. Hasil tersebut mempertegas citra Phelps sebagai perenang yang bukan hanya cepat, tetapi juga sangat stabil dalam tekanan besar.
Dari delapan emas yang ia kumpulkan di Beijing, tujuh di antaranya disertai pemecahan rekor dunia. Satu-satunya nomor yang tidak menghasilkan catatan waktu terbaik dunia adalah 100 meter gaya kupu-kupu, tetapi capaian itu tetap tidak mengurangi besarnya pengaruh yang ia tinggalkan.
Rekor yang terasa sulit disamai
Medali emas di Beijing membuat koleksi emas Olimpiade Phelps mencapai 14. Sebelumnya, ia sudah lebih dulu meraih enam emas di Olimpiade Athena 2004, sehingga total prestasinya melampaui banyak legenda olahraga lain.
Pada usia 23 tahun, Phelps sudah berdiri di puncak yang tampak jauh dari jangkauan pesaing terdekatnya. Jarak itu bukan hanya soal angka, tetapi juga soal konsistensi, kelas, dan kemampuan menang di banyak nomor sekaligus.
Keunggulan fisiknya ikut membantu dominasinya. Postur tubuh ideal dan rentang tangan yang lebih panjang dari tinggi badannya menjadikannya sosok yang sangat mendukung untuk renang kompetitif.
Dari Baltimore ke sorotan dunia
Phelps lahir di Baltimore, Amerika Serikat, pada 30 Juni 1985. Ia tumbuh bersama sang ibu, Deborah Phelps, serta dua kakak perempuannya, Hilary dan Whitney, yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.
Karier internasionalnya dimulai sangat muda saat tampil pertama kali di Olimpiade pada usia 15 tahun di Sydney 2000. Dari sana, ia terus menambah medali dan rekor hingga menutup karier gemilangnya setelah Olimpiade Rio 2016.
Perjalanan panjang itu membentuk reputasinya sebagai atlet yang bukan hanya sukses sesaat. Ia bertahan di level tertinggi selama bertahun-tahun, sesuatu yang membuat warisannya jauh lebih besar daripada satu ajang atau satu rekor.
Pengaruh yang meluas di luar kolam
Setelah pensiun, nama Phelps tetap kuat di luar dunia kompetisi. Keberhasilannya membuka peluang dalam dunia akademik dan berbagai kegiatan edukasi, menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak berhenti ketika ia meninggalkan kolam renang.
Nilai komersialnya juga tetap besar. Menurut Vietnam Express, ia masih bisa menghasilkan sekitar 10 juta dolar AS atau setara Rp160 miliar per tahun setelah pensiun, terutama dari kerja sama dengan perusahaan besar.
Sejumlah merek ternama pernah bekerja sama dengannya, termasuk Visa, Subway, Speedo, dan Under Armour. Celebrity Net Worth memperkirakan kekayaan bersihnya kini sekitar 100 juta dolar AS atau lebih dari Rp1 triliun, yang memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik namanya di luar arena olahraga.
Di sisi pribadi, Phelps menikah dengan mantan ratu kecantikan Nicole Johnson pada 2016. Pasangan ini memiliki empat anak, yakni Boomer, Beckett, Maverick, dan Nico yang lahir pada 2024, seperti dilaporkan NBC Olympics.
Warisan Phelps akhirnya berdiri di dua kaki: prestasi olahraga yang luar biasa dan pengaruh yang tetap hidup setelah pensiun. Rekor 14 emas, dominasi di Beijing, dan jejak panjangnya di Olimpiade membuat namanya terus menempati posisi istimewa dalam sejarah renang dunia.
Source: www.viva.co.id