Menanam lebih banyak pohon tidak otomatis membuat kota lebih tahan terhadap gelombang panas, polusi udara, atau banjir. Yang menentukan hasil akhirnya justru cara ruang hijau ditempatkan, dikelola, dan disesuaikan dengan kebutuhan warga.
Sejumlah peneliti di Inggris menilai kebijakan penghijauan perkotaan masih terlalu sering berhenti pada target jumlah pohon. Padahal, pohon di kota punya fungsi yang jauh lebih luas, mulai dari kesehatan lingkungan hingga hubungan sosial masyarakat dengan ruang tempat mereka hidup.
Masalahnya Bukan Sekadar Jumlah
Dalam temuan yang dipublikasikan di jurnal Urban Sustainability, pendekatan penghijauan kota disebut kerap berorientasi pada penanaman pohon semata. Profesor Jasper Kenter dari Aberystwyth Business School mengatakan pohon di kota juga membentuk hubungan masyarakat dengan lingkungannya.
Kenter menambahkan bahwa alat yang dikembangkan timnya dirancang untuk mendukung diskusi yang lebih inklusif tentang masa depan pepohonan di perkotaan. Menurut dia, keputusan menanam pohon tidak cukup hanya mempertimbangkan manfaat ekologis atau estetika.
| Manfaat Pohon di Perkotaan | Dampak Utama |
|---|---|
| Menurunkan suhu udara | Membantu mengurangi efek panas di kawasan padat |
| Menyerap air hujan | Mendukung pengurangan risiko banjir dan limpasan air |
| Mengurangi erosi | Menjaga kualitas tanah di area tertentu |
| Menyaring polusi udara | Memberi dampak positif bagi kesehatan lingkungan |
| Menjadi habitat satwa | Mendukung keanekaragaman hayati di kota |
Tree Value Visions Jadi Pendekatan Baru
Untuk menjawab persoalan itu, para peneliti mengembangkan Tree Value Visions. Perangkat ini membantu pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, dan pengelola kota menentukan prioritas penghijauan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.
Pendekatannya berbeda dari cara konvensional karena tidak hanya menghitung jumlah pohon. Alat ini mengajak berbagai pihak mendiskusikan fungsi pohon dari empat sudut pandang, yaitu sebagai identitas tempat, sumber daya, bagian dari ekosistem, dan bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Pemerintah Inggris sendiri menargetkan penanaman pohon seluas 30.000 hektare setiap tahun untuk menghadapi perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Tree Value Visions telah diuji di beberapa kota, termasuk Cardiff, Edinburgh, York, Milton Keynes, dan Camden.
| Aspek Diskusi | Fokus Penilaian |
|---|---|
| Identitas tempat | Peran pohon dalam karakter dan citra kawasan |
| Sumber daya | Nilai guna pohon bagi kebutuhan kota |
| Bagian dari ekosistem | Kontribusi pohon terhadap keseimbangan lingkungan |
| Kehidupan sosial | Hubungan pohon dengan aktivitas dan interaksi warga |
Pelajaran yang Relevan untuk Indonesia
Indonesia sebenarnya sudah punya dasar kebijakan ruang terbuka hijau lewat Undang-Undang Penataan Ruang. Aturan itu mengamanatkan setiap kota memiliki sedikitnya 30 persen ruang terbuka hijau untuk menjaga keseimbangan lingkungan perkotaan.
Namun, praktik di lapangan masih menunjukkan ruang hijau terus terdesak pembangunan. Tidak sedikit pohon ditanam tanpa mempertimbangkan kesesuaian lokasi, sementara sempadan sungai dan area hijau berubah menjadi permukiman.
Pengalaman di Inggris menunjukkan bahwa keberhasilan penghijauan kota tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan pohon benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memperkuat ketahanan kota terhadap perubahan iklim, dengan melibatkan warga dalam perencanaan ruang hijau.
Source: www.suara.com






