6 Makanan yang Berbahaya Dipanaskan Lagi di Microwave, Nomor 3 Sering Terabaikan

Microwave memang praktis untuk menghangatkan makanan dalam hitungan menit, tetapi tidak semua hidangan aman dipanaskan ulang dengan cara ini. Pada beberapa jenis makanan, panas yang tidak merata justru bisa menyisakan bagian yang tetap berada di suhu ideal bagi bakteri untuk bertahan hidup.

Risikonya tidak hanya soal rasa atau tekstur. Pada makanan tertentu, pemanasan ulang juga dapat memicu perubahan kimia yang tidak diinginkan, terutama jika penyimpanan sebelumnya dilakukan dengan kurang tepat.

1. Daging olahan dan ayam

Daging olahan seperti sosis, nugget, ham, dan smoked beef termasuk yang perlu diwaspadai saat dipanaskan di microwave. Sejumlah penelitian menunjukkan pemanasan ulang dapat memicu perubahan pada senyawa kimia di dalamnya, terutama karena kandungan pengawet dan lemak berpotensi mengalami oksidasi saat terkena panas tinggi.

Sebuah studi PubMed Central pada 2015 menemukan sosis yang dipanaskan dengan microwave menghasilkan kadar cholesterol oxidation products atau COPs paling tinggi dibandingkan metode memasak lain. Senyawa ini dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, peradangan, dan penumpukan plak pada pembuluh arteri.

Ayam juga masuk daftar makanan yang perlu perhatian khusus. Microwave kerap menghasilkan distribusi panas yang tidak merata, sehingga ada bagian ayam yang bisa tetap berada pada suhu yang memungkinkan bakteri bertahan hidup.

Jenis MakananRisiko UtamaCatatan
Daging olahanPerubahan senyawa kimia dan oksidasi lemakTermasuk sosis, nugget, ham, dan smoked beef
AyamPanas tidak merata yang bisa meninggalkan bakteri bertahan hidupTekstur dan rasa juga bisa menurun

2. Nasi

Nasi menjadi salah satu makanan yang paling sering dipanaskan ulang karena praktis. Masalahnya, jika nasi dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang sebelum disimpan, bakteri seperti Bacillus cereus dapat berkembang dan menghasilkan racun yang sulit hilang meski nasi dipanaskan kembali.

Microwave juga tidak selalu mampu memanaskan seluruh bagian nasi secara merata. Karena itu, nasi sebaiknya segera didinginkan setelah matang dan disimpan di lemari pendingin sebelum dihangatkan lagi.

3. Kentang

Kentang rebus, kentang panggang, dan mashed potato juga perlu diperhatikan. Kentang yang sudah dimasak lalu dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang dapat menjadi tempat berkembangnya Clostridium botulinum yang menghasilkan racun botulinum dan bisa menyebabkan kelumpuhan otot.

Saat dipanaskan ulang dengan microwave, tidak semua bagian kentang tentu mencapai suhu yang cukup untuk menurunkan risiko tersebut. Selain itu, teksturnya bisa menjadi lebih kering dan kurang nikmat setelah dipanaskan berulang kali.

4. Sayuran hijau

Bayam, kangkung, dan sawi mengandung nitrat alami. Pada dasarnya, nitrat tidak berbahaya, tetapi paparan panas tinggi saat pemanasan ulang dapat mengubahnya menjadi nitrit.

Menurut penelitian PubMed Central, nitrit berpotensi membentuk nitrosamin, senyawa yang dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan sifat karsinogenik atau risiko kanker. Selain itu, tekstur sayuran berdaun hijau juga mudah rusak saat terkena panas tinggi dari microwave.

5. ASI dan susu formula

Bagi orang tua, microwave sering dianggap sebagai cara tercepat untuk menghangatkan ASI atau susu formula. Tetapi banyak ahli kesehatan tidak merekomendasikan cara ini karena microwave bisa membentuk titik panas atau hot spots yang tidak terlihat.

Botol mungkin terasa hangat secara keseluruhan, tetapi sebagian cairan di dalamnya bisa jauh lebih panas. Kondisi ini berisiko menyebabkan luka pada mulut atau tenggorokan bayi.

Panas yang terlalu tinggi juga dapat merusak nutrisi penting dan antibodi dalam ASI yang berperan mendukung sistem kekebalan tubuh. Mengacu pada penelitian Sharron Bransburg-Zabary, ASI sebaiknya tidak dipanaskan melebihi 40°C agar kualitasnya tetap terjaga.

Microwave tetap berguna untuk banyak kebutuhan dapur, tetapi tidak semua makanan cocok diperlakukan dengan cara yang sama. Memahami mana yang aman dan mana yang sebaiknya dihindari bisa membantu menjaga kualitas makanan sekaligus mengurangi risiko kesehatan di rumah.

Perhatian utama tetap ada pada cara penyimpanan sebelum pemanasan ulang, karena suhu ruang yang terlalu lama dapat memberi peluang bakteri berkembang. Dengan mengenali makanan yang paling berisiko, proses menghangatkan makanan bisa dilakukan dengan lebih aman.

Source: www.beautynesia.id

Terkait