Tahun 2026 dipandang sebagai ujian besar bagi industri smartphone karena krisis chip memori global menekan pasar ponsel baru. Di saat harga perangkat baru terdorong naik, minat pada smartphone bekas justru diperkirakan melaju lebih kencang.
Tekanan terbesar datang dari pasokan memori yang makin ketat, sementara konsumen di sisi lain semakin sensitif terhadap harga. Kombinasi itu membuat sebagian pembeli menunda upgrade dan mulai melirik perangkat second-hand yang lebih terjangkau.
Harga ponsel baru makin sulit dijangkau
FDM CCS Insight memperkirakan pasar smartphone akan terkontraksi 14,8% karena produsen menaikkan harga untuk menutup biaya komponen yang lebih tinggi. Kontraksi paling tajam diperkirakan terjadi pada awal kuartal, sekitar 4,4%, meski stok barang sempat ditimbun sebelumnya.
Lonjakan harga paling terasa di kelas entry-level. Laporan FDM CCS Insight menyebut kenaikannya bisa mencapai sekitar 50%, sehingga beban paling berat jatuh pada pembeli ponsel murah.
Ben Hatton dari FDM CCS Insight mengatakan dampaknya akan lebih terasa bagi konsumen yang membeli ponsel di bawah US$500, atau sekitar Rp8,9 juta. Ia menambahkan bahwa banyak pengguna kemungkinan tetap memakai ponsel lama karena perangkat baru makin sulit dijangkau.
Memori jadi titik paling sensitif
Masalah inti industri kali ini ada pada DRAM dan NAND flash yang semakin diburu untuk kebutuhan pusat data dan infrastruktur AI. Permintaan besar dari sektor itu membuat pasokan memori untuk perangkat konsumen menipis.
Dalam beberapa model smartphone, komponen memori bahkan menyumbang lebih dari 30% dari daftar bahan baku atau bill of materials. Kondisi ini menekan produsen dari dua sisi sekaligus, yakni biaya yang naik dan pasokan yang semakin ketat.
Perusahaan kemungkinan harus terus menyesuaikan harga sepanjang tahun agar margin tetap terjaga. Namun, langkah itu juga berisiko membuat konsumen makin menunda pembelian perangkat baru.
Pasar smartphone bekas ikut terdorong
Di tengah tekanan tersebut, pasar smartphone bekas mendapat momentum baru. TechRadar melaporkan bahwa kondisi seperti ini biasanya mendorong permintaan perangkat second-hand karena pengguna mencari alternatif yang lebih ramah anggaran.
Data FDM CCS Insight menunjukkan penjualan smartphone bekas naik 4% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Untuk sepanjang 2026, ceruk ini diperkirakan tumbuh 15,4% seiring peralihan permintaan dari perangkat baru.
FDM CCS Insight juga menilai masih ada pelanggan yang membutuhkan smartphone baru. Namun, banyak di antara mereka akhirnya memilih pasar bekas karena harga perangkat baru sudah melampaui kemampuan belanja mereka.
Situasi ini membuat 2026 berpotensi menjadi tahun yang tidak nyaman bagi produsen, tetapi menguntungkan penjual ponsel bekas. Saat chip memori semakin langka dan harga perangkat baru terus terangkat, pasar second-hand justru bisa menjadi pelarian utama bagi banyak pembeli.







