PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp 1,1 triliun pada kuartal pertama, naik 22,6 persen secara tahunan dari Rp 904 miliar pada periode yang sama sebelumnya. Kenaikan itu ditopang oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh 13 persen menjadi Rp 4,3 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan BTN masih mampu menjaga pertumbuhan bisnis inti di tengah persaingan industri perbankan yang ketat. Direktur Keuangan dan Strategi BTN, Nofry Rony Poetra, menyebut NII menjadi salah satu penopang utama laba perseroan.
Kredit perumahan tetap jadi tulang punggung
Pertumbuhan laba BTN berjalan beriringan dengan ekspansi kredit yang naik 10,3 persen menjadi Rp 400,63 triliun. Dari total itu, sekitar Rp 329,93 triliun atau 80 persen dialokasikan ke sektor perumahan yang selama ini menjadi fokus utama bisnis BTN.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa model bisnis bank pelat merah ini masih sangat bergantung pada pembiayaan hunian. Di saat penyaluran kredit meningkat, BTN juga menjaga agar pertumbuhan pendapatan tetap sejalan dengan efisiensi biaya.
KPR subsidi masih mendominasi portofolio
Portofolio kredit pemilikan rumah atau KPR BTN tercatat mencapai Rp 306,1 triliun, naik 6,8 persen dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya. Dari angka itu, KPR subsidi masih menjadi bagian terbesar dengan nilai Rp 193,55 triliun, sementara KPR non-subsidi berada di level Rp 112,56 triliun.
Dominasinya KPR subsidi menegaskan posisi BTN sebagai bank yang paling dekat dengan pembiayaan rumah masyarakat. Nofry Rony Poetra menyampaikan bahwa porsi KPR subsidi masih berada di kisaran hampir 60 persen, sedangkan sisanya berasal dari KPR non-subsidi.
Pendanaan ikut menguat
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga atau DPK BTN tumbuh 9,9 persen menjadi Rp 422,63 triliun. Total aset perseroan juga naik 10,5 persen menjadi Rp 517,54 triliun, yang mencerminkan penguatan skala usaha BTN.
Komposisi dana murah atau CASA turut membaik dengan kenaikan 7,9 persen menjadi Rp 212,11 triliun. Porsi CASA kini mencapai 50,2 persen dari total DPK, sehingga BTN lebih leluasa menekan biaya dana atau cost of fund ke level 3 persen dari sebelumnya 4 persen.
Perbaikan biaya dana penting bagi bank karena berpengaruh langsung pada margin keuntungan. Saat biaya dana turun, ruang BTN untuk menjaga profitabilitas dan memperluas pembiayaan menjadi lebih besar.
Indikator yang menopang laba
Sejumlah indikator keuangan memberi gambaran mengapa BTN mampu mencatat laba lebih tinggi pada kuartal pertama. Pendapatan bunga bersih naik, kredit bertambah, dan pendanaan juga menguat.
- Pendapatan bunga bersih naik 13 persen menjadi Rp 4,3 triliun.
- Kredit tumbuh 10,3 persen menjadi Rp 400,63 triliun.
- DPK naik 9,9 persen menjadi Rp 422,63 triliun.
- CASA bertambah 7,9 persen menjadi Rp 212,11 triliun.
- Cost of fund turun dari 4 persen menjadi 3 persen.
Rangkaian data itu menunjukkan bahwa BTN tidak hanya mencatat kenaikan laba, tetapi juga memperbaiki struktur pendanaan dan efisiensi operasional. Dengan basis pembiayaan perumahan yang masih dominan, kinerja kuartal pertama menegaskan bahwa mesin KPR subsidi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan perseroan.







