Lonceng Keramat Belitung Lepas, Penebok Memburu Satu per Satu Dari Layar ke Legenda

Film horor Indonesia kembali menyorot mitos daerah luar Jawa lewat The Bell: Panggilan untuk Mati. Cerita ini berpusat pada lonceng keramat di Belitung yang dipercaya menjadi penjara bagi roh-roh jahat, lalu berubah menjadi sumber teror setelah benda itu dicuri.

Premisnya bergerak dari tindakan sembrono sekelompok YouTuber yang mengambil lonceng itu demi konten media sosial. Dari sana, sosok Penebok yang selama ratusan tahun terkurung akhirnya lepas dan mulai memburu orang-orang yang mendengar denting lonceng kematian.

Mitos Penebok dari Belitung

Penebok digambarkan sebagai hantu perempuan bergaun merah yang tidak berkepala. Mathias Muchus menyoroti keunikan wujud itu karena bagian tubuh yang hilang bukan hanya kepala, tetapi juga lehernya.

Kehadiran tokoh ini memberi warna berbeda di tengah dominasi kisah mistis yang selama ini lebih sering mengambil latar budaya Jawa. Mathias menilai Belitung juga menyimpan cerita horor yang kuat, meski wilayah itu kerap identik dengan panorama alam yang indah.

Latar Belitung jadi bagian penting cerita

Film produksi Sinemata Buana Kreasindo ini sepenuhnya syuting di Pulau Belitung. Pilihan lokasi tersebut membuat suasana film tidak hanya bergantung pada efek teror, tetapi juga pada karakter ruang yang mendukung cerita.

Mathias Muchus menyebut suasana di antara bangunan-bangunan tua Belitung memberi aura magis tersendiri. Latar itu memperkuat kesan bahwa lokasi bukan sekadar tempat kejadian, melainkan elemen penting yang ikut membentuk atmosfer horor.

Ratu Sofya juga mengaku antusias karena ini menjadi pengalaman pertamanya berada di Belitung. Bagi aktris muda tersebut, proses syuting di pulau itu menghadirkan tantangan baru sekaligus kesempatan untuk mendalami karakter yang ia perankan.

Deretan pemeran yang menghidupkan konflik

Film ini menempatkan Mathias Muchus, Ratu Sofya, Bhisma Mulia, dan Shaloom Razade sebagai pemeran utama. Sejumlah nama lain juga terlibat untuk memperkuat lapisan cerita, di antaranya Givina Dewi, Septian Dwi Cahyo, Nabil Lunggana, dan Maulidan Zuhri.

Kehadiran para pemain tersebut memberi ruang bagi cerita untuk bergerak dari misteri lokal menuju ketegangan yang lebih luas. Teror Penebok tidak hanya ditampilkan sebagai legenda, tetapi juga sebagai ancaman yang hadir melalui rangkaian peristiwa setelah lonceng dilepaskan.

Proyek yang dekat dengan sumber ceritanya

Mathias Muchus menilai proyek ini terasa dekat dengan akar kisahnya karena melibatkan produser asal Belitung. Ia juga melihat partisipasi pihak lokal sebagai bentuk dukungan pada produksi yang lahir dari wilayah asal legenda tersebut.

Pendekatan itu membuat film ini tidak berhenti pada eksploitasi mitos, tetapi berupaya menempatkan sumber ceritanya secara lebih terhubung dengan daerah asal. Dalam konteks film horor Indonesia, langkah seperti ini penting karena memberi ruang lebih luas bagi cerita rakyat dari luar pusat industri yang selama ini lebih dominan.

Jadwal tayang dan detail utama film

Berikut informasi utama yang tercantum dalam sumber referensi:

  1. Judul: The Bell: Panggilan untuk Mati
  2. Sutradara: Jay Sukmo
  3. Produksi: Sinemata Buana Kreasindo
  4. Lokasi syuting: Pulau Belitung
  5. Jadwal tayang: 7 Mei 2026

Dengan premis tentang lonceng keramat, kemunculan Penebok, dan latar Belitung yang kuat, film ini menawarkan horor yang bertumpu pada mitos lokal. Teror pun bergerak dari sebuah benda sakral yang hilang, lalu menebar ancaman kepada siapa saja yang terhubung dengan denting kematian itu.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button