Larangan Jual Polestar di AS Picu Cemas Resale Anjlok dan Servis Ikut Terseret

Larangan Polestar menjual mobil baru di Amerika Serikat setelah model year 2027 bukan hanya soal bisnis merek itu di pasar terbesar dunia. Bagi pemilik yang sudah terlanjur membeli, keputusan regulator AS justru membuka kekhawatiran yang lebih besar: nilai jual kembali bisa jatuh, layanan purnajual melemah, dan dukungan software bisa ikut tidak menentu.

Keputusan itu datang dari Bureau of Industry and Security di bawah US Department of Commerce, yang menolak izin Polestar untuk tetap menjual kendaraan di AS melampaui 2027. Langkah tersebut mengejutkan dealer karena Volvo baru saja mendapat pengecualian untuk tetap menjual mobilnya di pasar Amerika, meski juga memakai sejumlah komponen hardware dan software yang bersumber dari China.

Kekhawatiran Utama Pemilik Polestar

Di kalangan pemilik, dua pertanyaan paling besar langsung muncul: berapa cepat harga bekas akan turun, dan apakah jaringan servis akan tetap bertahan. Reuters melaporkan bahwa sebagian pemilik juga khawatir mobil mereka tidak lagi mendapat update software rutin, sehingga teknologi di dalam kendaraan bisa tertinggal dari model lain di pasar.

Kekhawatiran itu terasa masuk akal di pasar kendaraan listrik, yang sangat sensitif terhadap persepsi layanan dan ketersediaan suku cadang. Saat sebuah merek dipandang kehilangan pijakan di suatu negara, pasar bekas biasanya bereaksi lebih cepat daripada pasar mobil baru.

IsuDampak yang Dikhawatirkan
Larangan penjualan baruNilai jual kembali berpotensi turun tajam
Layanan purnajualJaringan servis dinilai rapuh untuk jangka panjang
Update softwareMobil berisiko tertinggal dari versi yang tersedia di pasar lain

Sejumlah calon pembeli justru melihat situasi ini dari sisi lain. Mereka berharap tekanan pada harga bekas membuat Polestar second lebih murah, bahkan ada yang membandingkannya dengan harga obral setelah kebangkrutan Fisker pada 2024.

Pemilik yang Sudah Membeli Mulai Ragu

Ryan Rodriguez, salah satu pemilik Polestar yang dikutip Reuters, mengatakan ia membeli model 2024 hanya beberapa minggu sebelum penghentian penjualan diumumkan. Ia menyebut akan memilih mobil listrik merek lain jika mengetahui larangan itu akan datang, dan kini juga memikirkan risiko garansi di masa depan.

Keluhan serupa datang dari Bill Baird, yang ingin mempertahankan Polestar 2024 miliknya selama bertahun-tahun. Ia mengaku sudah kesulitan mendapatkan servis lewat dealer Volvo dan mengatakan dirinya akan ragu membeli Polestar lagi karena alasan dukungan jangka panjang.

Situasi ini membuat sebagian pemilik menilai keputusan membeli Polestar di AS kini terasa berbeda dari saat transaksi dilakukan. Di pasar yang dipenuhi persaingan mobil listrik, kepastian servis dan keberlanjutan dukungan sering kali sama pentingnya dengan harga awal.

Volvo Masih Jadi Harapan Terakhir

Meski masa depan Polestar di AS dipertanyakan, masih ada satu penopang yang dinilai bisa membantu mobil-mobilnya tetap layak dipakai. Jaringan Volvo disebut berpotensi menjadi tulang punggung bagi pemilik Polestar yang sudah beredar di jalanan Amerika.

Karl Brauer dari iSeeCars menilai Volvo seharusnya mampu meredam “banyak efek negatif” dari tersingkirnya Polestar dari pasar AS. Pandangan itu memberi sedikit ruang tenang, walau belum menjawab seluruh pertanyaan soal keberlanjutan servis dan dukungan teknis.

Polestar menyatakan akan terus mengoperasikan 32 pusat servis yang sudah ada di seluruh AS, dan semuanya berada di dealer Volvo. Namun perusahaan juga mengakui bahwa kelangsungan jangka panjangnya masih belum pasti.

Perusahaan itu juga menegaskan bahwa seluruh kendaraan Polestar di AS akan tetap menerima update software rutin. Pernyataan ini dimaksudkan untuk meredam kecemasan pemilik, tetapi keputusan regulator dan ketidakpastian di jaringan dealer membuat banyak pelanggan masih menunggu bukti nyata di lapangan.

Source: www.carscoops.com

Terkait