Konser perdana Maki di Indonesia menghadirkan malam yang bergerak dari haru ke euforia dalam satu panggung. Bertajuk Maki’s Kolorcoaster Tour Jakarta, pertunjukan di Bengkel Space, SCBD, Jakarta, pada Minggu (14/6/2026) itu memperlihatkan bagaimana penyanyi dan penulis lagu asal Filipina tersebut membangun emosi penonton lewat rangkaian warna dan lagu.
Bagi Maki, momen itu terasa spesial karena menjadi penampilan pertamanya di Jakarta. Sebelumnya, ia memang sudah sempat tampil di Indonesia lewat AXEAN Festival 2024 di Bali, tetapi konser kali ini memberi ruang yang lebih intim untuk berinteraksi langsung dengan para penggemarnya.
Sambutan hangat sejak awal acara
Alih-alih langsung masuk ke set utama, konser dibuka dengan soundcheck experience yang membuat suasana terasa lebih dekat. Maki menyapa penonton sejak awal, sementara penggemar yang dikenal sebagai Zushi juga menyiapkan berbagai hadiah untuknya.
Setelah itu, suasana makin akrab lewat sesi photo session dan interaksi satu per satu dengan para penggemar. Pembukaan seperti ini membuat konser terasa lebih personal sebelum Maki masuk ke bagian utama pertunjukan.
Perjalanan warna di atas panggung
Konsep konser dirancang seperti perjalanan emosional yang menyerupai roller coaster. Maki membuka penampilan dengan visual menggemaskan yang terinspirasi dari lagu-lagunya, lalu membawakan Kahel Na Langit sebagai lagu pembuka.
Dari sana, suasana bergerak ke sesi oranye lewat Kailan dan Kurba. Setelah itu, panggung bergeser ke warna biru melalui Bughaw dan Bakit?, yang dibawakan dari area panggung lebih dekat dengan penonton.
Sesi biru menjadi salah satu momen paling hidup karena banyak lagu dibawakan dalam bahasa Tagalog. Zushi ikut bernyanyi keras, dan Maki sempat mengusap air mata saat melihat antusiasme penonton yang tenggelam dalam pertunjukan.
Dari lagu sendu ke sorakan riuh
Perjalanan emosi kemudian berlanjut ke sesi ungu lewat lagu berbahasa Inggris INDIGO (with u). Lagu itu membawa nuansa patah hati dan keinginan mempertahankan seseorang yang sudah pergi.
Setelah suasana sendu, ritme konser berubah lewat sesi hijau dan merah. Dalam bagian seating yang sempat membuat penonton diminta berdiri, Maki memancing sorakan ramai saat membawakan Turning Green.
Sorakan “eeeeaaaa” dari penonton sempat membuat Maki terdiam dan tampak bingung sesaat. Namun ia segera tersenyum lebar, menganggukkan kepala, lalu turun menyapa penonton lewat hi-touch.
Keramaian berlanjut ketika sesi merah menghadirkan Namumula dan Nangungulila. Maki juga mengganti busananya hingga dua kali selama konser, menambah energi pada pertunjukan yang sudah terasa padat warna.
Setlist penuh kejutan dan momen dekat dengan penggemar
Di tengah konser, Maki membawakan Itim Na Ulap, lagu yang ia sebut bercerita tentang hewan peliharaannya. Ia bahkan sempat mengajak penggemar menunjukkan foto hewan peliharaan mereka masing-masing.
Ia juga menyanyikan Para Sa Buwan saat para Zushi menyalakan flash dari penonton. Cahaya ponsel itu membuat Bengkel Space, SCBD terasa hangat dan penuh kebersamaan.
Energi konser kembali naik ketika Maki menari bersama dancer dalam lagu Roygbiv. Setelah itu, ia juga membawakan Saan, Abelyana, dan Habangbuhay Pansamantala sebagai bagian dari rangkaian lagu yang menjaga tempo pertunjukan tetap tinggi.
Salah satu kejutan terbesar malam itu hadir ketika Maki membawakan Backburner milik NIKI. Ia mengaku sebagai penggemar NIKI dan berharap sang musisi bisa berada bersamanya di Jakarta.
Penutup meriah dengan Dilaw
Menjelang akhir, Maki kembali mengganti outfit sebelum menutup konser dengan Dilaw. Lagu itu dipadukan dengan visual bintang dan dominasi warna kuning yang membuat penutup konser terasa meriah.
Sebelum benar-benar turun panggung, Maki kembali melakukan hi-touch dengan penonton. “Aku sangat bahagia di sini, di Indonesia,” ujarnya kepada Beautynesia sebelum meninggalkan panggung.
Source: www.beautynesia.id






